WHO Sebut Enam Langkah Iklim Bisa Selamatkan 1,6 Juta Jiwa

Kamis, 05 Nov 2026, 19:55 WIB

JENEWA — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa penerapan enam langkah penanganan perubahan iklim dapat menyelamatkan sekitar 1,6 juta jiwa setiap tahun. Upaya tersebut juga berpotensi menghasilkan manfaat ekonomi dan fiskal hingga triliunan dollar AS, dilansir dari Euro News, Kamis (5/11).

WHO menyebutkan bahwa sekitar 3,6 miliar orang di seluruh dunia tinggal di wilayah yang rentan terhadap perubahan iklim. Hal tersebut disampaikan dalam laporan terbaru yang diterbitkan pada Rabu (4/11).

Ket. Foto: Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus — Sumber: X - Tedros Adhanom Ghebreyesus

Kondisi tersebut membuat mereka menghadapi risiko kesehatan yang lebih besar akibat dampak perubahan iklim. Enam intervensi di bidang iklim dan kesehatan tersebut diperkirakan dapat mencegah sekitar satu dari setiap 40 kematian setiap tahun.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan krisis iklim merupakan krisis kesehatan. Namun, sebagian besar dampak buruknya dapat dicegah melalui berbagai teknologi dan langkah penanganan yang sebenarnya telah tersedia.

Enam langkah yang direkomendasikan WHO mencakup penerapan sistem peringatan dini terkait risiko kesehatan akibat suhu panas. Langkah lainnya meliputi penyediaan layanan air minum yang tangguh terhadap perubahan iklim serta fasilitas sanitasi dan kebersihan dasar.

WHO juga mendorong penggunaan bahan bakar dan teknologi rumah tangga yang lebih bersih untuk kegiatan memasak dan memanaskan ruangan. Selain itu, pemerintah diminta menerapkan kebijakan penetapan harga bahan bakar fosil yang lebih efektif.

Tedros mengatakan penerapan langkah-langkah yang terjangkau dan telah terbukti efektif dapat menyelamatkan jutaan nyawa. Manfaat terbesar diperkirakan akan dirasakan oleh negara-negara yang paling membutuhkan perlindungan kesehatan.

WHO memperingatkan bahwa perubahan iklim dapat meningkatkan berbagai risiko kesehatan jika tidak disertai intervensi tambahan. Risiko tersebut meliputi kekurangan gizi, malaria, diare, dan tekanan kesehatan akibat suhu panas.

Kondisi tersebut diperkirakan menyebabkan 250.000 kematian dini setiap tahun selama periode 2030 hingga 2050. Perubahan iklim diperkirakan membuat sekitar 500 juta orang di dunia terpapar organisme pembawa penyakit yang dipengaruhi kondisi iklim pada 2050.

WHO mendorong pemerintah membangun sistem peringatan dini cuaca panas yang dapat memberikan informasi kepada masyarakat mengenai suhu berbahaya. Sistem ini perlu didukung imbauan menjaga kecukupan cairan tubuh, penyediaan fasilitas pendingin, serta bantuan bagi kelompok masyarakat rentan.

Pemerintah juga diminta memastikan ketersediaan sumber air bersih yang aman selama cuaca ekstrem serta menyediakan fasilitas kebersihan dasar. Langkah tersebut diperlukan untuk mencegah kekurangan dan kontaminasi air sekaligus mengurangi penyebaran penyakit melalui air.

Di sektor energi, peralihan ke bahan bakar yang lebih bersih dinilai dapat mengurangi polusi udara di dalam rumah dan emisi gas rumah kaca. WHO turut menyerukan penerapan kebijakan harga bahan bakar fosil yang memperhitungkan dampaknya terhadap kesehatan, iklim, dan lingkungan. ils/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.