Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bikin Otak Tumpul dan Tulisan Seragam, Akademisi Sulsel Peringatkan Bahaya Ketergantungan AI

2 Senin, 02 Nov 2026, 01:20 WIB | Oleh:
Bikin Otak Tumpul dan Tulisan Seragam, Akademisi Sulsel Peringatkan Bahaya Ketergantungan AI Bikin Otak Tumpul dan Tulisan Seragam, Akademisi Sulsel Peringatkan Bahaya Ketergantungan AI Doc: ANTARA/Desca Lidya Natalia
Ket. Agen AI dari perusahaan China, "WorkBuddy" dalam acara "Tencent Global Digital Ecosystem Summit 2026" di Shenzhen, provinsi Guangdong, Kamis (29/10).

MAKASSAR - Akademisi sekaligus penulis asal Sulawesi Selatan, Anis Kurniawan, mengingatkan generasi muda untuk tidak bergantung pada teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang dinilai berpotensi menggerus kejernihan berpikir, kreativitas, dan otentisitas karya tulis.

"Hal itu dari pengalaman saya ketika menjadi juri lomba penulisan novel dan cerita pendek tingkat siswa yang diikuti 40 peserta. Dari pengamatan selama proses penjurian, ada indikasi kuat penggunaan AI pada sekitar 90 persen naskah," kata Anis di Makassar, Minggu (1/11).

Saat menjadi pemateri dalam Seminar Literasi bertajuk "Menjaga Jiwa dalam Aksara" ia menyebutkan penggunaan AI secara berlebihan telah memengaruhi dua sektor penting, yakni jurnalistik dan pendidikan.

Di dunia jurnalistik, lanjut dia, teknologi tersebut mendorong produksi konten secara massal demi mengejar kecepatan dan monetisasi.

Sementara di lingkungan pendidikan, kemudahan AI membuat siswa semakin bergantung pada jawaban instan, sehingga tradisi membaca, diskusi kritis, dan proses berpikir mandiri berisiko semakin melemah.

Kegiatan tersebut diikuti 108 guru dan 370 siswa SMA se-Kota Makassar. Dalam pemaparannya, Anis membedah perubahan besar ekosistem kepenulisan sejak hadirnya berbagai teknologi AI seperti ChatGPT dan Claude yang kini mempermudah produksi teks, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan terhadap kualitas dan kedalaman karya.

Kondisi tersebut, kata dia, terlihat dari kecenderungan naskah yang memiliki pola seragam, kalimat normatif, serta pesan moral yang disampaikan secara kaku.

Fenomena ini, lanjut Anis, menjadi peringatan bahwa kemudahan teknologi dapat menghilangkan karakter dan keunikan gagasan apabila penulis menyerahkan seluruh proses kreatif kepada mesin.

"Kita akan kehilangan otentitas, kita kehilangan kejernihan," tegas Anis.

Pendiri sekaligus Pemimpin Redaksi Klikhijau.com tersebut menjelaskan bahwa karya sastra membutuhkan waktu, kesabaran, dan pergulatan pemikiran untuk menemukan kedalaman maknanya. Ketika proses tersebut dipangkas demi menghasilkan tulisan secara instan, karya yang dihasilkan berisiko hanya menjadi rangkaian kata tanpa pengalaman, substansi, dan kedalaman emosional.

Ia menyoroti bagaimana algoritma platform digital dapat mengunci pembaca dalam lingkaran selera yang sama melalui mekanisme collaborative filtering dan content-based filtering.

Akibatnya, pembaca cenderung terus disuguhi karya serupa berdasarkan riwayat bacaan sebelumnya, sehingga kesempatan mengenal karya yang lebih kompleks dan menantang pemikiran menjadi terbatas.

Menurut dia, kondisi tersebut semakin memperkuat pentingnya peran guru, editor, kritikus sastra, dan komunitas literasi dalam membangun ekosistem bacaan berkualitas. Penulis, kata dia, semestinya tidak hanya mengikuti selera pasar, tetapi juga mampu menghadirkan gagasan baru yang memperluas perspektif pembaca.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, ia menawarkan empat langkah penting bagi generasi muda, yakni mempertahankan kebiasaan membaca buku cetak, membangun tradisi menulis secara organik, menggunakan AI sebatas alat bantu dan bukan pengganti kreativitas, serta terus menjaga ruang dialog dan diskusi kritis.

Ia mendorong guru Bahasa Indonesia agar berperan sebagai penggerak ekosistem literasi di sekolah dengan memperkenalkan karya sastra bermutu, termasuk karya-karya yang menantang pemikiran seperti novel "Cantik Itu Luka" karya Eka Kurniawan.

"Guru-guru Bahasa Indonesia harus menjadi agensi untuk ekosistem bacaan berkualitas. Baca yang menantang, tulis yang bermakna. Pilih karya yang memperluas wawasan. Gunakan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti kreasi. Terus rawat tradisi, dialog, dan kualitas sastra. Jaga proses, jaga pikiran," ujarnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...

Workshop Capital Market Journalist

38 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Workshop Capital Market Jou...
Megapolitan
Warga Depok Dapat Memanfaat...
Megapolitan
Kaum Muda Harus Unggul dala...
Advertisement
Kerusuhan Migran Menjalar ke Swiss, Citra sebagai Negara Paling Stabil di Eropa Terancam

Kerusuhan Migran Menjalar ke Swiss, Citra sebagai Negara Paling Stabil di Eropa Terancam

01 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.