Kimi Antonelli Juara Dunia F1 Termuda, Italia Berpesta Usai Akhiri Penantian 73 Tahun

Selasa, 03 Nov 2026, 00:10 WIB

ROMA – Keberhasilan Kimi Antonelli menjadi juara dunia Formula 1 termuda pada usia 20 tahun disambut meriah masyarakat Italia. Pembalap Mercedes itu memastikan gelar juara setelah tampil di Mexico City, sekaligus mengakhiri penantian panjang Italia untuk kembali memiliki juara dunia F1.

Antonelli, yang berasal dari Bologna, menjadi pembalap Italia pertama yang merebut gelar juara dunia sejak 1953. Prestasi tersebut langsung mendapat sambutan dari berbagai kalangan, termasuk Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni.

Ket. Foto: Kimi Antonelli. — Sumber: Formula 1

Melalui media sosial, Meloni menyampaikan pujian atas pencapaian luar biasa pembalap muda tersebut. Ia menyebut keberhasilan Antonelli sebagai bukti bakat, kerja keras, tekad, dan dedikasi.

“Keberhasilan ini mengembalikan pembalap Italia ke puncak dunia. Sebuah pencapaian yang merupakan hasil dari bakat, komitmen, tekad, dan dedikasi,” tulis Meloni di platform X.

“Ini menjadi sumber kebanggaan besar bagi negara kita,” lanjutnya, seraya mengunggah foto Antonelli yang memegang bendera Italia.

Sejumlah media Italia juga memberikan penghormatan melalui tajuk utama yang menggambarkan besarnya pencapaian tersebut. La Gazzetta dello Sport menggunakan judul “Kimitico”, permainan kata yang bermakna Kimi yang legendaris. Sementara La Stampa memilih tajuk “Kimi nella leggenda” atau Kimi masuk dalam sejarah.

Di Roma, warga turut larut dalam kegembiraan atas keberhasilan pembalap muda tersebut. Sebagian bahkan membandingkan Antonelli dengan petenis andalan Italia, Jannik Sinner, yang juga menjadi kebanggaan olahraga negara itu.

“Mereka adalah dua bintang yang bersinar dalam olahraga Italia,” kata seorang warga, Daniela Bulgarini. “Dia tampak seperti anak muda yang baik dan sangat berbakat. Bakat dan kerja keras selalu membuahkan hasil.”

Perjalanan Antonelli menuju puncak Formula 1 tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia merupakan putra seorang pembalap mobil sport yang sejak kecil telah memperkenalkannya dengan dunia balap dan membawanya ke sirkuit.

Mercedes mulai merekrut Antonelli ketika usianya baru 11 tahun, saat ia masih berkompetisi di kelas gokart. Potensinya untuk menjadi pembalap Formula 1 sudah terlihat sejak usia dini.

Bagi masyarakat Italia, keberhasilan Antonelli juga memiliki makna tersendiri karena penantian panjang untuk melihat pembalap negaranya kembali menjadi juara dunia.

“Setelah sekian lama tidak ada pembalap Italia yang menjadi juara, baik bersama Ferrari maupun tim dan pabrikan lainnya, ini tentu menjadi sesuatu yang luar biasa,” kata Giovanni, seorang pekerja di Roma.

Antusiasme juga terlihat di Sirkuit Imola. Beberapa ratus penggemar berkumpul di Museum Checco Costa untuk menyaksikan siaran langsung Grand Prix pada Minggu malam.

Menariknya, meski Imola merupakan sirkuit kandang Ferrari, para penggemar mengesampingkan loyalitas mereka kepada tim berlogo kuda jingkrak tersebut demi memberikan dukungan kepada Antonelli. Finis di posisi ketiga di Meksiko sudah cukup baginya untuk mengunci gelar juara dunia.

Perayaan serupa berlangsung di sebuah bioskop di Bologna, kota asal Antonelli. Klub sepak bola lokal yang berlaga di Serie A juga ikut menyampaikan ucapan selamat melalui media sosial.

“Seluruh Bologna bangga kepadamu,” demikian pesan klub tersebut di platform X.

Keberhasilan Antonelli bukan hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga menghadirkan kebanggaan baru bagi Italia dalam dunia balap mobil internasional.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.