ADB Prediksi PDB Pasifik Akan Tumbuh 3,3 Persen pada 2024
📅 Jumat, 16 Agu 2024, 00:45 WIB | Oleh: Eko S
Doc: ANTARA/XINHUA/ROUELLE UMALI
MANILA - Ekonomi subkawasan Pasifik diperkirakan akan tumbuh 3,3 persen tahun ini dan 4 persen pada 2025, menurut laporan Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) yang dirilis pada hari Rabu (14/8).
Pacific Economic Monitor (PEM) mengatakan pemulihan ekstraksi sumber daya di Papua Nugini, kedatangan pengunjung yang stabil di sebagian besar perekonomian-perekonomian yang bergantung pada pariwisata, dan stimulus dari proyek-proyek infrastruktur publik akan mendorong pertumbuhan.
Namun, laporan tersebut juga memperingatkan soal beberapa risiko negatif, termasuk krisis tenaga kerja, berkurangnya ruang fiskal, eksposur berkelanjutan terhadap risiko bencana, serta volatilitas harga komoditas global dan rantai pasokan.
Seperti dikutip dari Antara, PEM terbaru, tinjauan dua tahunan yang dilakukan ADB terhadap perkembangan ekonomi dan isu-isu kebijakan 14 perekonomian berkembang di Pasifik, mengeksplorasi berbagai aspek dalam membangun ketahanan di Pasifik.
Laporan itu menyoroti pembangunan infrastruktur yang tangguh, memperkuat ketahanan iklim, dan memperkuat manajemen keuangan publik dalam konteks Pasifik yang unik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kembangkan Solusi
Ringkasan kebijakan lainnya menyoroti perlunya memahami kerentanan dan kerapuhan negara-negara kepulauan kecil yang sedang berkembang di Pasifik untuk mengembangkan solusi bagi ketangguhan.
Sebelumnya, ADB menaikkan prakiraan pertumbuhan ekonomi pada 2024 di kawasan Asia yang sedang berkembang dan Pasifik menjadi 5 persen dari proyeksi sebelumnya 4,9 persen seiring peningkatan ekspor regional dan permintaan domestik yang masih kuat.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Sebagian besar Asia dan Pasifik merasakan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dibandingkan dengan paruh kedua tahun lalu," kata Kepala Ekonom ADB, Albert Park.
Selain itu, prakiraan pertumbuhan ekonomi untuk kawasan itu pada tahun depan dipertahankan sebesar 4,9 persen.
Menurut edisi terbaru Asian Development Outlook (ADO), inflasi diperkirakan akan melambat ke 2,9 persen tahun ini di tengah meredanya tekanan harga pangan global dan berlanjutnya pengaruh suku bunga yang lebih tinggi.
Setelah pemulihan pascapandemi yang didorong terutama oleh permintaan domestik, ekspor kembali meningkat dan membantu menggerakkan pertumbuhan ekonomi kawasan tersebut.
Kuatnya permintaan global akan barang elektronik, terutama semikonduktor untuk aplikasi teknologi tinggi dan kecerdasan buatan, meningkatkan ekspor dari sejumlah perekonomian Asia.
"Fundamental kawasan ini masih kuat, tetapi para pembuat kebijakan tetap perlu memperhatikan sejumlah risiko yang dapat berdampak terhadap proyeksi ini, mulai dari ketidakpastian terkait hasil pemilu di perekonomian besar, sampai keputusan penetapan suku bunga dan ketegangan geopolitik," ujar Albert.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!