Anak-anak Paling Rentan, Kasus Campak di AS Tembus 5.182, Tertinggi dalam 35 Tahun

Minggu, 08 Nov 2026, 00:03 WIB

WASHINGTON DC – Amerika Serikat menghadapi lonjakan kasus campak yang mengkhawatirkan. Sepanjang 2026, jumlah kasus terkonfirmasi telah mencapai 5.182 orang. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam 35 tahun terakhir, sekaligus menandai memburuknya penyebaran penyakit menular yang sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi.

Data yang dirilis Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menunjukkan, jumlah kasus hingga November 2026 bahkan telah melampaui dua kali lipat total kasus sepanjang 2025 yang tercatat sebanyak 2.289 kasus.

Ket. Foto: CDC mencatat empat kematian terkait campak sepanjang 2026. — Sumber: Istimewa

Dilansir dari Al Jazeera, Sabtu (7/11), kelompok anak-anak dan remaja menjadi pihak yang paling banyak terdampak. Mereka menyumbang hampir 60 persen dari seluruh kasus terkonfirmasi.

Rinciannya, anak-anak berusia di bawah lima tahun mencakup 18 persen kasus, sementara kelompok usia lima hingga 19 tahun menyumbang 41 persen. Dengan demikian, sekitar 59 persen penderita campak di AS merupakan anak-anak dan remaja.

Dari keseluruhan kasus tersebut, sebanyak 4.993 kasus berkaitan dengan kejadian wabah yang sedang berlangsung.

Lonjakan ini terjadi bersamaan dengan penurunan cakupan vaksinasi anak-anak di Amerika Serikat. Data CDC memperlihatkan tingkat vaksinasi anak taman kanak-kanak turun dari 95,2 persen pada tahun ajaran 2019-2020 menjadi hanya 92,4 persen pada tahun ajaran 2025-2026.

Penurunan tersebut menjadi perhatian karena campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular. Berkurangnya cakupan imunisasi dapat memperbesar peluang virus menyebar, terutama di komunitas yang memiliki tingkat vaksinasi rendah.

Perselisihan soal jumlah kematian

Di tengah peningkatan kasus, muncul persoalan lain mengenai penghitungan korban meninggal akibat campak.

CDC mencatat empat kematian terkait campak sepanjang 2026. Namun, angka tersebut berbeda dengan laporan otoritas kesehatan negara bagian, terutama Pennsylvania yang menjadi wilayah paling parah terdampak wabah.

Departemen Kesehatan Pennsylvania melaporkan enam kematian dan 1.487 kasus campak sepanjang tahun ini.

Perbedaan angka tersebut memicu perselisihan antara Gubernur Pennsylvania Josh Shapiro dan Menteri Kesehatan AS Robert F Kennedy Jr mengenai standar penetapan kematian yang berkaitan dengan campak.

Pennsylvania menggunakan pendekatan dengan memasukkan kematian seseorang yang telah terkonfirmasi menderita campak apabila meninggal dalam kurun waktu 30 hari setelah gejala muncul, kecuali terdapat bukti bahwa kematian disebabkan oleh faktor lain yang tidak berkaitan.

Kontroversi semakin mencuat setelah CDC sempat memasukkan dua kematian warga Pennsylvania yang tidak divaksinasi ke dalam statistik nasional pada Agustus. Namun, kedua kematian tersebut kemudian dikeluarkan dari penghitungan setelah Kennedy mempertanyakan apakah campak benar-benar menjadi penyebab atau turut berkontribusi terhadap kematian mereka.

CDC menyatakan sedang bekerja sama dengan Dewan Epidemiologi Negara Bagian dan Wilayah AS untuk menyusun definisi standar mengenai kematian akibat campak.

Namun, sejumlah pakar penyakit menular memperingatkan bahwa perbedaan metode penghitungan tersebut berpotensi mengaburkan gambaran sebenarnya mengenai dampak wabah.

Para ahli epidemiologi yang diwawancarai Al Jazeera menyebut pencatatan kematian yang berkaitan dengan campak telah lama menjadi praktik yang digunakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) maupun CDC.

Status eliminasi campak AS terancam

Lonjakan kasus ini juga menjadi perhatian karena Amerika Serikat telah dinyatakan berhasil mengeliminasi penularan campak secara berkelanjutan lebih dari dua dekade lalu.

Namun, status eliminasi tersebut bukan berarti virus campak benar-benar menghilang. Virus masih dapat masuk melalui kasus impor dan kembali menyebar ketika menjumpai komunitas dengan tingkat kekebalan yang rendah.

Fenomena serupa juga terjadi di berbagai belahan dunia. Peningkatan kasus campak dilaporkan di sejumlah negara, terutama di komunitas yang memiliki keraguan terhadap vaksinasi maupun wilayah dengan keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan.

Para ahli mengingatkan bahwa rendahnya cakupan vaksinasi di suatu wilayah tidak hanya membahayakan penduduk setempat. Penularan dapat melintasi batas negara dan membuat masyarakat di lokasi yang sangat jauh sekalipun ikut menghadapi risiko.

Karena itu, pengendalian campak tidak cukup dilakukan oleh satu negara. Mempertahankan cakupan imunisasi dan menutup kesenjangan vaksinasi menjadi bagian penting dari upaya melindungi kesehatan masyarakat secara global.

  • Campak

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.