
Dokter: Diet Tidak Nyaman Bisa Sebabkan Risiko ‘Stress Eating’
Dokter spesialis gizi dr. Mulianah Daya, M.Gizi, Sp.GK saat menjelaskan sindrom Yo-yo dalam diskusi "Diet Itu Mesti Nyaman", di Jakarta, pada Kamis (27/2)
Foto: ANTARA/Sri Dewi LarasatiJAKARTA - Dokter spesialis gizi klinik lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr. Mulianah Daya, M.Gizi, Sp.GK menyampaikan menjalani diet tidak nyaman bisa menyebabkan risiko stress eating hingga gangguan psikologi.
Stress eating merupakan kecenderungan seseorang untuk mengalihkan rasa yang menyebabkan stres dengan makan berlebih.
Menurut Mulianah saat ditemui di Jakarta, Kamis (27/2), stress eating sering terjadi ketika seseorang merasa dietnya terlalu membatasi dan tidak menyenangkan. Diet tidak nyaman juga salah satunya karena mengikuti teman, meskipun diri sendiri tidak menikmati jenis diet tersebut.
"Stress eating itu salah satunya dietnya tidak nyaman. Misalnya mungkin terlalu limitation (pembatasan) diet yang berlebihan, terlalu takut seperti itu, saya pokoknya tidak boleh makan tepung, mangga sama sekali selama diet," kata dia.
"Kalau orang terlalu restriktif diet, dietnya gak nyaman, gap hunger (kelaparan) atau gap trapping-nya jadi tinggi, sehingga hormon stres-nya jadi tinggi juga. Hormon stres relatifnya ke hormon lapar," lanjut dia.
Dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Mayapada Tangerang ini mengatakan saat seseorang mengalami stres dan dilampiaskan dengan mengonsumsi makanan berlebih tidak boleh dinormalisasi.
"Sering nih saya temukan pasien seperti ini, 'yah dok lagi stres jadi saya makan banyak deh, tidak apa-apa ya dok'. Jangan dinormalisasi karena itu bukan sesuatu yang baik untuk kesehatan," ujar dia.
Menurut dia, menjalani diet secara ketat atau tidak nyaman juga berisko mengalami eating disorder (gangguan makan) yang bisa memengaruhi psikologis.
"Jadi ketakutan melihat makanan, saking terlalu ketatnya dietnya. Takut banget melihat nasi, setiap kali makan nasi langsung ke kamar mandi dimuntahin. Karena eating disorder ini masalahnya sudah gangguan psikologi, yang harus mendapatkan pendampingan dari psikologi," jelas dia.
Lebih lanjut dia menambahkan imbalance nutrition atau ketidakseimbangan nutrisi juga bisa dipicu karena menjalani diet yang tidak nyaman.
"Nah, diet yang tidak nyaman diet yang terlalu restriktif ujung-ujungnya juga terjadi yang namanya imbalance nutrition, antara nutrisinya jadi terlalu kurang atau nutrisinya jadi kelebihan. Apalagi karena stress eating ujung-ujungnya beratnya gak turun-turun juga," ujar dia. Ant/I-1
Berita Trending
- 1 Milan dan Bologna Berebut Posisi Empat Besar
- 2 Harga Cabai Makin Pedas Saja Jelang Ramadan, Pemerintah Harus Segera Intervensi Pasar Biar Masyarakat Tak Terbebani
- 3 Perbankan, Pionir Dalam Transisi Indonesia Menuju Ekonomi Rendah Karbon
- 4 Peringati Hari Peduli Sampah Nasional, Kementerian LH Gelar Aksi Bersih Hutan Bakau Muaragembong Bekasi
- 5 Digitalisasi dan Kolaborasi, Kanal Pupuk Indonesia Lebih Dekat Dengan Petani