Tanpa Diversifikasi, Indonesia Rentan Krisis Energi
Senin, 09 Nov 2026, 01:00 WIBPengembangan berbagai sumber energi, termasuk energi baru dan terbarukan, perlu dipercepat untuk menjamin keberlanjutan pasokan sekaligus memperkuat kemandirian energi.
JAKARTA â Diversifikasi sumber energi menjadi kunci memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian pasokan dan fluktuasi harga energi global. Ketergantungan pada sumber energi tertentu tak hanya meningkatkan kerentanan terhadap gejolak eksternal, tetapi juga membatasi fleksibilitas pemenuhan kebutuhan domestik.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Surono mengatakan diversifikasi sumber energi penting dalam mencapai ketahanan energi. "Diversifikasi sumber energi penting untuk mencapai ketahanan energi karena dapat mengurangi risiko ketergantungan pada sumber tertentu," ujar Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Surono pada kegiatan Sosialisasi Kebijakan Energi Nasional di Universitas Lampung di Bandarlampung, Jumat (6/11).
Dia melanjutkan dengan diversifikasi juga dapat mengurangi dampak volatilitas harga energi global, mendukung pemanfaatan sumber energi domestik, dan meningkatkan keandalan sistem energi. "Target bauran energi baru serta terbarukan (EBT) di 2060 itu berada pada kisaran 70-72 persen. Ini telah mempertimbangkan optimalisasi seluruh potensi energi dan keterbauran sejenisnya yaitu energi surya, hidro, bioenergi, panas bumi, nuklir, dan energi terbarukan lainnya seperti energi pasang surut gelombang laut, dan arus laut," jelasnya.
Dia mengatakan bila bauran energi primer dari energi baru terbarukan diproyeksikan naik, sebaliknya untuk porsi bauran energi batu bara diproyeksikan mengalami penurunan. Bauran energi dari batu bara pada 2030 sekitar 40,7 persen, diproyeksikan turun pada 2040 menjadi 28,9 persen, pada 2050 terus turun menjadi 19,1 persen, dan pada 2060 turun menjadi 7,8 persen.
"Angka 38,7 persen kebutuhan minyak mentah kilang domestik pada 2025 dipenuhi dari impor, 34,2 persen kebutuhan BBM domestik pada 2025 dipenuhi dari impor, dan 80,6 persen kebutuhan LPG domestik di 2025 dipenuhi dari impor," ucap dia.
Menurut dia, oleh karena itu perlu dilakukan diversifikasi sumber dan jalur impor energi agar tidak bergantung pada sumber tertentu. Hal tersebut menjadi satu dari empat langkah prioritas untuk mengurangi ketergantungan akan impor.
Penguatan Stok
Pakar ekonomi energi dan pasar minyak global, Dr. Anas Alhajji menilai penguatan ketahanan pasokan energi diperlukan oleh Indonesia di tengah dinamika geopolitik di Timur Tengah yang memberikan tekanan lebih luas terhadap perekonomian global.
âBagi Indonesia sebagai negara dengan kebutuhan energi dan jumlah penduduk besar, kenaikan harga energi internasional dapat merembet ke biaya bahan bakar, LPG rumah tangga, transportasi, hingga kebutuhan industri,â kata Alhajji dalam keterangan bersama Abu Dhabi International Petroleum Exhibition and Conference (ADIPEC) 2026 yang diterima di Jakarta, Kamis pekan lalu.
Lebih lanjut, Alhajji juga mengingatkan bahwa kekeringan dan penurunan debit air sungai dapat memperburuk kondisi produksi di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Salah satu sektor yang berpotensi terdampak adalah produksi bahan baku biodiesel berbasis minyak kelapa sawit.
âKetika produksi bahan baku terganggu, kemampuan pasokan biodiesel untuk mendukung kebutuhan bahan bakar domestik juga dapat menghadapi tekanan,â ujarnya.
Selain minyak, dia memperkirakan pasar gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) akan menghadapi tantangan geopolitik yang semakin besar. Menurut dia, LNG kini memiliki peran yang semakin strategis dalam kebijakan luar negeri sejumlah negara.
Permintaan LNG terus meningkat seiring ekspansi industri kecerdasan buatan (AI) dan pembangunan pusat data (data center) yang membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar. âBagi negara-negara Asia, termasuk Indonesia, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko persaingan harga dan biaya pengadaan LNG, terutama ketika pasokan dari kawasan Timur Tengah belum sepenuhnya pulih,â kata Alhajji.
Diversifikasi, lanjut dia, menjadi kunci ketahanan energi. Alhajji menilai Indonesia perlu menerapkan strategi ketahanan energi secara menyeluruh, bukan hanya mengandalkan satu kebijakan.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara, Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Seperti Apa Akhir Kisah Manchester City? Apakah Degradasi dari Liga Premier? Sungguh Petir di Siang Bolong!
-
Mengoptimalkan Armada Pengangkut 90 Ton Sampah per Hari
-
PT Wook dan Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan Rp143 Juta untuk Penyintas Bencana
-
Pemprov DKI Gandeng BRI Finance Kelola Sampah dari Rumah
-
Progres Tembus 79%, Tol Semarang-Demak Anti Banjir Rob Ditarget Nataru 2027 Bisa Dilintasi!
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.