Tradisi Minum Kopi Warga Osing Banyuwangi Sebagai Simbol Persaudaraan

Minggu, 08 Nov 2026, 22:37 WIB

Banyuwangi - Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyebut tradisi minum kopi masyarakat Osing yang dikemas dalam Festival Ngopi Sepuluh Ewu Cangkir di Desa Kemiren, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menjadi simbol persaudaraan.

"Festival ini menjadi bagian dari upaya menjaga semangat gotong royong, masyarakat ikhlas dan senang menyuguhkan kopi secara gratis kepada siapa saja, bahkan kepada orang yang belum dikenal. Meski sederhana, cara ini menjadi kekuatan untuk merajut persaudaraan dan persatuan," kata Bupati Ipuk di Banyuwangi, Minggu.

Ket. Foto: Warga minum kopi bersama dalam Festival Ngopi Sepuluh Ewu Cangkir di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, jawa Timur. Sabtu (8/11/2026). — Sumber: Antara

Ia mengapresiasi masyarakat Desa Kemiren yang konsisten menjaga tradisi leluhur hingga desa tersebut dikenal luas sebagai desa adat wisata, dan pemerintah daerah setempat akan terus mendukung pelestarian budaya sekaligus pengembangan Desa Kemiren.

Menurut Ipuk, memasuki tahun ke-13 sejak pertama digelar pada 2014, festival ini menjadi salah satu agenda budaya yang dinanti wisatawan.

"Pelaksanaan Festival Ngopi Sepuluh Ewu Cangkir 2026 yang digelar pada Sabtu (7/11) malam, dihadiri ribuan pengunjung, termasuk wisatawan mancanegara, memadati jalan utama desa dan disambut hangat oleh warga di halaman setiap rumah," kata Ipuk.

Sementara itu, Kepala Desa Kemiren, Kecamatan Glagah Muhammad Arifin mengemukakan bahwa Festival Ngopi Sepuluh Ewu bukan sekadar menyajikan ribuan cangkir kopi, melainkan menggambarkan karakter masyarakat Suku Osing (masyarakat asli Banyuwangi) yang menjunjung tinggi keramahan dalam menerima tamu.

"Kami diajarkan suguh, gupuh, lungguh dalam menerima tamu. Suguh berarti memberikan suguhan atau hidangan kepada tamu, meski hanya berupa minuman, gupuh bermakna antusias dan sigap menyambut kedatangan tamu, sedangkan lungguh berarti menyediakan tempat duduk yang layak agar tamu merasa nyaman," katanya.

Ngopi Sepuluh Ewu ini merupakan wujud kearifan lokal, budaya dan adat istiadat masyarakat Osing dalam menerima tamu. "Kearifan ini perlu terus kami rawat dan wariskan kepada anak cucu," katanya menambahkan.

  • Lestarikan Tradisi

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.