Mu'ti Tegaskan Bahasa Inggris di SD Bukan soal Jago Grammar tetapi Berani Bicara

Kamis, 05 Nov 2026, 17:50 WIB

Jakarta - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengingatkan pembelajaran Bahasa Inggris bagi murid kelas 3 sekolah dasar (SD) harus mengutamakan pengenalan dasar bahasa dan menumbuhkan kecintaan anak terhadap bahasa tersebut, bukan mengejar kemahiran tata bahasa (grammar).

"Titik tekan dari program ini bukanlah pada ekspertis dalam Bahasa Inggris bagi anak-anak, tetapi lebih kepada mengenalkan dasar-dasar dan juga menumbuhkan rasa cinta untuk anak-anak belajar Bahasa Inggris," kata Abdul Mu'ti saat memberikan arahan dalam kegiatan Koordinasi dan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Bantuan Pemerintah Pengembangan Kompetensi Guru Sekolah Dasar dalam Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD MBI) di Jakarta, Kamis (5/11).

Ket. Foto: Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti memberi arahan dalam kegiatan Koordinasi dan Penandatangan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Bantuan Pemerintah Pengembangan Kompetensi Guru Sekolah Dasar dalam Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD MBI) di Jakarta Pusat pada Kamis (5/11). — Sumber: Antara

Ia mengatakan materi pembelajaran Bahasa Inggris perlu dirancang dengan mengedepankan prinsip pembelajaran mendalam yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful).

Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran dapat dilakukan dengan berbagai aktivitas menyenangkan, seperti menyanyikan lagu, menonton film, serta bermain untuk merangsang minat anak dalam mempelajari Bahasa Inggris.

Mu'ti juga mengarahkan guru agar tidak terlalu menekankan penguasaan tata bahasa (grammar) maupun struktur kalimat (structure). Pendekatan yang terlalu akademis dikhawatirkan membuat anak cepat bosan dan merasa terbebani.

Menurut dia, pembelajaran Bahasa Inggris di jenjang SD lebih diarahkan untuk membangun kemampuan menggunakan bahasa tersebut sebagai sarana komunikasi sekaligus mengeksplorasi berbagai keterampilan berbahasa.

"Yang penting bagaimana mereka mampu menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi," ujarnya.

Ia menambahkan murid perlu didorong untuk aktif menulis dan menyampaikan pendapat melalui keterampilan berbicara (speaking). Kesalahan dalam penggunaan tata bahasa maupun ekspresi selama proses pembelajaran merupakan hal yang wajar.

"Salah grammar tidak apa-apa, namanya juga anak-anak. Bahkan kalau salah ekspresi juga tidak apa-apa. Yang penting maksudnya paham," kata Mu'ti.

Ia mencontohkan murid mungkin mencampurkan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris ketika berkomunikasi. Namun, hal tersebut tidak perlu menjadi persoalan selama pesan yang disampaikan dapat dipahami dan tidak menimbulkan kesalahpahaman yang berarti.

Karena itu, ia berharap pemberlakuan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib bagi murid kelas 3 SD mulai tahun ajaran 2027/2028 dapat menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan.

Dengan demikian, murid diharapkan memiliki motivasi untuk terus belajar sekaligus lebih percaya diri dan berani menggunakan Bahasa Inggris dalam komunikasi sehari-hari.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.