Dompet Dhuafa Gandeng MUI dan BPBD Jatim Gelar Mitigasi Megathrust bagi Takmir Masjid
Jumat, 06 Nov 2026, 16:35 WIB | Oleh: Paundra Zakirulloh
Doc: Dompet Dhuafa
JAKARTA - Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur menggelar sosialisasi mitigasi bencana megathrust bagi pengurus masjid dan musala. Kegiatan yang berlangsung di Kantor MUI Jawa Timur, Surabaya, Rabu (28/10/2026), tersebut bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana.
Sebanyak 56 takmir masjid dan musala dari berbagai wilayah di Jawa Timur mengikuti kegiatan tersebut. Para peserta mendapatkan edukasi mengenai manajemen krisis sekaligus mengikuti simulasi pemadaman dan penyelamatan diri secara praktis.
Kolaborasi lintas sektor ini dilakukan karena penanganan bencana membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari lembaga kemanusiaan, otoritas keagamaan, hingga instansi pemerintah. Ketiganya memiliki peran berbeda dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat, khususnya melalui lingkungan tempat ibadah.
MUI Jawa Timur berperan menggerakkan masyarakat melalui jejaring takmir masjid dan musala. Dengan pengaruh serta jaringan keagamaan yang dimiliki, pesan kesiapsiagaan diharapkan dapat menjangkau masyarakat hingga tingkat lingkungan terkecil.
Sementara itu, BPBD Jawa Timur memberikan dukungan teknis berupa informasi risiko wilayah dan standar operasional mitigasi bencana. BPBD Jatim mencatat terdapat 14 jenis ancaman bencana di wilayah tersebut, sedangkan pengetahuan dan kapasitas kesiapsiagaan mandiri masyarakat disebut berkontribusi terhadap 35 persen keberhasilan penyelamatan jiwa saat bencana.
Sebaiknya Anda baca juga:
Adapun DMC Dompet Dhuafa bertugas menjembatani materi teknis dan keagamaan menjadi langkah mitigasi berbasis masyarakat. Salah satu pendekatan yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah konsep Masjid Tangguh Bencana.
Direktur Program Sosial, Kemanusiaan, dan Dakwah Dompet Dhuafa, Ahmad Shonhaji, mengatakan keterlibatan MUI dan BPBD menjadi bagian penting dalam memperkuat edukasi kebencanaan kepada masyarakat. Para takmir dipilih sebagai peserta karena memiliki peran strategis dalam membangun kesiapsiagaan di lingkungan masing-masing.
“Sosialisasi ini kami kolaborasikan bersama MUI Jatim yang memiliki kekuatan untuk menggerakkan umat dan BPBD Jatim untuk menguatkan pesan kebencanaan. Melibatkan para takmir masjid dan musala sebagai peserta bertujuan agar mereka memiliki kapasitas dan kesiapsiagaan dalam merespons potensi krisis,” tegas Ahmad.
Ketua Komisi Pengembangan Dana Umat dan Filantropi MUI Jawa Timur, Miftah Jauhari, menilai pemahaman teknis mitigasi perlu dimiliki para pengelola tempat ibadah. Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya mengetahui potensi ancaman bencana, tetapi juga harus memahami langkah yang perlu dilakukan ketika situasi darurat terjadi.
“Kegiatan ini sangat penting untuk diketahui para takmir masjid, karena di Jawa Timur terdapat tiga titik utama yang memiliki potensi bencana megathrust, yakni Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo. Selama ini masyarakat mungkin hanya mendengar kabar dan dampak bencananya, tetapi tidak tahu cara menangani resikonya,” jelas Miftah.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jawa Timur, Deni Kiki Melia Tamara, turut menekankan pentingnya peningkatan kapasitas masyarakat. Hal ini mengingat bencana dapat terjadi sewaktu-waktu tanpa peringatan awal sehingga masyarakat perlu memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk merespons keadaan darurat.
Dalam pelatihan tersebut, peserta memperoleh materi mengenai manajemen bencana, fikih kebencanaan, identifikasi risiko, hingga prosedur evakuasi darurat. Materi tersebut dirancang agar pengurus masjid dapat memahami langkah kesiapsiagaan sekaligus menerapkannya di lingkungan tempat ibadah.
Selain pembekalan teori, peserta mengikuti simulasi penanganan gempa berkekuatan magnitudo 6. Kegiatan praktik tersebut memberikan gambaran mengenai situasi yang mungkin dihadapi saat gempa terjadi serta pentingnya memahami prosedur penyelamatan diri.
Salah seorang peserta, Fuadi, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru melalui kegiatan tersebut. Ia menilai simulasi gempa membantu peserta memahami pentingnya mitigasi bencana, terutama di lingkungan masjid dan musala.
“Banyak sekali pelajaran baru yang dibagikan tentang mitigasi bencana yang berpotensi terjadi di Jawa Timur. Kami dikenalkan dengan simulasi gempa 6 Skala Richter, dan ini membuat kami paham betul betapa pentingnya proses mitigasi di lingkungan masjid,” ungkap Fuadi.
Melalui kegiatan ini, Dompet Dhuafa bersama MUI dan BPBD Jawa Timur mendorong tempat ibadah tidak hanya berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat tangguh bencana. Keterlibatan para takmir diharapkan dapat memperluas pemahaman mitigasi dan memperkuat kesiapsiagaan warga di wilayah masing-masing.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!