- Home
-
- Luar Negeri
-
- Singapura Kembangkan Berag...
Singapura Kembangkan Beragam Teknologi Pendingin Hemat Energi
Rabu, 04 Nov 2026, 15:15 WIBJAKARTA - Singapura mengembangkan teknologi pendingin hemat energi untuk mengurangi ketergantungan bangunan terhadap penggunaan pendingin udara konvensional. Inovasi ini memanfaatkan sirkulasi udara, permukaan dingin, dan sistem pendinginan alternatif untuk menjaga kenyamanan ruangan.
Dikutip dari laman Building and Construction Authority (BCA) Singapura, teknologi ini dikenal sebagai Alternative Cooling Technologies (ACTs). Teknologi tersebut mengurangi konsumsi listrik sekaligus menekan dampak lingkungan dari sistem pendinginan konvensional.
BCA menjelaskan teknologi ACTs dapat menghemat energi pendinginan hingga 50 persen dibandingkan sistem konvensional. Penghematan tersebut bergantung pada jenis teknologi, desain bangunan, dan penerapannya.
Wakil CEO BCA bidang Pengembangan Industri, Tan Chee Kiat, menjelaskan potensi teknologi tersebut. Ia menilai inovasi pendinginan dapat membantu Singapura mencapai target efisiensi energi bangunan.
âTeknologi ACTs saja mampu mengurangi konsumsi energi untuk pendinginan hingga 50 persen. Teknologi ini sudah siap diterapkan dan manfaat ekonominya sudah jelas,â ujar dia dikutip dari laman BCA pada Selasa (3/11).
Salah satu metode yang digunakan adalah hybrid cooling yaitu kombinasi pendingin udara dan kipas. Sistem ini memungkinkan bangunan menggunakan suhu pendingin udara lebih tinggi sambil mempertahankan kenyamanan penghuni.
Metode lainnya adalah passive displacement cooling yang memanfaatkan pergerakan alami udara berdasarkan perbedaan suhu. Sistem tersebut mengurangi kebutuhan kipas mekanis melalui sirkulasi udara hangat dan dingin di dalam ruangan.
Singapura juga menerapkan teknologi active chilled beam yang menggunakan air dingin untuk menyerap panas ruangan. Sistem ini mengalirkan udara melalui perangkat khusus di langit-langit untuk membantu proses pendinginan.
Teknologi radiant cooling menjadi alternatif lain untuk mengurangi kebutuhan pendinginan udara secara konvensional. Sistem ini menggunakan air dingin dalam pipa atau panel untuk menyerap panas dari permukaan dan benda di ruangan.
BCA menyebut setidaknya 33 bangunan publik dan 14 bangunan swasta telah mengadopsi teknologi ACTs hingga Juli 2026. Penerapan tersebut menunjukkan meningkatnya penggunaan sistem pendinginan hemat energi di berbagai bangunan Singapura.
Salah satu contohnya terdapat di Dulwich College (Singapore) yang menerapkan passive displacement cooling di ruang kelas, auditorium, dan area kolaborasi. BCA melaporkan sistem tersebut menghemat 49,5 persen energi pada sistem distribusi udara.
Selain mengurangi konsumsi listrik, teknologi pendinginan alternatif juga dapat meningkatkan kenyamanan penghuni bangunan. Sistem ini membantu mengurangi kebisingan dan mencegah ruangan menjadi terlalu dingin akibat pengaturan suhu berlebihan.
Pemerintah Singapura juga mendorong penggunaan pendinginan yang lebih berkelanjutan melalui gerakan Go 25. Dikutip dari laman Ministry of Sustainability and the Environment, gerakan ini menganjurkan pengaturan suhu AC pada 25 derajat Celsius atau lebih. ils/I-1
- Singapura
- Inovasi Pendingin Udara
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
Truk ODOL Bakal Kena Aturan Lebih Ketat, Ini Usulan Menhub dalam Revisi UU LLAJ
-
Hingga September 2026, PEFINDO Catat 244 Publikasi Pemeringkatan Sektor Jasa Keuangan.
-
Virgo Transport 8 Dihantam Ombak, 128 Orang Masih Dicari
-
BMKG: Hujan di Sulteng Disebabkan Massa Udara dan Suhu Laut yang Lebih Hangat
-
Cegah Penularan Mematikan, Ratusan WBP di Maluku Mendadak Jalani Skrining HIV
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.