Rupiah Hari Ini Melemah, Kredibilitas BI Dipertaruhkan

Jumat, 30 Okt 2026, 17:40 WIB

JAKARTA – Rupiah bergerak fluktuatif seiring meningkatnya perhatian pelaku pasar terhadap arah kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan merespons tekanan eksternal.

Sikap BI dalam menentukan bauran kebijakan moneter akan menjadi faktor penting bagi persepsi investor terhadap daya tahan ekonomi domestik.

Ket. Foto: Ilustrasi - Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Haji La Tunrung, Makassar, Sulawesi Selatan. — Sumber: ANTARA FOTO/ Hasrul Said

Di tengah ketidakpastian global, pasar mencermati sejauh mana kebijakan BI mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas rupiah, inflasi, dan momentum pertumbuhan ekonomi.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan, Jumat (30/10), bergerak melemah 10 poin atau 0,06 persen menjadi Rp18.147 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.137 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan rupiah bergerak fluktuatif seiring fokus pasar pada arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).

“Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa keputusan terkait suku bunga acuan akan tetap mempertimbangkan perkembangan data ekonomi dan kondisi pasar,” ujarnya di Jakarta.

Lebih lanjut, Destry juga mengungkapkan bahwa pihaknya dengan sejumlah instrumen untuk menjaga stabilitas rupiah, tidak hanya melalui suku bunga, tetapi juga insentif biaya lindung nilai (hedging), kebijakan makroprudensial, dan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Hal itu menunjukkan BI masih memiliki ruang untuk merespons tekanan terhadap rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan.

Sementara itu, dari Amerika Serikat, data yang dirilis pada Kamis (29/10) menunjukkan inflasi PCE September meningkat menjadi 3,6 persen secara tahunan, dibandingkan 3,4 persen pada bulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal III-2026 juga tercatat sebesar 3,4 persen secara tahunan.

Data tersebut, kata dia lagi, menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi AS masih cukup kuat, sementara tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda.

“Kondisi ini dapat membuat pelaku pasar tetap memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter The Fed yang lebih ketat ke depan,” ujar Amru.

Ke depan, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan inflasi AS, arah kebijakan The Fed, dan respons pasar terhadap kondisi ekonomi global.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp18.138 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.128 per dolar AS.

  • rupiah hari ini

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.