Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Menaker Ungkap Potensi Ekonomi Sirkular, Jutaan Lapangan Kerja Baru Bisa Terbuka.

8 Minggu, 08 Nov 2026, 20:03 WIB | Oleh:
Menaker Ungkap Potensi Ekonomi Sirkular, Jutaan Lapangan Kerja Baru Bisa Terbuka. Menaker Ungkap Potensi Ekonomi Sirkular, Jutaan Lapangan Kerja Baru Bisa Terbuka. Doc: Humas Kemnaker
Ket. Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli. potensi ekonomi sirkular di Indonesia cukup besar. Menurutnya, ekonomi sirkular berpotensi menambah 4,4 juta tenaga kerja hingga 2030, serta memberikan tambahan produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp638 triliun. Potensi tersebut terutama berada pada sektor pangan, plastik kemasan, elektronik, konstruksi, dan tekstil.

Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menyatakan transformasi menuju ekonomi sirkular (circular economy) membuka peluang penciptaan jutaan lapangan kerja baru di Indonesia. Peluang tersebut muncul seiring perubahan model industri dari pola ekonomi linear yang menghasilkan limbah menjadi ekonomi sirkular yang mengoptimalkan pemanfaatan kembali bahan baku dan produk agar memiliki nilai tambah.

“Circular economy ini sebenarnya sudah lama kita dengar. Esensinya adalah bagaimana kita menghilangkan waste atau limbah melalui recycle, reuse, atau intervensi terhadap materialnya sehingga limbah semakin kecil dan semakin sedikit. Ini menjadi peluang,” ujar Yassierli saat menyampaikan keynote speech pada Industrial Engineering Festival of Cirebon (IEFC) ITB 2026, di Kampus ITB Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (7/11/2026).

Menurut Yassierli, potensi ekonomi sirkular di Indonesia cukup besar. Menurutnya, ekonomi sirkular berpotensi menambah 4,4 juta tenaga kerja hingga 2030, serta memberikan tambahan produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp638 triliun. Potensi tersebut terutama berada pada sektor pangan, plastik kemasan, elektronik, konstruksi, dan tekstil.

Ia mencontohkan, berbagai material yang selama ini dianggap sebagai limbah sebenarnya masih dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Salah satunya adalah bagian ikan seperti kepala, sirip, dan ekor yang tidak dimanfaatkan oleh industri pengolahan ikan, tetapi dapat diolah kembali menjadi tepung. Begitu pula berbagai komponen kelapa sawit dan kelapa yang memiliki potensi pemanfaatan lebih luas.

“Orang membuang, tetapi kemudian Anda mengambil. Jadi, Anda tidak perlu bayar. Beberapa hari yang lalu saya datang ke sebuah pabrik pengolahan ikan. Kepala, sirip, ekor itu dibuang. Bagi mereka sampah. Tapi bagi orang lain ini ditampung dan kemudian dari situ bisa dibuat pabrik tepung. Banyak hal sebenarnya yang bisa dilakukan,” jelasnya.

Yassierli menilai peluang tersebut membutuhkan kolaborasi antara pelaku usaha dan tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu, terutama dalam pengembangan teknologi pengolahan material. Menurutnya, mahasiswa teknik industri perlu menggandeng bidang keilmuan lain, seperti farmasi dan teknik kimia, agar potensi limbah dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan peluang bisnis.

Namun, ia mengingatkan bahwa peluang ekonomi sirkular tidak cukup hanya dilihat dari aspek penciptaan usaha dan lapangan kerja. Pekerjaan yang berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan juga harus memenuhi prinsip pekerjaan layak (decent work), termasuk memberikan upah wajar, perlindungan sosial, serta keselamatan dan kesehatan kerja.

“Green jobs itu tidak hanya hijau, tetapi juga harus layak. Jangan sampai kita membangun ekosistem yang ramah lingkungan, tetapi pekerjaannya tidak terlindungi dan gajinya jauh di bawah upah minimum,” tegasnya.

Ia mencontohkan pekerja pemilah sampah yang selama ini banyak berada di sektor informal. Padahal, mereka memiliki kontribusi penting dalam ekosistem ekonomi sirkular. Karena itu, pemerintah berupaya memperkuat pengakuan profesi pemilah sampah, meningkatkan keterampilan mereka agar mampu mengolah material menjadi produk bernilai tambah, serta memperluas perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan.

Untuk menangkap peluang tersebut, Yassierli menekankan pentingnya menyiapkan kompetensi tenaga kerja melalui peningkatan keterampilan (upskilling) dan pelatihan ulang (reskilling). Kemnaker menjalankan berbagai program, antara lain Pelatihan Vokasi Nasional dan Pemagangan Nasional (MagangHub), agar tenaga kerja memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri yang terus berubah.

“Peluangnya ada di depan mata. Jangan sampai orang Indonesia hanya menjadi pengamat. Kita harus menyiapkan tenaga kerja yang kompeten agar mampu mengambil peluang dari perubahan industri ini. Dan yang tidak kalah penting, kita berkewajiban melindungi mereka dari aspek kesejahteraan, keselamatan dan kesehatan kerja, dan jaminan sosial,” pungkasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Angkatan Darat AS Berlatih Menggali Kuburan Massal untuk Skenario Perang dengan Banyak Korban
    Apa mungkin AS akan melakukan invasi darat ke ...
  • Satgas Penertiban Kawasan Hutan Selidiki Perusahaan AK, Jejak Hubungan dengan Oknum Aparat Didalami
    Ditanya siapa ak itu kq malah balik bertanya? ...
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Mentan Tegaskan Stok Beras ...
Megapolitan
IQAir: Kondisi Polusi Jakar...

Janice Tjen Lolos ke Final Chennai Open

1.5 jam yang lalu | Ilham Sudrajat

Olahraga
Janice Tjen Lolos ke Final ...

Subsidi Tarif LRT Jabodebek Dipastikan Berlanjut

1.5 jam yang lalu | Ilham Sudrajat

Megapolitan
Subsidi Tarif LRT Jabodebek...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Mengagetkan Fakta Ini, Hampir 30 Persen Penduduk Kanada Alami Kesulitan Keuangan Rumah Tangga

Mengagetkan Fakta Ini, Hampir 30 Persen Penduduk Kanada Alami Kesulitan Keuangan Rumah Tangga

08 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.