Nabire Bersiap Jadi Kampung Cokelat dari Timur
Jumat, 30 Okt 2026, 18:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara/ Dok LPEI
NABIRE – Pengembangan komoditas kakao memiliki peluang strategis untuk memperkuat sektor perkebunan sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat.
Namun, potensi tersebut membutuhkan dukungan yang tidak berhenti pada peningkatan produksi, melainkan juga mencakup perbaikan kualitas biji, penguatan kelembagaan petani, hilirisasi, hingga perluasan akses pasar.
Tanpa pembenahan rantai usaha dari hulu ke hilir, besarnya potensi kakao nasional berisiko belum optimal dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan daya saing industri pengolahan.
Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan tiga juta bibit kakao untuk dikembangkan di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, sebagai langkah mendorong daerah ini menjadi produsen kakao dalam tiga hingga empat tahun ke depan.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Papua Tengah drh Rafael Heri Nugroho, di Nabire, Jumat (30/10), mengatakan bantuan bibit kakao melalui Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan tersebut saat ini masih dalam tahap persiapan untuk penyaluran bantuan.
“Bantuan tiga juta tanaman kakao saat ini masih dalam tahapan persemaian. Kami harapkan di akhir tahun ini bisa disalurkan kepada kelompok-kelompok petani kakao yang ada di Kabupaten Nabire,” katanya pula.
Ia mengatakan, persemaian bibit kakao berada di kawasan Samabusa, lokasi yang disiapkan untuk menampung jutaan bibit yang dikembangkan secara bertahap mengikuti pengiriman benih dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka).
Pemprov Papua Tengah juga akan berkolaborasi dengan Pemkab Nabire untuk mengawal penyaluran dan penanaman bibit, agar program tersebut berjalan sesuai harapan.
Dia menjelaskan, calon petani dan calon lokasi (CPCL) penerima bantuan telah diusulkan oleh Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Nabire melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Papua Tengah.
Usulan tersebut kemudian diverifikasi bersama Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) untuk memastikan kesiapan petani penerima bantuan.
“Kami sangat berterima kasih dan mendukung apa yang digagas oleh Kementerian Pertanian. Bersama-sama kami berkolaborasi dengan Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Nabire,” ujarnya.
Ia mengatakan, pengembangan komoditas ini tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi biji kakao.
Hasil perkebunan tersebut juga berpotensi diolah menjadi berbagai produk turunan, seperti bubuk kakao dan cokelat batangan, sehingga memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Dia berharap pengembangan kakao tersebut dapat menjadikan Nabire sebagai daerah produsen kakao dalam tiga hingga empat tahun mendatang.
“Kita juga berharap kakao ini bisa berkembang menjadi komoditas unggulan Papua Tengah, selain kopi,” ujarnya.
Sebelumnya, Kementan telah mengembangkan kebun kakao sebesar 3.000 hektare di Nabire. Program tersebut terdiri atas peremajaan tanaman seluas 1.000 hektare dan perluasan areal tanam atau ekstensifikasi seluas 2.000 hektare.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!