Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Edisi Weekend Foto Video Infografis
Rekayasa Genetik

Bisnis Mencit di Tiongkok Amat Menjanjikan

Foto : AFP/JIJI PRESS
A   A   A   Pengaturan Font

BEIJING - Upaya Presiden Xi Jinping, untuk menjadi negaranya sebagai ujung tombak inovasi biomedis pada 2025, telah mendorong Tiongkok untuk terus menemukan obat dan jadi yang terdepan di bidang riset genetika.

Akibat dari dorongan itu menjadikan permintaan bagi hewan percobaan yang bisa menirukan penyakit-penyakit manusia terus meningkat hingga 7,5 persen per tahunnya.

Peningkatan permintaan atas hewan percobaan, terutama hewan pengerat, dirasakan oleh perusahaan yang ada di Provinsi Guangzhou, Tiongkok selatan, Cyagen Biosciences Inc, dimana perusahaan ini terus mengembangbiakkan mencit dan tikus lewat rekayasa genetik untuk dijual.

Bisnis mencit dan tikus rekayasa genetik tak bisa dianggap enteng karena sepasang mencit atau tikus rekayasa genetik bisa berharga 17 ribu dollar AS. Diperkirakan bisnis ini akan terus meroket dengan perkiraan keuntungan hingga 1,59 miliar dollar AS pada 2022.

"Cyagen saat ini memiliki 8 ribu ekor mencit dan 2.500 tikus dikembangbiakkan di fasilitas bebas penyakit pinggiran Guangzhou. Cyagen juga akan mengubah bekas perusahaan konveksi di pinggiran Shanghai untuk jadi laboratorium pembiakkan sekitar 100 ribu hewan rekayasa genetik untuk dijual pada universitas dan perusahaan farmasi," demikian pernyataan pemimpin Cyagen, Lance Han, 52 tahun.

Ditambahkan oleh Han, bahwa hewan percobaan yang amat mahal saat ini adalah spesies tikus rumah, Mus musculus, karena rangkaian gen dari spesies tikus ini kerap dipergunakan untuk meneliti penyakit mulai dari diabetes hingga kanker prostat.

Walau masih merupakan perusahaan rintisan, namun bisnis hewan percobaan di Tiongkok amat membantu terwujudnya ambisi Tiongkok untuk mengalahkan perusahaan multinasional di bidang terobosan farmasi. Bisnis biomedis ini bahkan banyak dilirik investor.

Tak hanya itu, banyak perusahaan asing juga menjalin kerja sama dengan perusahaan lokal di Tiongkok untuk mengembangbiakkan hewan percobaan seperti kemitraan yang dilakukan Cyagen dengan perusahaan asal Amerika Serikat (AS), Taconic Biosciences Inc.

Risiko Bisnis

Walau amat menjanjikan, bisnis rekayasa genetik di Tiongkok bukan tanpa risiko, apalagi tahun lalu dilaporkan telah terjadi kontroversi percobaan rekayasa genetik ilegal terhadap manusia yang dilakukan oleh seorang profesor di Shenzhen.

Riset rekayasa genetik yang merupakan bagian dari hak intelektual juga amat rentan terhadap tuntutan hukum dan pencurian, apalagi jika terjadi kemitraan antarperusahaan maupun kerja sama riset dengan institusi maupun studi di perguruan tinggi, serta persaingan bisnis tak sehat.
ang/Bloomberg/I-1


Redaktur : Ilham Sudrajat

Komentar

Komentar
()

Top