Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi Melambat pada Juli-September 2026, Momentum Pemulihan Mulai Melemah

Rabu, 04 Nov 2026, 22:00 WIB

JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan melambat pada periode Juli-September 20206 di tengah kondisi ketidakpastian perekonomian global dan domestik.

Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis laporan pertumbuhan ekonomi triwulan III-2026 pada Kamis (5/11).

Ket. Foto: Warga memilih sayuran di salah satu toko ritel di Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (2/11/2026). — Sumber: ANTARA/ Raisan Al Farisi.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan III-2026 melambat ke level 5,0-5,1 persen (year-on-year/yoy).

“Saya memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 berada di kisaran 5,05-5,1 persen, sedikit di bawah konsensus pasar yang berada di sekitar 5,2 persen,” kata Yusuf saat dihubungi di Jakarta, Rabu (4/11).

Apabila proyeksi tersebut terealisasi, lanjut Yusuf, perekonomian Indonesia akan mengalami perlambatan selama dua kuartal berturut-turut. Sebelumnya, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026, kemudian melambat menjadi 5,29 persen pada kuartal II 2026.

Dia menjelaskan, prediksi tersebut utamanya dipengaruhi oleh kinerja investasi dan aktivitas industri.

Yusuf menilai pertumbuhan kredit investasi yang masih sangat tinggi menunjukkan dunia usaha tetap melakukan ekspansi kapasitas. Aktivitas manufaktur juga masih cukup terjaga dan ekspor manufaktur tetap tumbuh.

“Dengan kata lain, ekonomi masih bergerak karena ada dorongan dari sisi produksi dan investasi,” ujarnya.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa kualitas pertumbuhan ekonomi mulai menunjukkan ketidakseimbangan. Konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh produk domestik bruto (PDB) dinilai belum memperlihatkan penguatan yang berarti.

Di sisi lain, belanja pemerintah diperkirakan melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Pertumbuhan impor yang jauh lebih cepat dibandingkan ekspor juga menjadi perhatian karena sebagian permintaan domestik justru mengalir ke produk luar negeri.

Kondisi tersebut membuat dampak peningkatan permintaan terhadap pembentukan output dalam negeri menjadi lebih terbatas. Tekanan harga energi dan pelemahan nilai tukar rupiah turut membebani daya beli riil masyarakat.

“Karena itu, meski angka pertumbuhan kemungkinan masih berada di atas 5 persen, saya melihat momentum ekonomi sebenarnya sedang melemah. Pertumbuhan masih ada, tetapi semakin bergantung pada investasi dan proyek-proyek besar, sementara konsumsi rumah tangga belum menjadi motor yang kuat,” katanya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.