- Home
-
- Luar Negeri
-
- Cadangan Gas Eropa Terenda...
Cadangan Gas Eropa Terendah Sejak 2013
Rabu, 04 Nov 2026, 01:00 WIBParis - Uni Eropa (UE) memasuki musim pemanasan dengan cadangan gas terendah sejak 2013. Kondisi tersebut meningkatkan ketergantungan kawasan itu terhadap impor gas alam cair (LNG) sekaligus memperbesar kerentanan terhadap cuaca dingin dan gangguan pasokan global.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pasokan LNG global turun tiga persen atau hampir 20 miliar meter kubik sepanjang tahun ini. Penghentian pengiriman LNG melalui Selat Hormuz juga menyebabkan ekspor Qatar dan Uni Emirat Arab berkurang lebih dari 60 miliar meter kubik pada periode Maret-Oktober.
Menurut IEA, harga gas di pasar Asia dan Eropa telah mencapai level tertinggi sejak lonjakan harga pada 2022-2023. Cadangan Eropa yang rendah, ditambah kapasitas penyimpanan terbatas di Asia dan Amerika Selatan, berpotensi meningkatkan persaingan untuk memperoleh kargo LNG yang tersedia.
Persaingan tersebut dapat mendorong kenaikan harga gas di pasar spot. Selain itu, rendahnya cadangan di Eropa akan meningkatkan kebutuhan pengisian kembali fasilitas penyimpanan menjelang musim panas. IEA memperingatkan kebutuhan tersebut berpotensi semakin memperburuk defisit pasokan gas global.
Tekanan Pasokan
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah Jerman pada Senin (2/11) menegaskan pasokan gas negaranya akan mencukupi selama musim dingin, meskipun tingkat penyimpanan belum memenuhi target yang ditetapkan.
Sejak kehilangan pasokan gas dari Russia menyusul invasi Moskow ke Ukraina pada 2022, Jerman sebagai negara dengan perekonomian terbesar di Eropa berupaya mencari sumber energi alternatif. Tekanan pasokan semakin besar setelah perang di Timur Tengah mendorong kenaikan harga energi. Harga gas Eropa bahkan mencapai level tertinggi sejak 2022 pada pekan lalu.
Badan federal yang mengawasi infrastruktur dan pasar energi Jerman mencatat fasilitas penyimpanan gas di negara itu rata-rata terisi 61 persen. Angka tersebut berada di bawah target wajib sebesar 70 persen pada 1 November dan tertinggal dari rata-rata UE yang hampir mencapai 75 persen, berdasarkan platform pemantau AGSI.
Namun, Kementerian Perekonomian Jerman menyatakan kepada AFP bahwa "pasokan gas di Jerman terjamin untuk musim dingin mendatang, bahkan dengan tingkat penyimpanan saat ini".
Juru bicara kementerian mengatakan Jerman telah mendiversifikasi sumber pasokannya sejak krisis energi pada 2022. Peningkatan pasokan LNG turut membantu menjaga ketersediaan energi. Jerman juga memperluas kapasitas impor melalui pembangunan terminal penerima LNG baru. Sebagian besar pasokan LNG negara itu berasal dari Amerika Serikat, sementara sebagian lainnya dipasok dari Timur Tengah.
"Karena alasan-alasan tersebut, angka tingkat penyimpanan 70 persen harus ditafsirkan secara fleksibel dan dipertimbangkan berdasarkan situasi pasokan secara keseluruhan," kata juru bicara kementerian.
Badan Jaringan Federal Jerman juga menilai pemenuhan target pada 1 November "tidak mutlak diperlukan" untuk menjamin keamanan pasokan.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Progres Tembus 79%, Tol Semarang-Demak Anti Banjir Rob Ditarget Nataru 2027 Bisa Dilintasi!
-
Pramuka Deli Serdang Dorong Anggota Jadi Konten Kreator untuk Sebarkan Informasi Positif di Medsos
-
PT Wook dan Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan Rp143 Juta untuk Penyintas Bencana
-
Seperti Apa Akhir Kisah Manchester City? Apakah Degradasi dari Liga Premier? Sungguh Petir di Siang Bolong!
-
Mengoptimalkan Armada Pengangkut 90 Ton Sampah per Hari
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.