Prancis Kembali Diguncang Aksi Demo

Jumat, 06 Nov 2026, 14:55 WIB

PARIS - Ratusan ribu orang diperkirakan akan turun ke jalan di seluruh Prancis pada Kamis (5/11) karena serikat pekerja mengadakan aksi pemogokan bersamaan dengan demonstrasi yang dipimpin mahasiswa yang telah mengguncang negara itu selama beberapa pekan.
Gerakan siswa sekolah menengah yang dimulai dengan protes kaum muda terhadap kondisi pembelajaran yang buruk bertepatan dengan kemarahan yang meluas atas meningkatnya biaya hidup dan ketidaksetaraan, memuncak pada 17 Oktober lalu dalam kerusuhan terburuk yang pernah terjadi di Prancis dalam beberapa tahun terakhir .
Pada Kamis, pihak berwenang memperkirakan sekitar 500.000 hingga 700.000 orang akan melakukan protes di seluruh negeri, sementara sebanyak 80.000 orang diperkirakan akan berbaris di ibu kota Paris.
"Ini akan menjadi mobilisasi yang kuat," kata Marylise Leon dari serikat pekerja CFDT, memperkirakan jumlah peserta yang sebanding dengan protes reformasi pensiun di Prancis pada  2023 yang diikuti oleh lebih dari 1 juta orang.  
Serikat pekerja pendidikan negeri dan swasta sebelumnya telah menyerukan aksi mogok, begitu pula serikat pekerja yang mewakili pekerja kereta api, rumah sakit umum, dan layanan pos.
Dalam tuntutan yang ditujukan kepada pemerintah dan pengusaha, serikat pekerja menyerukan peningkatan upah minimum yang belum menerima kenaikan diskresioner sejak 2012, kenaikan upah secara menyeluruh, reformasi pajak, dan kondisi pembelajaran yang lebih baik untuk kaum muda.
Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengumumkan pada Rabu (4/11) bahwa 70.000 petugas polisi dan pasukan keamanan akan dikerahkan di seluruh negeri, dan menjanjikan tanggapan yang sangat tegas terhadap setiap tindakan kekerasan atau gangguan ketertiban.
Meskipun protes yang dipimpin mahasiswa sebagian besar berlangsung damai, beberapa di antaranya terjadi bentrokan dengan polisi yang mengakibatkan gas air mata dan meriam air ditembakkan untuk membubarkan massa.
Saat ini sebuah penyelidikan atas percobaan pembunuhan telah diluncurkan setelah bom molotov dilemparkan ke arah pasukan keamanan di Paris pada Sabtu (31/10) pekan lalu.
Sementara itu, respons polisi dikritik sebagai berlebihan dan penyelidikan internal kepolisian telah diluncurkan atas tuduhan kebrutalan terhadap para demonstran.
Beberapa demonstran remaja mengalami luka serius dan ribuan lainnya ditangkap.
Pihak berwenang telah mengakui adanya kegagalan keamanan dan intelijen yang membuka jalan bagi bentrokan, penjarahan besar-besaran, dan perusakan properti publik yang meletus pada 17 Oktober lalu
Pada Rabu, aparat berwenang di Paris melarang rute protes besar yang direncanakan antara Place de la Bastille dan Place de la Concorde, yang akan melintasi pusat kota. Sebagai gantinya, polisi menggantinya dengan rute resmi yang mengarah ke timur menjauh dari pusat kota.
Beberapa serikat pekerja mengecam larangan rute tersebut sebagai upaya untuk menekan kebebasan berdemonstrasi, dan beberapa di antaranya telah mengajukan banding di menit-menit terakhir untuk mengembalikan rute tersebut.
"Kita dapat merasakan efek kumulatifnya: Simpati publik terhadap gerakan siswa sekolah menengah dan universitas tidak berkurang, dan orang-orang mempertanyakan pembatasan kebebasan, terutama larangan demonstrasi," jelas Fabrice Fort dari serikat pekerja CGT. "Hal ini telah memicu kesadaran di antara orang-orang yang biasanya tidak banyak bersuara," imbuh dia.
Aksi protes serupa telah terjadi di negara-negara Eropa lainnya dalam beberapa pekan terakhir, dengan aksi demonstrasi yang dipimpin oleh kaum muda terljadi di Denmark, Jerman, dan Italia. ils/AFP/I-1

  • Demo di Prancis

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.