- Home
-
- Luar Negeri
-
- PBB: Hampir 90 Juta Pengun...
PBB: Hampir 90 Juta Pengungsi Hadapi Risiko Iklim yang Parah
Jumat, 06 Nov 2026, 13:55 WIB
JENEWA - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan tiga perempat dari pengungsi di dunia tinggal di negara-negara yang menghadapi paparan parah terhadap bahaya terkait iklim, dan menyerukan tindakan mendesak untuk melindungi mereka.
Beberapa hari sebelum konferensi iklim COP31 di Turki, sebuah laporan badan pengungsi PBB menyatakan hampir 90 juta pengungsi dan orang-orang yang dipindahkan secara paksa lainnya menghadapi risiko serius yang terkait dengan pemanasan planet.
"Para pengungsi menghadapi ketidakadilan ganda," kata Anton Leis Garcia, asisten komisaris tinggi UNHCR untuk operasi, dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat (6/11).
"Terpaksa mengungsi dari konflik yang bukan disebabkan oleh mereka, kini mereka berada di garis depan krisis iklim yang paling sedikit mereka sebabkan."
Orang-orang yang terpaksa mengungsi dari konflik, kekerasan, dan penganiayaan mendapati diri mereka berada di tempat-tempat yang dilanda kekeringan parah, banjir mematikan, dan panas ekstrem, demikian yang disampaikan organisasi tersebut.
UNHCR menyatakan perubahan iklim juga semakin mengancam prospek solusi jangka panjang bagi para pengungsi.
Laporan tersebut menyebutkan, lebih dari dua pertiga pengungsi yang kembali ke rumah selama paruh pertama tahun ini kembali ke negara-negara yang sangat rentan terhadap bencana iklim.
Di Suriah, tempat hampir empat juta pengungsi baru-baru ini kembali, penurunan permukaan air tanah dan guncangan iklim mengancam pemulihan, kata badan tersebut.
Laporan itu menyebutkan banjir di sepanjang Sungai Eufrat bulan Mei lalu yang merusak rumah dan kembali menyebabkan ribuan orang mengungsi.
Cuaca panas ekstrem juga menjadi ancaman yang semakin meningkat, kata laporan itu. Pada tahun 2050, satu dari tiga permukiman pengungsi di seluruh Afrika sub-Sahara dapat menghadapi 100 hari atau lebih cuaca panas berbahaya setiap tahunnya.
Sementara itu, bencana terkait cuaca memicu lebih banyak lagi pengungsian di dalam negeri, menyebabkan lebih dari 255 juta pengungsian internal di seluruh dunia selama dekade terakhir, menurut UNHCR.
Jumlah itu setara dengan 70.000 setiap hari, demikian disebutkan.
El Nino yang luar biasa kuat tahun ini diperkirakan akan menyebabkan perpindahan penduduk yang lebih besar lagi.
Di Afrika Timur, perkiraan menunjukkan banjir parah yang terkait dengan fenomena cuaca tersebut dapat menyebabkan hingga tiga juta orang mengungsi di Somalia, Kenya, Sudan Selatan, dan Uganda pada akhir tahun 2026.
"Bagi jutaan orang, perubahan iklim bukanlah ancaman yang jauh. Perubahan iklim menghancurkan tempat tinggal, merusak mata pencaharian, dan membahayakan harapan mereka untuk membangun kembali kehidupan mereka," kata Garcia.
UNHCR menyatakan bahwa hanya 10 persen dari pendanaan iklim global yang dialokasikan untuk negara-negara rapuh dan dilanda konflik yang menampung populasi besar pengungsi yang rentan terhadap perubahan iklim.
Organisasi tersebut mengatakan bahwa selama COP31 mereka akan menyerukan kepada pemerintah dan lembaga keuangan iklim untuk memasukkan pengungsi dan populasi terlantar lainnya dalam rencana iklim nasional dan mekanisme pembiayaan.
"Kita tidak bisa membiarkan mereka yang telah kehilangan begitu banyak tertinggal dalam aksi iklim global," kata Garcia.
- Krisis Iklim
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Jelang Musim Tanam, Pupuk Indonesia Siapkan Stok 350 Ribu Ton untuk Sulawesi, Maluku, dan Papua
-
IPC Terminal Petikemas Catat Volume Bongkar Muat 2,51 Juta TEUs per Agustus 2026
-
Empat Rute Transjakarta Dihentikan Sementara akibat Unjuk Rasa
-
Delapan Kabupaten Berikut Masih Sangat Minim Jaringan Internet
-
Program Prioritas Kapolri: Polrestabes Bandung Razia Narkoba di Kawasan Saritem
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.