Surplus Perdagangan Menyusut, Alarm bagi Stabilitas Ekonomi Nasional
Jumat, 06 Nov 2026, 03:15 WIB» Kenaikan impor migas akibat peningkatan harga minyak dunia berpotensi menambah beban ekonomi Indonesia yang masih menjadi pengimpor bersih minyak.
JAKARTA - Penyusutan surplus perdagangan Indonesia perlu diantisipasi karena berpotensi memperlebar defisit neraca transaksi berjalan dan meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Penguatan ekspor, diversifikasi pasar, serta peningkatan kapasitas industri domestik dinilai menjadi kunci menjaga ketahanan eksternal perekonomian nasional.
Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, mengatakan surplus perdagangan barang selama ini menjadi penopang penting untuk mengimbangi defisit pada komponen lain dalam neraca transaksi berjalan, terutama perdagangan jasa dan pendapatan primer.
Ketika surplus perdagangan barang menyusut, kemampuan Indonesia menutup defisit komponen lainnya turut berkurang. Kondisi tersebut berpotensi memperbesar defisit transaksi berjalan dan meningkatkan kerentanan stabilitas ekonomi makro.
âDefisit transaksi berjalan ini juga menjadi salah satu penyebab lemahnya capital inflow, sehingga rupiah menjadi melemah,â kata Faisal.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan Indonesia selama JanuariâSeptember 2026 mencapai 10,61 miliar dollar AS, jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 33,48 miliar dollar AS.
Penyusutan surplus terjadi seiring peningkatan impor sebesar 19,67 persen secara tahunan menjadi 210,63 miliar dollar AS. Sementara itu, ekspor hanya tumbuh 5,58 persen menjadi 221,23 miliar dollar AS.
Berdasarkan golongan penggunaan barang, impor bahan baku dan penolong mendominasi dengan nilai 150,57 miliar dollar AS, diikuti barang modal sebesar 41,55 miliar dollar AS dan barang konsumsi sebesar 18,51 miliar dollar AS.
Faisal menilai kenaikan impor tidak selalu menjadi indikasi negatif bagi perekonomian. Impor bahan baku dan barang modal dapat mencerminkan peningkatan aktivitas industri apabila digunakan untuk mendukung produksi. Namun, kenaikan impor migas akibat peningkatan harga minyak dunia berpotensi menambah beban ekonomi Indonesia yang masih menjadi pengimpor bersih minyak.
Tidak Stabil
Pada waktu lain, Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, mengatakan penyusutan surplus perdagangan barang dapat meningkatkan kerentanan rupiah karena memperlemah kemampuan Indonesia membiayai defisit transaksi berjalan.
Defisit perdagangan jasa yang kronis, katanya menjadikan surplus perdagangan barang sebagai penopang penting transaksi berjalan. Ketika surplus tersebut menyusut, kebutuhan terhadap arus modal untuk membiayai defisit semakin besar.
âImplikasinya, ketika arus modal tersebut tidak stabil maka sisi pembiayaan juga menjadi tidak stabil,â kata Aloysius, Kamis (5/11).
Kondisi tersebut jelasnya dapat mempersulit upaya menjaga rupiah tetap stabil. Kemampuan mempertahankan nilai tukar juga bergantung pada ketersediaan cadangan devisa. Pelemahan rupiah perlu diantisipasi karena berpotensi meningkatkan beban pembayaran utang dalam valuta asing.
Untuk memperkuat ketahanan eksternal, Aloysius menilai pemerintah perlu mengurangi ketergantungan terhadap impor migas serta memperluas diversifikasi ekspor, baik dari sisi komoditas maupun negara tujuan. Namun, langkah tersebut membutuhkan waktu untuk memberikan hasil.
âHal yang penting juga dilakukan adalah memperkuat kredibilitas kebijakan fiskal dengan koordinasi yang juga baik dengan otoritas moneter,â katanya.
Ia juga mendorong pemerintah menjaga ketersediaan valuta asing di dalam negeri, termasuk melalui penempatan devisa hasil ekspor sumber daya alam dalam sistem keuangan domestik.
Kebijakan tersebut perlu tetap memperhatikan kebutuhan operasional pelaku usaha agar tidak menghambat aktivitas ekonomi.
Sementara itu, Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, Y.B. Suhartoko, menilai penyusutan surplus perdagangan merupakan alarm bagi stabilitas ekonomi nasional. Penyusutan surplus perdagangan barang semakin memperberat tekanan defisit transaksi berjalan yang dalam beberapa tahun terakhir bergerak fluktuatif.
âTurunnya surplus neraca perdagangan semakin memperberat kondisi defisit neraca transaksi berjalan,â kata Suhartoko.
Menurut dia, defisit transaksi berjalan dapat meningkatkan permintaan valuta asing sehingga mendorong depresiasi rupiah dan mengganggu stabilitas ekonomi.
Dalam jangka menengah dan panjang, Suhartoko mendorong perluasan komoditas ekspor, terutama produk bernilai tambah tinggi melalui penguatan industri hilir yang berkelanjutan dan didukung ketersediaan bahan baku.
Selain hilirisasi, diversifikasi negara tujuan ekspor diperlukan untuk memperluas pasar dan mengurangi ketergantungan terhadap sejumlah mitra dagang utama.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.