Ditopang Tiga Komoditas Utama, Surplus Dagang RI Tembus USD 10,61 Miliar hingga September 2026
Selasa, 03 Nov 2026, 23:40 WIBJAKARTA - Ketahanan eksternal Indonesia tetap kokoh di tengah dinamika global. Neraca perdagangan Indonesia kembali surplus USD 3,36 miliar pada September 2026, ditopang tiga komoditas utama nonmigas.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, tiga komoditas penyumbang surplus terbesar pada September 2026 adalah lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) sebesar USD 4,41 miliar, bahan bakar mineral (HS 27) USD 2,58 miliar, serta besi dan baja (HS 72) USD 1,85 miliar.
"Tiga komoditas penyumbang surplus nonmigas terbesar pada September 2026 adalah lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Sementara itu, negara penyumbang surplus terbesar adalah AS, India, dan Filipina," ujar Mendag Busan, Selasa (3/11).
Pada September 2026, surplus nonmigas tercatat USD 5,67 miliar meski tergerus defisit migas USD 2,31 miliar. Capaian ini sedikit menyusut dibanding Agustus 2026 yang surplus USD 3,55 miliar, namun tetap memperkuat tren surplus berkelanjutan.
Secara kumulatif, total surplus perdagangan Januari-September 2026 mencapai USD 10,61 miliar. Terdiri dari surplus nonmigas USD 34,21 miliar dan defisit migas USD 23,60 miliar.
Dominasi tiga komoditas utama juga terlihat pada kinerja kumulatif. Surplus nonmigas Januari-September ditopang lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) USD 29,31 miliar, bahan bakar mineral (HS 27) USD 21,42 miliar, serta besi dan baja (HS 72) USD 13,95 miliar.
"Keberhasilan mempertahankan surplus neraca perdagangan sebesar USD 10,61 miliar hingga September 2026 mencerminkan kokohnya ketahanan eksternal Indonesia. Capaian ini tidak lepas dari performa kuat sektor nonmigas kita," kata Busan.
Dari sisi mitra dagang, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar September 2026 dengan USD 2,15 miliar, diikuti India USD 1,66 miliar dan Filipina USD 0,77 miliar. Secara kumulatif, AS penyumbang terbesar dengan USD 17,37 miliar, India USD 10,81 miliar, dan Filipina USD 6,25 miliar.
Ekspor Tumbuh, Industri Pengolahan Jadi Penopang
Kinerja ekspor September 2026 mencapai USD 27,59 miliar, tumbuh 3,68 persen secara bulanan (MtM) dan 11,87 persen secara tahunan (YoY). Peningkatan didorong ekspor nonmigas yang naik 3,98 persen di tengah penurunan migas 4,08 persen.
Tiga komoditas penopang ekspor nonmigas September juga masih sama: lemak dan minyak hewani/nabati USD 4,43 miliar, bahan bakar mineral USD 2,99 miliar, dan besi dan baja USD 2,70 miliar.
Secara kumulatif Januari-September 2026, total ekspor Indonesia USD 221,23 miliar, tumbuh 5,58 persen. Sektor industri pengolahan menjadi penopang utama dengan kontribusi 82,64 persen atau senilai USD 182,83 miliar.
Sementara impor September 2026 tercatat USD 24,23 miliar, naik 5,09 persen (MtM), didominasi impor barang modal yang melonjak 12,14 persen. Mendag menyebut lonjakan impor yang produktif ini sejalan dengan ekspansi manufaktur nasional, di mana PMI manufaktur naik dari 49,8 pada Agustus menjadi 52,4 pada September 2026.
- Ekspor
- Mendag Budi Santoso
- Neraca Perdagangan
- Kementerian Perdagangan
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Hasil Liga Inggris: Chelsea Dipermalukan Tottenham Hotspur 0-2 di Derbi London
-
Marc Marquez Menang Sprint di Australia, Kembali Puncaki Klasemen MotoGP
-
Suluk Nagari, Santri Yogyakarta Diajak Jaga Tradisi dan Baca Perubahan Zaman
-
Kemendag: Nilai Ekspor Kecap Indonesia Tembus 18,81 Juta Dollar AS
-
Sudah 99 Persen, Kilang Balikpapan Siap Pangkas Impor BBM 25 Persen
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.