800 Peneliti dari 42 Negara Berkumpul di Yogyakarta Bahas Jejak Peradaban
Selasa, 03 Nov 2026, 11:45 WIB | Oleh: Eko S
Doc: Dok. Humas Pemda Yogyakarta
YOGYAKARTA – Lebih dari 800 peneliti dan praktisi dari 42 negara berkumpul di Yogyakarta dalam Kongres ke-23 Indo-Pacific Prehistory Association (IPPA) untuk membahas perkembangan riset arkeologi dan prasejarah. Indonesia dinilai memiliki posisi penting dalam kajian asal-usul hingga migrasi manusia di kawasan Indo-Pasifik.
Kongres bertema Tomorrow and Beyond tersebut berlangsung pada 1–7 November 2026. Kegiatan yang dipusatkan di Universitas Gadjah Mada (UGM) itu merupakan kolaborasi Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya UGM, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Dinas Kebudayaan DIY.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan Indonesia memiliki kekayaan temuan yang menjadikannya salah satu lokasi penting bagi penelitian paleoantropologi dan arkeologi.
"Pertemuan ini sangat penting, terutama karena Indonesia merupakan salah satu laboratorium paleoantropologi dan arkeologi untuk mengkaji asal-usul serta migrasi manusia, mulai dari Homo erectus hingga Homo sapiens," ungkap Fadli Zon.
Menurut dia, berbagai temuan berupa lukisan gua, rock art, dan rock shelters di Sulawesi, Kalimantan hingga Sumatera semakin memperkuat posisi Indonesia dalam kajian tersebut. Temuan Homo erectus di Jawa dan peninggalan di Liang Bua, Nusa Tenggara Timur, juga menjadi bagian penting penelitian tentang perjalanan manusia.
"Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa Nusantara adalah salah satu pusat migrasi penting dalam rangkaian migrasi manusia, khususnya di wilayah Indo-Pasifik hingga ke berbagai belahan dunia lain. Melalui kajian, diskusi, dan puluhan panel di kongres ini, kita berharap terjadi pertukaran informasi (exchange of information) dan debat ilmiah yang menarik. Hasil riset terakhir ini akan sangat berguna bagi konstruktivitas kita," jelas Menbud.
Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X saat membacakan sambutan Gubernur DIY mengatakan kajian arkeologi memungkinkan sejarah manusia dipahami sebagai rangkaian panjang pengalaman dan pertukaran pengetahuan antarmasyarakat.
“Kemajuan peradaban tidak semata diukur dari seberapa jauh manusia mampu melangkah, tetapi juga dari kebijaksanaannya memahami perjalanan yang telah dilalui. Atas nama Pemerintah Daerah dan masyarakat DIY, saya menyampaikan selamat datang kepada para ilmuwan dan pemikir dari berbagai penjuru dunia. Yogyakarta, dengan kekayaan sejarah dan warisan peradabannya, menjadi ruang perjumpaan ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan persahabatan antarbangsa,” tutur Paku Alam X.
Presiden IPPA periode 2024–2028 Prof. Anggraeni mengatakan peserta kongres berasal dari berbagai disiplin, mulai arkeologi, antropologi, paleoantropologi, sejarah, linguistik hingga pengelolaan warisan budaya.
Indonesia menjadi tuan rumah Kongres IPPA untuk kedua kalinya setelah penyelenggaraan di Yogyakarta pada 1990. Kembalinya forum tersebut ke Yogyakarta setelah lebih dari tiga dekade dinilai menunjukkan kesinambungan kontribusi Indonesia dalam pengembangan studi prasejarah dan arkeologi Indo-Pasifik.
Selain diskusi ilmiah, peserta dijadwalkan mengunjungi sejumlah situs pada 5 November, antara lain Candi Borobudur, Situs Liyangan, Kompleks Candi Prambanan dan Plaosan, serta Situs Manusia Purba Sangiran.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!