Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ini Bahaya Toxic Relationship dan Cara Mengakhirinya

📅 Jumat, 19 Apr 2024, 16:32 WIB | Oleh:
Ini Bahaya Toxic Relationship dan Cara Mengakhirinya Doc: Istimewa
Ket. Relasi toxic justru menghambat kesehatan mental dan memandekkan pertumbuhan pribadi seseorang.

Toxic relationship adalah relasi yang penuh tekanan, kekerasan, serta berdampak negatif atas kesehatan mental orang-orang yang terlibat di dalamnya. Sayangnya, relasi toxic bisa saja terjadi pada siapa pun. Apa saja bahayanya? Simak ulasan berikut ini.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Margaretha, mengatakan bahwa salah satu faktor penting dalam kesehatan mental manusia adalah relasi sosial. Relasi sehat akan memberikan perasaan sejahtera dan pertumbuhan pribadi. Sebaliknya, relasi toxic justru menghambat kesehatan mental dan memandekkan pertumbuhan pribadi seseorang.

"Orang yang memiliki relasi sosial yang baik dengan keluarga, teman, dan rekan kerja akan lebih sehat mental. Relasi positif dalam hidup seseorang sifatnya membangun kebahagiaan. Sedangkan, seseorang yang berada dalam lingkaran relasi toxic akan menjadi lebih rentan mengalami stres dan persoalan psikologis," katanya.

Hambat pengembangan diri

Relasi toxic juga akan menghambat pengembangan diri. "Relasi toxic bisa terjadi di lingkungan kerja. Orang bisa bekerja di dalam lingkungan yang tidak memberikan dukungan pengembangan diri, karena hubungan antar person di dalamnya berisi iri, saling sikut, dan menjelekkan satu sama lain. Akhirnya, orang yang berada di dalamnya tidak memiliki semangat untuk berkembang," terangnya.

Relasi toxic juga bisa menjadikan orang menjadi pribadi yang apatis. Padahal salah satu indikator sehat mental adalah menjadi orang yang mampu berkontribusi aktif pada masyarakat. "Jika berada dalam relasi toxic, seseorang sudah kewalahan dengan masalah hidupnya. Sehingga, akhirnya akan cenderung berfokus pada dirinya sendiri serta tidak mampu menunjukkan kepedulian yang tulus pada orang lain di sekitarnya. Orang yang hanya fokus pada diri sendiri akan sulit mencapai kesehatan mental yang sesungguhnya." jelasnya.

Cara mengakhiri

Lebih lanjut, Margaretha mengungkapkan, ada beberapa cara untuk mengakhiri relasi toxic. Pertama, individu perlu memiliki harga diri yang positif. Kita memahami bahwa setiap manusia adalah unik dan berharga. Orang yang menghargai dirinya tidak akan membiarkan dirinya mengalami tekanan dan dampak negatif relasi toxic secara terus-menerus. Sebaliknya, orang yang memiliki harga diri negatif cenderung merasa tidak berdaya atau kesulitan mengakhiri relasi toxic.

Seringkali manusia tidak bisa menghindari situasi toxic relationship. Sebab, situasi ini dapat terjadi dalam hubungan antar rekan kerja, atasan, pasangan, hingga anggota keluarga. "Kita sebaiknya menyadari apakah relasi yang saya miliki ini bernuansa toxic. Sehingga, kita bisa merumuskan apa yang harus kita lakukan atau bagaimana keluar dari situasi negatif ini," ungkapnya.

Kedua, dukungan pada korban relasi toxic dari orang-orang di sekelilingnya serta masyarakat juga tidak kalah penting. Dukungan utamanya bertujuan agar mereka menumbuhkan harga dirinya kembali serta berdaya untuk mengakhiri aspek negatif hubungannya. Bantuan tenaga terlatih juga perlu untuk memberikan dukungan profesional.

"Jika perlu, profesional seperti psikolog, konselor, pekerja sosial, bisa bekerja sebagai helper untuk memberikan masukan tentang pengelolaan masalah relasi. Termasuk cara menghadapi relasi toxic. Penanganannya harus sesuai dengan konteksnya. Misalkan, relasi toxic tergolong KDRT, maka helper akan memberikan konsultasi tentang menghentikan kekerasan serta cara-cara menjaga keselamatan diri. Bahkan juga bisa dibahas apakah perlu melapor pada polisi ataukah perpisahan/bercerai perlu dilakukan untuk menyelesaikan persoalan kekerasan," ucapnya.

Ketiga, rehabilitasi. Korban akan membutuhkan pemulihan setelah berhasil mengakhiri hubungan toxic. Biasanya, pengalaman berada dalam relasi toxic telah memberikan berdampak buruk bagi kesehatan mental manusia, seperti stres, depresi, atau munculnya persoalan perilaku.

"Para korban butuh pemulihan dan pendampingan konseling berkelanjutan. Tujuannya agar mereka lebih aman, tenang, dan percaya diri membangun hidup yang selanjutnya," pungkasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

DPR Merespons Berbagai Isu Terkini

43 menit yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
DPR Merespons Berbagai Isu ...
Luar Negeri
Presiden Marcos Jr Desak Pa...
Luar Negeri
Thaksin Shinawatra Diberi P...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.