• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Krisis Sampah Perkotaan Ta...

Krisis Sampah Perkotaan Tak Hanya di Bali, Metode Murah 30 Hari Ini Bisa Selamatkan TPA Seluruh Indonesia

Senin, 02 Nov 2026, 21:10 WIB

JAKARTA– Tumpukan sampah organik perkotaan kini bukan lagi isu lokal Denpasar, melainkan ancaman ekologis nasional. Emisi gas rumah kaca dari TPA yang overkapasitas, pencemaran air lindi, hingga sarang vektor penyakit terjadi di hampir semua kota besar Indonesia. Tanpa tata kelola dari sumbernya, krisis ini dipastikan melampaui daya tampung Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di seluruh Indonesia.

Menjawab darurat sampah nasional tersebut, inovasi teknologi tepat guna berbasis sains hadir dari Denpasar sebagai model yang bisa direplikasi di seluruh daerah.

Ket. Foto: Pelatihan pengomposan aerobik yang diinisiasi oleh akademisi Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi, Universitas Warmadewa (Unwar), Dr. I Nengah Muliartadi TPS 3R Nirmala Saba, Kelurahan Penatih, Denpasar, pada Senin (2/11/2026) sore — Sumber: istimewa

Akademisi Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa, Dr. I Nengah Muliarta menginisiasi pelatihan pengomposan aerobik berbasis dekomposer alami di TPS 3R Nirmala Saba, Kelurahan Penatih, Denpasar, Senin (2/11/2026).

Kegiatan yang melibatkan Karang Taruna Kelurahan Penatih ini dinilai menjadi prototype kemandirian pengolahan sampah pemukiman yang relevan untuk diterapkan secara nasional, bukan hanya di Bali.

"Pergerseran paradigma penanganan sampah menuju sistem yang mandiri, murah, dan cepat menjadi sebuah keniscayaan mutlak bagi keberlanjutan wilayah, tidak hanya di Denpasar tapi di seluruh Indonesia," tegas Muliarta.

Kunci Nasional: Putus Ketergantungan Aktivator Mahal

Muliarta menegaskan, selama ini banyak TPS 3R di daerah gagal berkelanjutan karena bergantung pada aktivator komersial berbiaya mahal.

"Penggunaan dekomposer lokal atau mikroorganisme alami menawarkan keunggulan berupa daya adaptasi fisiologis yang luar biasa terhadap fluktuasi iklim serta efisiensi biaya bagi masyarakat," ujarnya.

Pendekatan ini mengoptimalkan potensi mikroorganisme lokal yang memiliki ketahanan fisiologis jauh lebih unggul. Artinya, daerah mana pun di Indonesia bisa mengembangkan dekomposer dari kotoran ternak atau tanah humus di sekitarnya tanpa harus beli produk pabrikan.

Secara teknis, metode Tambahan Dekomposer Alami (TDA) insitu diterapkan menggunakan wadah kotak bambu di atas gundukan tanah guna menghindari genangan air hujan serta menjaga sirkulasi udara tetap optimal. Sampah organik disusun berlapis berselang-seling dengan dekomposer alami.

Melalui manajemen aerasi dan kelembaban yang presisi, proses dekomposisi aerobik ini mampu menuntaskan penguraian hanya dalam 30 hingga 35 hari, menghasilkan kompos berkualitas tinggi bertekstur remah, hitam kelam, dan beraroma tanah matang yang higienis.

Beban TPA Nasional Bisa Ditekan Drastis

Ketua Kelompok Masyarakat Pengelola TPS 3R Nirmala Saba, I Made Dwiyita Wrhaspati, menilai metode ini menjadi jawaban atas beban operasional TPS 3R yang selama ini membengkak di berbagai daerah.

"Dari proses pelatihan yang diberikan, proses pengomposan ini terasa lebih mudah. Tentu kami berharap sampah organik ini bisa lebih cepat jadi kompos," kata Dwiyita.

Ia menambahkan, pelibatan pemuda menjadi kunci regenerasi pengelola sampah secara nasional.

"Keterlibatan pemuda harapannya ke depan membuat pengelolaan sampah organik menjadi lebih baik. Apalagi jumlah sampah akan terus meningkat seiring adanya pemukiman baru, yang kami harapkan masyarakat bisa melakukan pemilahan," tuturnya.

Model Denpasar ini membuktikan, dengan mereduksi sampah organik tuntas dari sumbernya, beban pembuangan ke TPA yang kini kritis di Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Denpasar bisa ditekan drastis sekaligus memutus rantai pencemaran.

"Kami mengucapkan terima kasih atas peran kampus dalam memberikan pengetahuan yang inovatif. Harapannya ke depan pengelolaan bisa lebih efisien serta memberikan dampak ekonomi dan berkelanjutan. Mudah-mudahan proses ini dapat berkelanjutan karena kami sangat membutuhkan dukungan semua pihak," pungkas Dwiyita.

Inovasi ini merupakan bagian dari Program Aksara Mahasiswa Berdampak yang didanai Kemdiktisaintek. Sinergi perguruan tinggi, mahasiswa, TPS 3R, dan Karang Taruna ini dinilai menjadi fondasi ekonomi sirkular nasional dan penerapan pertanian berkelanjutan berbasis Low External Input and Sustainable Agriculture (LEISA) yang bisa direplikasi dari Sabang sampai Merauke.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.