Formula 1: Kimi Antonelli Mengincar Jejak Legenda Italia Alberto Ascari
Jumat, 30 Okt 2026, 06:00 WIBMEXICO CITY â Kimi Antonelli berpeluang mengikuti jejak Giuseppe âNinoâ Farina dan Alberto Ascari sebagai juara dunia Formula 1 asal Italia. Pembalap Mercedes berusia 20 tahun itu menghadapi akhir pekan penting yang dapat membawanya masuk ke dalam sejarah panjang olahraga otomotif Italia.
Italia terakhir kali memiliki juara dunia Formula 1 pada 1953, ketika Ascari merebut gelar keduanya bersama Ferrari. Jika Antonelli mampu mengakhiri penantian panjang tersebut, ia akan menjadi juara dunia Italia pertama dalam 73 tahun terakhir.
Farina lebih dahulu membuka sejarah pada tahun 1950 dengan menjuarai edisi perdana Kejuaraan Dunia Formula 1 bersama Alfa Romeo. Namun, sejak Ascari meraih gelar keduanya, belum ada pembalap Italia yang kembali menduduki takhta tertinggi balap jet darat.
Ketika ditanya mengenai pendahulunya, Antonelli mengaku mengetahui sejumlah hal tentang sosok legendaris tersebut.
âSaya tahu ada tikungan di Monza yang dinamai berdasarkan namanya. Saya juga tahu bahwa dia adalah juara Italia terakhir. Itu sudah lama sekali. Sangat, sangat lama,â kata Antonelli.
Kisah Ascari tidak hanya dikenang karena dua gelar dunianya, tetapi juga karena perjalanan hidupnya yang berakhir tragis pada usia 36 tahun.
Ia merupakan putra Antonio Ascari, pembalap Italia yang meninggal dalam kecelakaan pada Grand Prix Prancis 1925 di Montlhéry, dekat Paris. Saat itu, Antonio juga berusia 36 tahun, jauh sebelum kejuaraan dunia Formula 1 dimulai pada 1950.
Alberto meneruskan warisan ayahnya dan tumbuh menjadi salah satu pembalap tercepat pada masanya. Ia menjuarai Formula 1 pada 1952 dan 1953, keduanya bersama Ferrari.
Namun, nasib tragis menimpanya di Sirkuit Monza pada 1955. Ascari sebenarnya datang hanya untuk menyaksikan rekannya, Eugenio Castellotti, menguji mobil sport Ferrari. Ia kemudian memutuskan mencoba mobil tersebut.
Tanpa mengenakan helm biru muda kesayangannya yang dianggap membawa keberuntungan, Ascari turun ke lintasan dengan pakaian biasa. Mobil yang dikendarainya tergelincir dan terbalik di tikungan Curva del Vialone. Ia terlempar keluar dan meninggal dunia.
Tikungan tersebut kini dikenal sebagai Variante Ascari, salah satu bagian lintasan Monza yang akrab bagi penggemar Formula 1.
Empat hari sebelumnya, Ascari juga mengalami kecelakaan mengerikan di Grand Prix Monako. Mobil Lancia yang dikendarainya terjun ke pelabuhan setelah kehilangan kendali di tikungan keluar terowongan. Ia secara ajaib selamat meski mobilnya masuk ke air.
Ascari pernah menekankan pentingnya segera kembali mengemudi setelah mengalami kecelakaan agar keraguan tidak muncul. Namun, empat hari setelah insiden di Monako, kecelakaan fatal di Monza mengakhiri kariernya.
Puluhan ribu warga Italia menghadiri pemakamannya. Helm biru yang selalu menjadi ciri khasnya diletakkan di atas peti jenazah, sebelum ia dimakamkan di samping sang ayah.
Kecepatan Ascari meninggalkan kesan mendalam bagi generasi pembalap berikutnya. Mike Hawthorn, juara dunia pertama Inggris, pernah menyebut Ascari sebagai pembalap tercepat yang pernah dilihatnya, bahkan lebih cepat daripada Juan Manuel Fangio.
Legenda balap Amerika Serikat kelahiran Italia, Mario Andretti, juga menganggap Ascari sebagai idolanya.
Andretti, juara dunia Formula 1 1978, mengenang pengalamannya menyaksikan Grand Prix Italia di Monza ketika berusia 14 tahun. Ascari memang tidak memenangi balapan tersebut, tetapi keberaniannya menghadapi Mercedes yang lebih kuat membuat Andretti terpesona.
âDia sangat tenang dan santai. Dia melakukan tugasnya dengan kendali penuh atas mobilnya. Saya menyukai gaya seperti itu,â ujar Andretti dalam kenangannya.
Hingga Antonelli muncul sebagai salah satu pembalap Italia paling menjanjikan, Ascari masih memegang sejumlah rekor nasional. Ia mengoleksi 13 kemenangan dari 32 balapan Formula 1, rekor kemenangan terbanyak sepanjang karier bagi pembalap Italia.
Antonelli, yang telah mengumpulkan sembilan kemenangan dalam satu musim menurut data dalam laporan tersebut, juga berpeluang melampaui rekor kemenangan Ascari dalam satu musim maupun kemenangan beruntun.
Perjalanan Antonelli menjadi perhatian besar di Italia. Ia bukan hanya membawa harapan bagi Mercedes, tetapi juga membuka kemungkinan berakhirnya penantian panjang negara tersebut untuk kembali memiliki juara dunia Formula 1.
- Formula 1
- GP Meksiko
- Kimi Antonelli
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Prancis Membara, 1.800 Orang Ditangkap dan 500 Aparat Terluka dalam Gelombang Protes
-
Prasasti: Demi Tumbuhkan Ekonomi dan Ciptakan Lapangan Kerja,Perlunya Kebijakan Untuk Bantu Usaha Jadi Unggul
-
Lahan Pertanian Sulsel Terdampak Kekeringan, Produksi Terancam
-
Ekspansi Besar Peradi Profesional Jateng, 14 DPD Dibidik dan Gandeng 10 Fakultas Hukum
-
43 Perahu dari Barang Bekas Ramaikan Festival CiLung 2026 di Sunter
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.