Rute Getuk, Cara Menikmati Magelang Lewat Olahraga Lari dan Kuliner Lokal
Rabu, 04 Nov 2026, 19:25 WIBJAKARTA â Gerobak berisi getuk berwarna-warni menjadi pemandangan tak biasa di tengah kemeriahan ajang lari JRF. Kudapan khas Magelang yang disajikan di atas daun pisang dengan taburan kelapa parut itu dibagikan kepada para pelari dan pengunjung. Kehadirannya bahkan menarik perhatian hingga mendapat julukan âGerobak Getuk Kalcerâ, merujuk pada penampilan penjualnya yang bergaya seperti pelari.
Di balik pembagian kudapan tersebut, tersimpan cerita tentang Rute Getuk, sebuah pengalaman berlari yang mengajak peserta mengenal Magelang melalui suasana kota, keramahan masyarakat, serta tradisi kuliner lokal. Cerita itu diungkap melalui sebuah video berdurasi 2 menit 22 detik yang memperlihatkan perjalanan dan pengalaman para pelari menyusuri kota tersebut.
âMengusung semangat Run Your Culture, Rute Getuk menawarkan pengalaman berlari yang tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian personal best (PB). Para peserta diajak menikmati perjalanan, menyusuri sudut-sudut kota, berinteraksi dengan warga, melihat pemandangan, sekaligus mencicipi getuk yang telah lama menjadi bagian dari identitas kuliner Magelang,â tulis Puma Indonesia melalui keterangannya pada hari Rabu (4/11).
Menelusuri Tradisi Getuk Lintas Generasi
Salah satu cerita yang diangkat dalam Rute Getuk berasal dari keluarga Getuk Sri Rahayu. Keluarga ini telah membuat dan menjual getuk sejak 1940-an. Sri Rahayu, pemilik usaha tersebut, merupakan generasi ketiga sekaligus cucu Ali Mohtar, warga Dusun Karet yang dikenal sebagai pencipta getuk khas Magelang.
Resep dan tradisi pembuatan getuk itu diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap hari, keluarga tersebut menempuh perjalanan sejauh 4,6 kilometer dari Desa Karet menuju Pasar Rejowinangun untuk membawa getuk kepada pembeli.
Perjalanan yang berlangsung selama puluhan tahun itu menjadi bagian dari pengalaman yang ingin diperkenalkan kepada para pelari. Mereka tidak hanya diajak mengenal Magelang melalui lokasi yang dilewati, tetapi juga melalui kisah masyarakat yang mempertahankan tradisi dan tumbuh bersama kota tersebut.
Bagi Michelle Lovelyn, yang mulai berlari pada 2017 setelah diajak seorang teman, pengalaman ini mengingatkannya pada hal-hal sederhana yang membuatnya menyukai olahraga lari. Menurutnya, kepuasan berlari tidak selalu berasal dari keberhasilan melampaui batas kemampuan atau mencatat waktu terbaik. Menikmati perjalanan tanpa terlalu memikirkan performa juga memberikan kesenangan tersendiri.
Kisah keluarga Getuk Sri Rahayu menjadi salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Michelle. Ia mengagumi ketekunan keluarga tersebut dalam mempertahankan tradisi membuat dan menjual getuk selama puluhan tahun.
Membayangkan perjalanan yang dahulu ditempuh menggunakan sepeda atau kuda, dengan medan yang memiliki elevasi cukup menantang, membuat Michelle melihat rute tersebut dari perspektif berbeda. Baginya, pengalaman itu bukan sekadar kesempatan berlari di tempat baru, melainkan juga pengingat bahwa kecintaan terhadap olahraga dapat tumbuh melalui cerita dan pengalaman sepanjang perjalanan.
Sementara itu, Irvin Iskandar mengingat Magelang melalui suasana kota yang tenang, udara pagi yang sejuk, serta keramahan warga. Kontur jalan yang terdiri atas tanjakan dan turunan memberikan tantangan tersendiri sekaligus membuat pengalaman berlari lebih dinamis.
Pemandangan dan tempat-tempat khas yang dilewati juga memberinya kesempatan menikmati Magelang dari sudut pandang berbeda dibandingkan rutinitas lari yang biasa dijalaninya.
Pengalaman lain dirasakan M. Doni Maulana, yang mulai berlari pada 2022 dan konsisten menekuninya sejak 2023. Menurut Doni, kesederhanaan olahraga lari membuat aktivitas ini mudah menjadi bagian dari gaya hidup.
Namun, perjalanan di Magelang memberinya pengalaman berbeda. Menyusuri kota sambil mengenal budaya dan kuliner setempat membuat lari menjadi cara untuk menjelajah sekaligus menemukan cerita yang mungkin terlewat jika hanya berfokus pada kecepatan atau jarak tempuh.
Menghubungkan Olahraga dengan Budaya Lokal
Pengalaman Michelle, Irvin, dan Doni memperlihatkan bahwa Rute Getuk menghadirkan perspektif berbeda tentang olahraga lari. Aktivitas ini tidak hanya menjadi sarana menjaga kebugaran atau mengejar catatan waktu, tetapi juga membuka kesempatan untuk mengenal karakter suatu daerah.
Sapaan warga, suasana kota, hingga kisah di balik kuliner lokal menjadi bagian dari pengalaman yang tidak selalu dapat diukur melalui angka pada jam tangan pelari.
Rute Getuk merupakan bagian dari semangat Run Your Culture yang diusung PUMA melalui DNA Deviate Pure, dengan perhatian pada perkembangan kultur dan komunitas lari. Program tersebut dimulai melalui rangkaian kegiatan bersama komunitas di empat kota, yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali.
Setiap kota memiliki karakter serta komunitas lari yang berbeda. Keragaman tersebut kemudian dirayakan melalui kegiatan di masing-masing kota sebelum dipertemukan dalam satu momen lari bersama di BORMAR 2026.
Melalui Rute Getuk, pengalaman berlari di Magelang menjadi cara untuk mempertemukan olahraga dengan kekayaan budaya dan kehidupan masyarakat setempat. Perjalanan ini menunjukkan bahwa pengalaman yang membekas tidak selalu ditentukan oleh seberapa cepat seseorang mencapai garis finis, tetapi juga oleh tempat yang dijelajahi, orang-orang yang ditemui, dan cerita yang dibawa pulang.
- Magelang
- Puma
- wisata budaya
- Wisata Kuliner
- olahraga lari
- komunitas lari
- Rute Getuk
- Wisata Magelang
- Getuk Magelang
- Getuk Sri Rahayu
- Run Your Culture
- BORMAR 2026
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
De Minaur ke Shanghai Jalani Pemeriksaan Cedera Setelah Mundur di Final China Open
-
Perjalanan Religi dan Wisata Budaya Warnai Tren Wisatawan Indonesia
-
Kabar Baik! Pemprov Sumsel Targetkan Perbaikan 6.525 Rumah Tak Layak Huni, Siapa Saja yang Berpeluang Dibantu?
-
Kehilangan Peluang Mengakhiri Set Pertama Saat Unggul 18-13, Amri/Nita Gagal Raih Emas
-
Indonesia Dorong Reformasi PBB Jelang Sekjen Baru
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.