Dinas PUPR Aceh Barat Daya Perbaiki Jembatan Terancam Amblas akibat Luapan Sungai

Kamis, 05 Nov 2026, 14:40 WIB

BANDA ACEH – Dinas PUPR Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menurunkan tim teknis untuk meninjau dan mengkaji kondisi jembatan di Desa Cot Simantok Kecamatan Babahrot yang terancam amblas akibat tergerus luapan air sungai untuk segera diperbaiki.

"Kami sudah turun ke lokasi untuk melihat langsung kondisi fisik abutmen jembatan itu. Tahun ini memang sudah ada alokasi anggaran perbaikan, hanya saja pengerjaan oleh pihak rekanan belum bisa dimulai karena debit air sungai masih sangat besar," kata Kepala PUPR Abdya, Rahwadi, di Abdya, Rabu (04/11).

Ket. Foto: Tiang-tiang penyangga di bawah struktur abutment Jembatan Cot Simantok, Kecamatan Babahrot, Aceh Barat Daya mulai terekspos jelas ke permukaan akibat terus-menerus tergerus air sungai, di Abdya, Rabu (4/11/2026). — Sumber: ANTARA

Jembatan sepanjang sekitar 160 meter itu menghubungkan Desa Pante Cermin dengan Desa Cot Simantok di Kecamatan Babahrot, kini dilaporkan dalam kondisi kritis dan terancam amblas akibat luapan sungai.

Rahwadi mengatakan, fokus utama perbaikan jembatan tersebut tahun ini menjadi prioritas, sehingga dapat mengantisipasi abutmen jembatan tidak rubuh. 

Meski demikian, kata dia, pengamanan pada struktur abutment saja tidak menyelesaikan masalah secara permanen, sehingga harus dibarengi dengan pembangunan penahan tebing disekitar area.

Menurutnya, diperlukan pembangunan struktur penahan tebing tambahan sepanjang kurang lebih 200 meter, khususnya di kawasan tepi sungai yang berbatasan langsung dengan Desa Cot Simantok.

"Tebing di sebelah Desa Cot Simantok itu sangat rawan erosi jika terjadi banjir karena posisinya yang relatif rendah. Jadi, ke depan harus dibangun tanggul batu gajah penahan tebing di sana agar pengikisan tanah tidak terus meluas dan mengancam stabilitas jembatan," ujar Rahwadi.

Sementara itu, salah seorang warga Kecamatan Babahrot, Yek Adi mengatakan, tiang-tiang penyangga di bawah struktur abutment jembatan itu mulai terekspos ke permukaan akibat secara terus-menerus dihantam arus sungai. 

Menurutnya, selain faktor alam akibat tingginya intensitas hujan yang membuat aliran sungai Krueng Babahrot meluap, aktivitas pengambilan material galian C di sekitar aliran diduga mempercepat penurunan dasar sungai dan memperparah kerusakan zona pengaman kaki jembatan.

"Jarak sekitar 200 meter dari jembatan ada pengambilan galian C untuk kebutuhan batu pecah (split), kerikil, dan pasir. Ini perlu ditinjau ulang untuk antisipasi robohnya jembatan," demikian Yek Adi.

  • Dinas PUPR Kabupaten Aceh Barat Daya

Redaktur: Bambang Wijanarko

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.