• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Perimenopause Mulai Dialam...

Perimenopause Mulai Dialami Perempuan Usia 40-an, Kenali Gejala dan Penanganannya

Rabu, 04 Nov 2026, 19:07 WIB

JAKARTA – Perubahan siklus menstruasi, suasana hati yang mudah berubah, gangguan tidur, hingga sensasi panas mendadak atau hot flash merupakan sejumlah keluhan yang dapat dialami perempuan ketika memasuki usia 40-an tahun. Kondisi tersebut bisa menjadi tanda perimenopause, yakni fase transisi sebelum seorang perempuan memasuki menopause.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis fertilitas endokrinologi reproduksi RS Pondok Indah IVF Centre, RS Pondok Indah – Pondok Indah, Kanadi Sumapradja, menjelaskan perimenopause merupakan masa peralihan yang ditandai perubahan siklus menstruasi, penurunan fungsi ovarium, serta fluktuasi kadar hormon.

Ket. Foto: Dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis fertilitas endokrinologi reproduksi RS Pondok Indah IVF Centre, RS Pondok Indah – Pondok Indah, Kanadi Sumapradja, dan dr. Astrid Yunita, Sp. O.G, Subsp. Urogin. Re., sebagai Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Uroginekologi Reproduksi RS Pondok Indah – Pondok Indah, dalam media briefing di Jakarta pada hari Kamis (29/10). — Sumber: Koran Jakarta/Haryo Brono

Menurut Kanadi, perubahan tersebut berkaitan dengan berkurangnya cadangan sel telur di ovarium seiring pertambahan usia. Perempuan memiliki jutaan sel telur sejak berada dalam kandungan. Jumlahnya terus menurun hingga tersisa ratusan ribu saat memasuki masa pubertas dan puluhan ribu menjelang usia 40 tahun.

“Penurunan cadangan sel telur berpengaruh terhadap produksi hormon estrogen dan progesteron. Kedua hormon tersebut menjadi tidak stabil sehingga kadarnya dapat mengalami fluktuasi. Seiring waktu, fungsi ovarium semakin menurun hingga akhirnya berhenti memproduksi hormon dan perempuan tidak lagi mengalami menstruasi,” ujarnya dalam media briefing di Jakarta pada hari Kamis (29/10).

Menstruasi terakhir yang dialami seorang perempuan disebut menopause. Sementara itu, perimenopause merupakan periode sebelum fase tersebut.

Perubahan Hormon Memicu Beragam Gejala

Perimenopause umumnya mulai dirasakan pada rentang usia 40-an tahun. Namun, waktu dimulainya fase ini dapat berbeda pada setiap perempuan. Faktor yang memengaruhi antara lain proses penuaan alami, faktor keturunan, dan gaya hidup.

Kebiasaan merokok, misalnya, dapat mempercepat berkurangnya cadangan ovarium. Riwayat operasi pada indung telur maupun terapi medis tertentu juga dapat berpengaruh terhadap fungsi reproduksi.

Fluktuasi estrogen dan progesteron dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh. Salah satu gejala yang paling terlihat adalah perubahan pola menstruasi. Siklus haid dapat menjadi lebih pendek atau lebih panjang, sementara volume darah bisa lebih banyak, disertai gumpalan, atau justru hanya berupa flek.

Gejala lain yang dapat muncul adalah hot flash, yakni sensasi panas mendadak yang menjalar pada tubuh bagian atas, terutama dada dan wajah. Kondisi ini terkadang disertai keringat pada malam hari dan membuat perempuan lebih mudah merasa gerah.

Perubahan hormon juga dapat mengganggu kualitas tidur. Sebagian perempuan mengalami kesulitan tidur nyenyak atau sering terbangun pada malam hari. Dari sisi emosional, perimenopause dapat disertai kecemasan, perubahan suasana hati, meningkatnya sensitivitas, mudah marah, hingga gejala depresi.

Pada area kewanitaan dan saluran kemih, penurunan hormon dapat menyebabkan vagina terasa lebih kering, nyeri saat berhubungan seksual, serta meningkatnya risiko infeksi saluran kemih. Perubahan fisik dan metabolisme juga bisa terjadi, seperti tubuh lebih mudah lelah, berat badan meningkat, massa otot berkurang, serta kulit dan rambut menjadi lebih kering.

