dr Kanadi: Mood Swing tak Melulu Disebabkan Kondisi Jelang Menopause
Kamis, 29 Okt 2026, 16:35 WIB | Oleh: Sujar
Doc: ANTARA/Sinta Ambar
JAKARTA -- Dokter spesialis obstetri dan ginekologi sub-spesialis Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi Dr.dr. Kanadi Sumapradja, Sp.O.G, Subsp.F.E.R.,M.Sc mengatakan bahwa mood swing atau perubahan suasana hati secara mendadak pada perempuan tidak melulu disebabkan karena persoalan menjelang menopause.
“Karena adanya fluktuasi tadi maka tentu terjadi penurunan estrogen atau terjadi dominasi hormon progesteron misalnya memang menyebabkan perubahan mental state yang menyebabkan mood swing dan itu bisa terjadi bukan hanya pada menopausee tapi juga pada penggunaan obat-obatan tertentu yang menyebabkan penurunan estrogen,” kata Kanadi dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.
Penanggung jawab program pendidikan subspesialis bidang fertilitas, endokrinologi dan reproduksi FKUI itu menambahkan bahwa perubahan suasana hati juga berkaitan dengan perubahan fisik dan mental tak hanya bergantung pada satu faktor melainkan multi faktor yang perlu dianalisa lebih jauh.
Sementara untuk menghadapi kondisi mood swing pada perempuan, ia mengatakan bahwa tubuh memiliki cara adaptasi masing-masing.
“Semua orang punya cara masing-masing untuk beradaptasi pada perubahan fisik dan mental dan ini yang dikenal dengan copying system dan ini juga mungkin berhubungan dengan bagaimana ia menjalani hidupnya sehari-hari dan seterusnya dan support system di sekelilingnya akan mendukung perubahan ini,” katanya.
Dukungan orang terdekat bagi perempuan yang mengalami perubahan ini berpengaruh pada bagaimana ia beradaptasi dengan perubahan, mengenali dengan baik dan memahami apa yang terjadi terutama pada masa transisi menuju menopause.
Kanadi mengatakan bahwa perempuan akan mengalami masa perimenopause yakni periode transisi menuju menopause yang ditandai dengan perubahan siklus menstruasi, penurunan fungsi ovarium dan fluktuasi kadar hormon.
Tahap perimenopause ini berlangsung pada usia 40-44 tahun dan menopause biasanya berlangsung saat memasuki usia 45-55 tahun.
Sementara pascamenopause adalah periode setelah menopause yaitu tidak mengalami menstruasi selama kurang lebih 12 bulan berturut-turut akibat berhentinya fungsi ovarium.
Gejala perimenopause meliputi gangguan haid, gangguan tidur, gejala kognitif seperti sulit konsentrasi, mudah lupa dan brain fog kemudian perubahan urogenital, perubahan kesehatan tulang dan jantung, nyeri, perubahan fisik hingga perubahan mood.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!