Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Isu Ikutan Amendemen Bisa Bikin Kisruh

📅 Sabtu, 28 Agu 2021, 07:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Isu Ikutan Amendemen Bisa Bikin Kisruh Doc: koran jakarta/m fachri\s
Ket. Anggota Dewan Pembina Perludem, Titi Anggraini

JAKARTA - Wacana amendemen sangat rentan untuk dipolitisasi dan diboncengi isu-isu ikutan seperti masa jabatan presiden 3 periode, penundaan Pemilu 2024, maupun pemilihan presiden oleh MPR. Isu-isu ikutan ini bisa memancing kekisruhan. Pengamatan ini disampaikan, anggota Dewan Pembina Perludem, Titi Anggraini, di Semarang, Jumat (27/8).

Lagi pula, kata Titi, amendemen konstitusi bukan agenda mendesak. Bahkan cenderung bisa kontraproduktif dengan upaya penanganan pandemi Covid-19. Titi memandang penting penyelenggara negara fokus pada penanganan pandemi dengan bekerja optimal mengatasi virus korona dan membawa Indonesia keluar dari situasi krisis akibat Covid-19 saat ini.

"Intrik politik hanya akan membuat kacau," ucap mantan Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) itu. Ia menilai, isu masa jabatan presiden 3 periode, penundaan pemilu, dan pemilihan presiden oleh MPR bisa memancing kekisruhan. Ujungnya, protes dan perlawanan publik karena tidak sesuai dengan konstitusi.

Titi memandang penting semua pihak menjaga iklim kondusif dan situasi politik yang stabil agar penanganan pandemi lebih optimal. Dia berpesan kepada elite politik Tanah Air untuk tidak melempar isu krusial, apalagi sampai bisa memicu kontroversi di tengah masyarakat. "Kalau masyarakat sampai turun ke jalan, semua upaya penanggulangan pandemi Covid-19 akan sia-sia," ujarnya.

Sementara itu, menurut pakar hukum tata Negara, Hamdan Zoelva, isu masa jabatan presiden 3 periode, misalnya sudah bergulir akhir tahun 2019. Begitu pula, isu penundaan Pemilu Serentak 2024. Ini sekarang ditebengkan wacara MPR menambah pasal mengenai kewenangan menetapkan Pokok-Pokok Haluan Negara.

Dia melihat ini sebagai pandangan atau gerakan politik yang berusaha keluar dari kerangka hukum dan ketatanegaraan. Namun, mereka akhirnya gagal total karena tidak ada lampu hijau dari publik. Seandainya ada green light, isu makin diperbesar dan diperluas. Bahkan terus menjadi wacana sehingga publik makin terpengaruh bahwa langkah itu seolah memang diperlukan.

Tidak adanya respons serius dari masyarakat terkait dengan penundaan Pemilu 2024 dan penambahan masa jabatan presiden, menurut Hamdan, menunjukkan rakyat memiliki pemikiran yang sangat jernih dalam pandangan kehidupan bernegara.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Luar Negeri
Toko-toko di Bordeaux bersi...
Luar Negeri
Kenaikan Harga BBM Picu Aks...
Megapolitan
Pasar pangan murah menjangk...

Trisakti Bantu Warga Duri Kosambi Olah Sampah

1.5 jam yang lalu | Deri Henriawan

Megapolitan
Trisakti Bantu Warga Duri K...

Hari Santri Nasional

1.5 jam yang lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

1.5 jam yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.