Sudirman Said: Kita Harus Terus Berikhtiar untuk Keluar dari Krisis Tata Kelola.
Minggu, 01 Nov 2026, 21:03 WIB | Oleh: Yebdi Trismar
Doc: Istimewa
Mengurus negara disederhanakan menjadi meraih, memperebutkan, mempertahankan, dan memperluas kekuasaan; dengan segala cara. Dalam bidang tata kelola, terdapat gejala-gejala yang makin akut, meritokrasi dilumpuhkan, kolusi dan nepotisme dijunjung tinggi
“Kita harus berikhtiar keluar dari krisis tata kelola,” kata Ketua Institut Harkat Negeri (IHN) Sudirman Said dalam sambutan di pembukaan Konferensi Republik bertajuk “Masyarakat Sipil dan Masa Depan Republik” di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (31/10/2026)
Sudirman menyampaikan, saat ini integritas dan kompetensi bukan syarat utama, kekerabatan lebih berharga. Orang-orang jujur dan bersih dimarginalkan, para cerdik cendekia dilecehkan, pelaku korupsi dan orang bermasalah dibiarkan bahkan dilindungi.
Institusi juga dilemahkan, personalisasi kekuasaan menjadi praktik yang disuburkan. Transparansi dan check and balance dipinggirkan, proses-proses tertutup di balik layar menjadi warna dalam pengembilan kebijakan.
“Praktik semacam ini, sungguh mencemaskan; karena yang terancam sesungguhnya adalah masa depan dan kelangsungan hidup generasi mendatang. Kita sedang mengorbankan yang disebut sebagai ‘Intergenerational justice”, keadilan antargenerasi,” imbuh Rektor Universitas Harkat Negeri itu.

Lebih lanjut SS, begitu panggilan akrabnya, mengatakan, kita dapat memasuki kritis multi dimensi. Ekonomi terus merosot, nafas perekonomian daerah ngos-ngosan akibat potongan hak-hak daerah atas nama efisiensi.
“Saya menolak ini sebagai langkah esisiensi, karena pihak yang memotongnya sama sekali tidak menampilkan tindak tanduk efisien,” tandas SS.
Dalam lapangan politik, lanjut SS, kita telah menghabiskan lebih dari satu dekade, memasuki kehidupan politik yang kian primitif. Negara telah berubah posturnya, yang semula dirancang sebagai alat untuk mendistribusikan keadilan dan kemakmuran, kini berubah wajah menjadi instrumen elektoral semata-mata.
“Menyikapi ini semua, kita tidak mungkin diam. Sebagai seorang muslim, ijinkan saya mengutip satu Hadits, perintah Rasul, ketika menyaksikan kehidupan yang jauh dari kepatutan: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran (Kejahatan, ketiakbenaran, kekeliruan), hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika ia tak mampu (juga), maka dengan hatinya, dengan doa. Dan itulah selemah-lemahnya iman”.
“Tentu saja, kita bukan orang-orang lemah. Doa dan harapan kita tak putus, tetapi hari ini kita membuktikan, dengan lisan, dengan pikiran, dengan hati, dan dengan tangan,” kita terus mengikhtiarkan perbaikan,” pungkas SS.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!