• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Hampir Separuh Pengakses P...

Hampir Separuh Pengakses Pertama Pinjol Ini adalah Perempuan

Minggu, 01 Nov 2026, 21:52 WIB

JAKARTA — Perempuan semakin berperan dalam pemanfaatan layanan pembiayaan digital untuk mendukung aktivitas ekonomi dan pengembangan usaha. Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo mencatat, 48 persen masyarakat yang pertama kali memperoleh akses kredit melalui platform tersebut merupakan perempuan. Persentase yang sama juga tercatat pada penerima kredit usaha Kredivo.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa layanan pembiayaan digital berpotensi memperluas akses keuangan bagi kelompok masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan dalam memperoleh kredit formal. Selain membuka akses pembiayaan, laporan itu juga menemukan hubungan positif antara penggunaan kredit produktif dan penguatan posisi tawar perempuan dalam pengambilan keputusan finansial di rumah tangga.

Ket. Foto: Ilustrasi perempuan mengakses layanan pinjaman daring. Laporan Kredivo mencatat 48 persen pengakses kredit pertama dan penerima kredit usaha merupakan perempuan, yang turut mendorong peningkatan kredit produktif untuk mendukung kemandirian ekonomi. — Sumber: Kredivo

Akses kredit formal bagi perempuan masih menghadapi sejumlah kendala, antara lain keterbatasan agunan, riwayat kredit, dan bukti pendapatan. Padahal, perempuan memiliki peran penting dalam kegiatan ekonomi, termasuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Mengutip data Bank Dunia pada 2020, sekitar 60 persen UMKM di Indonesia dimiliki perempuan. Namun, keterbatasan pembiayaan masih menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan usaha mereka.

Chief Marketing Officer Kredivo, Indina Andamari, mengatakan perluasan akses pembiayaan perlu memberikan kesempatan yang setara bagi laki-laki dan perempuan. Menurut dia, kredit yang digunakan sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial dapat membantu perempuan mengembangkan usaha serta memperkuat kemandirian ekonomi.

“Sejak berdiri pada 2016, Kredivo percaya bahwa inklusi keuangan harus memberikan kesempatan yang setara, termasuk bagi laki-laki maupun perempuan untuk mengakses pembiayaan. Akses kredit yang sesuai kebutuhan dan kemampuan dapat menjadi salah satu enabler bagi perempuan untuk mengembangkan usaha, memperkuat kemandirian ekonomi, hingga berdampak pada kesejahteraan keluarga,” ujar Indina melalui siaran pers, Jumat (30/10/2026).

Akses Kredit Pertama Meningkat 10 Kali Lipat

Laporan tersebut juga mencatat jumlah masyarakat yang memperoleh akses kredit pertama melalui Kredivo meningkat hingga 10 kali lipat dibandingkan 2019. Perluasan akses itu diikuti peningkatan pemanfaatan pembiayaan untuk kebutuhan produktif.

Pada 2025, sebanyak 54 persen kredit yang disalurkan Kredivo digunakan untuk kebutuhan produktif. Sementara itu, jumlah pengguna yang mengakses kredit untuk modal usaha meningkat hingga 15 kali lipat dibandingkan 2019.

Dari kelompok penerima kredit usaha tersebut, 48 persen merupakan perempuan. Data ini memperlihatkan bahwa pembiayaan digital tidak hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi juga menjadi salah satu sumber pendanaan bagi kegiatan ekonomi dan pengembangan usaha.

Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI), Paksi Walandouw, mengatakan terbukanya akses kredit dapat memengaruhi kemampuan perempuan dalam mengelola sumber daya dan menentukan pilihan ekonomi.

“Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa Kredivo turut memperluas akses kredit bagi perempuan, dengan 48 persen pengguna yang pertama kali mengakses kredit melalui Kredivo adalah perempuan. Hal ini menjadi indikasi positif bagi inklusi keuangan, mengingat akses terhadap sumber daya ekonomi dapat memengaruhi posisi tawar perempuan, baik dalam keluarga maupun aktivitas ekonomi yang lebih luas,” kata Paksi.

Menurut dia, dampak inklusi keuangan tidak cukup diukur dari jumlah masyarakat yang memperoleh pembiayaan. Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah bagaimana akses tersebut meningkatkan kapasitas perempuan dalam mengelola sumber daya, menentukan keputusan ekonomi, dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan di rumah tangga.

Literasi Keuangan dan Pinjaman Bertanggung Jawab

Di tengah perluasan akses kredit, penggunaan pembiayaan secara bijak menjadi perhatian penting. Kemudahan memperoleh kredit perlu diimbangi pemahaman mengenai kemampuan membayar, kebutuhan pembiayaan, serta risiko yang menyertai penggunaan layanan keuangan.

Laporan Kredivo mencatat 65,7 persen penggunanya masuk kategori well-literate atau memiliki tingkat pemahaman keuangan yang baik. Perusahaan juga menyatakan menerapkan prinsip responsible lending atau penyaluran pinjaman secara bertanggung jawab.

Sejumlah program edukasi keuangan turut dijalankan, antara lain Generasi Djempolan, Kredinspirasi, #AutoMikir, #AndaiAndaPandai, dan KrediCast. Inisiatif tersebut ditujukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan keuangan dan penggunaan kredit.

Indina menegaskan, perluasan akses pembiayaan harus berjalan beriringan dengan peningkatan literasi keuangan agar masyarakat dapat memanfaatkan kredit sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial.

“Semakin luas akses yang terbuka, semakin penting memastikan pertumbuhannya tetap sehat. Karena itu, perluasan inklusi perlu berjalan beriringan dengan literasi keuangan dan penerapan responsible lending, agar masyarakat tidak hanya memiliki akses terhadap kredit, tetapi juga mampu menggunakannya secara bijak sesuai kebutuhan dan kemampuan finansialnya,” ujarnya.

Temuan tersebut menempatkan akses pembiayaan sebagai salah satu faktor pendukung kemandirian ekonomi perempuan. Namun, manfaatnya akan lebih berkelanjutan apabila disertai penggunaan kredit produktif, pengelolaan keuangan yang baik, dan kemampuan membayar pinjaman secara bertanggung jawab.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.