Tak Sekadar Wisata Kebugaran, Jogja Cultural Wellness Festival 2026 Angkat Budaya Minum Jamu hingga Keindahan Keris
Sabtu, 31 Okt 2026, 08:38 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
JAKARTA - Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026 bertema "Reconnect-Reconnecting People, Culture & Wellbeing" akan mengangkat budaya tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta yang telah mengakar turun temurun seperti minum jamu hingga memperkenalkan keindahan keris.
"Kami punya idealisme untuk merekonteksualisasi warisan budaya tak benda yang ada di Jogja. Jadi kearifan lokal yang ada di Jogja tidak hanya sebatas keji warisan budaya dan masuk buku selesai, tetapi bagaimana kita merekonteksualisasi untuk lebih melekat kepada geng Z dan juga alfa, beta dan demografi selanjutnya," kata Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat.
GKR Bendara mengatakan sebanyak 97 komunitas dan mitra yang terkurasi akan ikut meramaikan festival kebugaran yang diselenggarakan pada 6 sampai 8 November 2026 di Loman Park Hotel, Yogyakarta itu. Dengan rincian 65 merupakan praktisi kebugaran dan 32 lainnya merupakan artisan.
Di dalamnya terdapat sebanyak 85 rangkaian program yang terjadwal, dan 14 di antaranya dapat diakses oleh publik secara gratis. Ada enam tema yang diangkat yakni "Spiritual & Energy Healing", "Mental Health & Emotional Wellbeing", "Meditation & Sound Healing", "Healthy Food & Herbals", "Art Therapy" dan "Breathwork & Mindful Movement".
Seluruh tema mengangkat mengenai cara nenek moyang dalam merawat kesehatan pikiran, jiwa dan raga. Menurut dia, tahun ini menjadi berbeda karena ada beberapa pengalaman menarik yang ingin diperkenalkan oleh pemerintah setempat, seperti dihadirkannya lokakarya jamu, senam bersama SKJ 88, meditasi laku mulih, membaca tarot Jawa sampai dengan konsultasi keris.
GKR Bendara menekankan bahwa selama ini keris dianggap sebagai barang mistis dan kerap dikaitkan dengan berbagai macam hal ghaib. Melalui JCWF 2026, keris akan diperkenalkan sebagai senjata tradisional yang memiliki nilai artistik dan memiliki bentuk yang berbeda-beda.
"Ada nilai filosofis dalam sebuah keris, kenapa keris itu kelok-kelok, ada yang kerisnya lurus, penggunaannya kapan dan sebagainya. Kami juga memperlihatkan bagaimana cara membersihkan keris dan itu bukan ritual musyrik," ucapnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!