Diagnosis dan Pilihan Penanganan

Penanganan perimenopause diawali dengan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan kondisi pasien dan menentukan terapi yang sesuai. Dokter akan melakukan wawancara medis mengenai perubahan pola menstruasi, gejala yang dirasakan, serta riwayat kesehatan.

Pemeriksaan tambahan dapat mencakup tes darah untuk melihat kondisi hormon dan ultrasonografi (USG) panggul guna memeriksa organ reproduksi. Hasil pemeriksaan tersebut menjadi salah satu dasar bagi dokter untuk menentukan langkah penanganan.

Kanadi menjelaskan, penatalaksanaan perimenopause perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Dokter akan menilai tingkat keluhan, riwayat penyakit, serta faktor risiko sebelum menentukan jenis intervensi.

"Penilaian tersebut mencakup riwayat penyakit kardiovaskular, risiko osteoporosis, riwayat kanker payudara atau endometrium, fungsi hati, tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, dan gaya hidup," ungkapnya.

Pilihan penanganan dapat berupa terapi nonhormonal, hormonal, maupun pengobatan untuk kondisi kesehatan tertentu yang menyertai perimenopause.

Terapi nonhormonal antara lain dilakukan melalui perubahan gaya hidup, olahraga teratur, dan perbaikan pola makan. Sementara itu, terapi hormon dapat dipertimbangkan untuk mengatasi gejala akibat perubahan kadar hormon. Pemberiannya dapat ditujukan untuk memperoleh efek sistemik atau efek lokal, sesuai kebutuhan dan kondisi pasien.

Adapun penanganan spesifik diperlukan apabila pasien juga memiliki masalah kesehatan lain, seperti hipertensi atau diabetes. Terapi hormon tidak selalu dibutuhkan oleh setiap perempuan yang mengalami perimenopause. Keputusan penggunaannya perlu mempertimbangkan manfaat, risiko, dan kemungkinan kontraindikasi, serta dilakukan di bawah pengawasan dokter.

Setelah terapi dimulai, pasien perlu menjalani evaluasi berkala. Pemantauan umumnya dilakukan setiap 6–12 minggu untuk melihat perkembangan gejala, menilai keamanan terapi, dan menyesuaikan dosis jika diperlukan. Pemantauan jangka panjang juga penting untuk menjaga kesehatan tulang, jantung, dan kualitas hidup perempuan.

Menjaga Kesehatan Menjelang Menopause

Selain penanganan medis, perubahan gaya hidup dapat membantu perempuan menghadapi masa perimenopause. Persiapan sebaiknya dilakukan sejak dini, terutama dengan menjaga pola makan bergizi seimbang dan rutin berolahraga.

Latihan beban ringan menjadi salah satu aktivitas yang dapat dilakukan untuk membantu mempertahankan kekuatan otot dan massa tulang. Perempuan juga dianjurkan mencukupi waktu istirahat, mengelola stres, serta menghindari paparan asap rokok dan konsumsi alkohol.

"Jika perubahan menstruasi atau gejala lain mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi dapat membantu menentukan penyebab dan penanganan yang tepat," pesannya.

Perempuan Masih Berpeluang Hamil

Perimenopause berbeda dengan menopause dalam hal kemungkinan kehamilan. Pada masa perimenopause, ovarium masih dapat melepaskan sel telur meskipun fungsi reproduksi telah menurun.

Karena itu, perempuan yang berada dalam fase awal perimenopause masih memiliki kemungkinan untuk hamil. Peluangnya memang lebih rendah dibandingkan saat usia reproduksi, tetapi kehamilan tetap dapat terjadi selama ovulasi masih berlangsung. Perempuan yang belum merencanakan kehamilan tetap perlu mempertimbangkan penggunaan kontrasepsi selama masa transisi tersebut.

"Dengan memahami perubahan yang terjadi, perempuan dapat mengenali gejala perimenopause lebih dini dan berkonsultasi untuk menentukan penanganan sesuai kebutuhan. Perimenopause merupakan proses alami, tetapi keluhan yang menyertainya dapat dikelola agar tidak mengganggu kesehatan dan kualitas hidup," tambahnya.

  • RS Pondok Indah
  • menopause
  • terapi hormon
  • Kesehatan Perempuan
  • Perimenopause
  • Kesehatan Reproduksi
  • Hormon Estrogen
  • Hormon Progesteron
  • Gangguan Menstruasi
  • Hot Flash
  • Kanadi Sumapradja

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.