KLH Ajak Masyarakat Jaga Keanekaragaman Hayati
Minggu, 08 Nov 2026, 19:15 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: Humas KLH
JAKARTA – Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat mengajak masyarakat berperan aktif menjaga keanekaragaman hayati Indonesia. Masyarakat diharapkan berperan aktif menjaga kekayakaan hayati melalui tindakan sederhana di lingkungan sekitar.
Ajakan tersebut disampaikannya dalam momentum peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2026 yang diperingati setiap 5 November. Tahun ini, peringatan mengusung tema “Dari Cinta Menjadi Aksi: Bersama Melestarikan Keanekaragaman Hayati Indonesia”.
Jumhur mengatakan, kecintaan terhadap alam harus diwujudkan melalui tindakan nyata dengan melibatkan sejumlah pihak. Baik seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga hingga pemerintah daerah.
“Peringatan ini menjadi kesempatan bagi kita untuk menerjemahkan komitmen global pasca-CBD COP-17 ke dalam aksi nyata di tingkat nasional dan daerah. Semangat ‘Dari Cinta Menjadi Aksi’ perlu diwujudkan melalui penguatan kolaborasi seluruh pemegang kepentingan dalam melindungi spesies, menjaga habitat,” ujar Jumhur dalam keterangannya, Minggu (811).
Menurut dia, pelestarian flora dan fauna tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau kegiatan konservasi di kawasan hutan. Upaya tersebut juga dapat dimulai dari kebiasaan masyarakat dalam menjaga lingkungan dan ruang hijau di sekitar tempat tinggal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Peringatan HCPSN tahun ini juga menjadi momentum untuk menindaklanjuti komitmen global. Terutama setelah Konferensi Para Pihak ke-17 Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD COP-17) di Yerevan, Armenia.
Menurut dia, sebagai salah satu negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati terbesar di dunia, Indonesia menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari tekanan terhadap habitat alami hingga perdagangan ilegal satwa.
“Karena itu, perlindungan keanekaragaman hayati membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Termasuk akademisi, dunia usaha, generasi muda, dan masyarakat di tingkat tapak,” ucap Jumhur.
Dalam rangkaian kampanye edukasi publik HCPSN 2026, KLH memperkenalkan dua karakter maskot yakni TORU dan NUR. Keduanya merepresentasikan keterkaitan antara satwa, tumbuhan, dan habitat dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
TORU terinspirasi dari Orang Utan Tapanuli (Pongo tapanuliensis). Hewan tersebut merupakan primata endemik Indonesia yang berstatus kritis daan hidup di Ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara.
Sementara NUR terinspirasi dari Sampinur Bunga (Dacrycarpus imbricatus). Salah satu jenis flora hutan yang menjadi bagian penting dalam menopang kehidupan satwa liar.
Melalui kedua maskot tersebut, KLH ingin mengedukasi masyarakat bahwa perlindungan satwa tidak cukup hanya dengan menjaga keberadaan spesiesnya. Habitat, sumber pangan, serta ekosistem tempat satwa hidup juga harus dilestarikan. ils/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!