Kerusuhan Migran Menjalar ke Swiss, Citra sebagai Negara Paling Stabil di Eropa Terancam

Minggu, 01 Nov 2026, 22:23 WIB

LAUSANNE – Reputasi Swiss sebagai negara yang aman, tertib, dan stabil di Eropa mulai menghadapi ujian. Serangkaian kerusuhan yang melibatkan kelompok pemuda berlatar belakang migran terjadi di sejumlah kota, dengan Lausanne menjadi salah satu pusat bentrokan paling serius dalam beberapa dekade terakhir.

Kerusuhan di Lausanne dipicu kematian seorang remaja berusia 17 tahun keturunan migran dalam kecelakaan setelah terlibat insiden skuter curian dan pengejaran polisi. Peristiwa tersebut dengan cepat memicu kemarahan di kalangan kelompok pemuda.

Ket. Foto: Krisis tersebut juga membuka perdebatan lebih luas mengenai masa depan kebijakan imigrasi, integrasi sosial, dan kemampuan Swiss mempertahankan stabilitas yang selama ini menjadi salah satu fondasi kemakmurannya. — Sumber: Istimewa

Dalam dua malam berturut-turut, massa bertopeng turun ke jalan. Mereka membakar tempat sampah, merusak bus, serta menyerang polisi menggunakan batu dan kembang api.

Situasi semakin memburuk pada malam kedua ketika lebih dari 200 orang terlibat bentrokan dengan aparat. Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk mengendalikan kerusuhan.

Pemandangan tersebut mengingatkan pada kerusuhan di kawasan pinggiran kota Paris dan Lyon, Prancis. Namun, kali ini kekerasan berlangsung di Lausanne, kota yang selama ini dikenal memiliki kehidupan sosial relatif tenang.

Dalam laporan The Spectator, 27 Agustus 2025, seorang pengacara internasional yang berbasis di Paris, yang firma hukumnya mengkhususkan dalam litigasi dan arbitrase komersial internasional yang kompleks, James Tidmarsh, menyoroti perubahan situasi tersebut. Menurutnya, persoalan yang selama ini identik dengan negara-negara seperti Prancis, Inggris, Jerman, Belgia, dan Swedia kini mulai muncul di Swiss.

Selama puluhan tahun, Swiss merasa memiliki keunggulan dibandingkan negara-negara tetangganya. Selain tidak memiliki sejarah kolonial seperti sejumlah negara Eropa lainnya, Swiss juga berada di luar Uni Eropa dan dikenal memiliki pengendalian imigrasi yang ketat.

Namun, perkembangan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa kebijakan tersebut tidak sepenuhnya mampu mencegah munculnya ketegangan sosial.

Selama satu dekade terakhir, Swiss telah menerima lebih dari 200.000 pengungsi. Mereka antara lain berasal dari Eritrea, Somalia, Suriah, Afghanistan, serta sejumlah negara Afrika dan negara mayoritas Muslim lainnya.

Persoalan integrasi kemudian menjadi salah satu tantangan yang dihadapi pemerintah, terutama di kawasan perkotaan yang memiliki konsentrasi penduduk berlatar belakang migran cukup besar.

Di Lausanne, persoalan tersebut juga bersinggungan dengan perdebatan politik mengenai keberagaman dan perlakuan aparat terhadap kelompok minoritas.

Kota yang dipimpin koalisi Partai Sosialis dan Partai Hijau itu selama ini dikenal menerapkan berbagai kebijakan progresif. Program yang dijalankan mencakup lokakarya keberagaman, pedoman bahasa inklusif, hingga kampanye antirasisme.

Namun, Tidmarsh menyoroti kondisi di distrik Prélaz, tempat sejumlah pemuda migran masih menghadapi persoalan pengangguran, kualitas perumahan yang buruk, dan ketidakpercayaan terhadap kepolisian.

Ketegangan semakin meningkat setelah empat polisi ditangguhkan akibat pesan WhatsApp bernada rasis. Kelompok kiri kemudian menuding adanya rasisme sistemik di tubuh kepolisian dan menilai perilaku aparat turut berkontribusi terhadap konflik.

Wali Kota Lausanne, Grégoire Junod, yang berasal dari Partai Sosialis, telah menjanjikan reformasi besar-besaran untuk memulihkan kepercayaan masyarakat. Dia juga mengakui adanya persoalan diskriminasi sistemik di lingkungan kepolisian.

Meski demikian, Tidmarsh berpendapat bahwa perdebatan mengenai dugaan rasisme polisi tidak boleh mengesampingkan persoalan integrasi dan kebijakan imigrasi.

Dia menilai kematian remaja tersebut merupakan pemicu dari ketegangan yang sudah lama terakumulasi di masyarakat.

Kerusuhan Lausanne juga bukan satu-satunya insiden serupa di Swiss. Dalam beberapa bulan terakhir, Zürich, Bern, dan Basel turut mengalami bentrokan antara kelompok pemuda dan aparat keamanan.

Di Bern, sebanyak 11 polisi terluka dalam kerusuhan pada Juni 2025. Sementara di Zürich, kelompok bertopeng terlibat bentrokan dengan polisi yang menggunakan gas air mata dan meriam air pada awal musim panas tahun itu.

Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan bahwa Swiss mulai menghadapi persoalan sosial yang sebelumnya lebih sering menjadi sorotan di negara-negara Eropa lainnya.

Tidmarsh menilai pemerintah Swiss selama ini terlalu percaya bahwa negaranya memiliki karakter sosial yang berbeda sehingga dapat terhindar dari persoalan integrasi yang dialami negara tetangga.

Padahal, menurutnya, kebijakan keberagaman dan inklusi perlu diimbangi dengan langkah konkret untuk mendorong integrasi penduduk pendatang ke dalam kehidupan masyarakat.

Persoalan ini juga memiliki konsekuensi ekonomi. Swiss selama ini membangun kemakmurannya dengan reputasi sebagai negara yang aman dan stabil, sehingga menarik individu kaya, perusahaan, serta investasi dari berbagai belahan dunia.

Citra tersebut berpotensi terpengaruh apabila bentrokan sosial terus berulang dan ketegangan antara kelompok masyarakat dengan aparat semakin meluas.

Karena itu, kerusuhan di Lausanne bukan sekadar persoalan keamanan lokal. Peristiwa tersebut juga membuka perdebatan lebih luas mengenai masa depan kebijakan imigrasi, integrasi sosial, dan kemampuan Swiss mempertahankan stabilitas yang selama ini menjadi salah satu fondasi kemakmurannya.

  • Kerusuhan Migran

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.