Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video Infografis

Geliat Pengrajin Keju Mozzarella, Jatim Bangkit dari Dampak PMK

Foto : Koran Jakarta / Selocahyo

Pekerja mengolah susu sapi dalam proses pembuatan Mozzarella di Unit Produksi Olahan Keju, di Dusun Brau Atas, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, baru-baru ini.

A   A   A   Pengaturan Font

SURABAYA - Siapa tak kenal mozzarella, keju lumer nan menggiurkan khas Italia. Meski sama-sama berasal dari susu sapi yang di pasteurisasi, mozzarella dibuat tanpa melalui proses pematangan, melainkan diputar atau dipotong.

Kandungan lemaknya yang tinggi membuat keju ini memiliki sensasi gurih yang kuat, kerap menjadi pelengkap berbagai jenis makanan 'kekinian'.

Bagi Anda menyukai mozzarella, tentu menarik bila dapat melihat proses pembuatannnya.

Tak perlu jauh-jauh ke Naples, Italia, tempat mozzarella pertama kali dibuat pada abad ke 12, cukup datang ke Kota Batu, Jawa Timur, kita dapat melihat langsung produksi keju mozzarella milik warga.

Adalah Dapin Marendra, pemilik unit produksi olahan keju Mozzarella, "Cheezu", yang merintis usahanya sejak 2017 di Dusun Brau Atas, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji. Melihat produksi susu sapi yang melimpah di Kota Batu, dan ilmu tata boga yang ia kuasai, pria berusia 37 tahun ini memberanikan diri memulai kreasi produk olahan ini.

Dengan kapasitas produksi 1 ton per bulan, Mozzarella buatannya telah dipasarkan hingga ke Surabaya, Jember, Lumajang, Blora, Jakarta, Bali dan Kalimantan.

"Keunggulan Mozzarella kami memiliki cita rasa lebih gurih dibanding produk impor yang cenderung 'plain', sehingga cocok untuk usaha kuliner seperti pizza lokal, ayam geprek dan lainnya,' tutur dia, baru-baru ini.

Dia mengisahkan, sebelum wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) merebak di Jawa Timur, produksi susu di Dusun Brau yang dikenal sebagai kampung sapi, bisa mencapai 1.300 liter perhari, sehingga dapat menghasilkan keju Mozzarella hinhga mencapai 4 ton per bulan.

"Setelah wabah tuntas, suplai bahan baku susu masih belum pulih, sekarang sekitar seribu liter per hari. Ini membuat produksi kita ikut turun," ungkapnya.

Namun Dapin optimis bahwa pemulihan yang sekarang sedang berjalan akan mengembalikan tingkat usahanya seperti sebelum wabah PMK merebak pada Mei 2022.

"Sebetulnya sekarang sudah cukup menggembirakan karena dulu saat puncak wabah, kami sempat berhenti total produksi karena tidak ada suplai bahan baku. Bahkan tiga pekerja kami harus mencari pekerjaan lain," tutur pemilik usaha yang kini membawahi lima karyawan ini.

Senada, kalangan peternak membenarkan bahwa saat ini usaha mereka sedang dalam tahap pemulihan. Ketua Kelompok Tani Margomulyo, Munir Khan, mengatakan, sebelum PMK merebak, warga Dusun Brau Atas, yang mendapat julukan kampung susu tersebut memiliki 1.200 ekor sapi perah dengan kapasitas produksi susu 7.500 liter per hari.

"Sempat produksi susu kami turun drastis karena PMK, ada sebagian mati, sebagian dijual karena panik. Sekarang sudah membaik, sekitar 70-80 persen menjadi 5.000 liter per hari," katanya.

"Sebetulnya kebutuhan pasar sampai 10 ribu liter, tapi kami mengutamakan permintaan lokal dulu. Pekerjaan rumah kami sekarang adalah meningkatkan produksi susu," ungkapnya.

Secara terpisah, Kepala Dinas Peternakan Jatim, Indyah Aryani, menjelaskan, upaya pemulihan dari dampak PMK memang membutuhkan waktu, mengingat ganasnya wabah dan besarnya jumlah ternak di Jatim.

"Mereka sempat terinfeksi, lalu diobati sembuh. Tapi sapi perah ini putingnya terluka, sehingga sakit tidak mau diperah, dan tidak mau makan," ujarnya.

"Target pulih kita harap secepatnya, tapi itu butuh waktu, kami berharap setidaknya 2024. Tetapi itu juga kita butuh tambahan betina-betina harus bunting, karena laktasi ini dari sapi yang beranak. Maka IB kita push, agar ada laktasi untuk menambah produksi susu kita," ungkapnya.

Selain pengobatan, sapi yang sakit, untuk kembali fit (bugar) kembali butuh proses, sehingga asupan nutrisi harus bagus.

"Pemulihan harus pakannya baik, kita sudah berikan subsidi konsentrat (pakan ternak) 25 ribu ton untuk recovery seluruh peternak di Jatim".

"Karena badannya harus fit. Kemarin untuk melek saja matanya susah ,sekarang kondisinya sudah mulai klimis (segar)," tutur Indyah.


Redaktur : Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis : Selocahyo Basoeki Utomo S

Komentar

Komentar
()

Top