Warisan Leluhur Terancam karena Terkendala Sumber Daya Manusia Muda
Rabu, 28 Okt 2026, 01:35 WIBKUDUS - Â Banyak warisan leluhur terancam musnah karena kekurangan sumber daya manusia (SDM). Contoh, mengenai upaya pelestarian Batik Kudus. Sekarang makin sulit mencari SDM muda yang mau menjadi pembatik. Padahal untuk bisa jadi ahli, perlu berpuluh-puluh tahun membatik. Perajin Batik Kudus, Muhammad Fadloli, mengatakan bahwa batik Kudus memiliki perjalanan panjang dan sempat terputus dari beberapa generasi.Â
Menurutnya, kondisi tersebut bukan berarti aktivitas membatik benar-benar berhenti, melainkan para pembatik yang terus menekuni bidangnya ini hanya tidak sempat banyak diketahui keberadaannya. Salah satunya karena tersaingi dengan keberadaan industri rokok kretek.
âKeberadaan batik Kudus itu istilahnya tersaingi dengan keberadaan industri rokok kretek yang sangat mendominasi,â kata Fadloli dalam acara âBincang Batik: Menyambung Mata Rantai yang Terputusâ di Museum Tekstil Jakarta, Selasa. Fadloli menjelaskan bahwa batik Kudus memiliki karakteristik perpaduan corak pesisir dengan warna soga khas batik pedalaman.
Lebih lanjut Fadloli menjelaskan bahwa keberadaan batik Kudus mengalami masa jayanya di sekitar tahun '30-an. Namun kemudian di Kota Kudus sendiri berkembang industri rokok kretek yang turut menyerap tenaga kerja yang awalnya mereka itu pembatik beralih menjadi buruh rokok.
âKudus sendiri itu di masa lalunya mempunyai tradisi membatik. Tetapi di masa era industri rokok kretek itu, para pengusaha yang ingin menghasilkan batik Kudus yang sangat halus, mereka mendatangkan para pembatik dari Pekalongan, Batang, ataupun Lasem,â tutur Fadli.
âJadi kalau ada batik peranakan Kudus yang sangat halus, itu kemungkinan pekerjanya adalah dari Pekalongan dan Batang. Sedangkan para pembatik penduduk lokal itu mengerjakan para pembatik dari Lasem,â tambah dia.
Fadloli mengatakan, masyarakat Kudus kerap menggunakan batik sebagai sarung dan kain panjang. Tradisi berkain batik tersebut masih terlihat dalam berbagai acara, ketika para laki-laki mengenakan sarung batik. Kondisi itu mendorongnya untuk kembali menghidupkan dan melestarikan batik Kudus, meskipun perajin yang sangat kecil.
Ia menambahkan meski masih keterbatasan kapasitas produksi membuat pihaknya belum mampu memenuhi seluruh pesanan yang masuk. Untuk mengatasi hal tersebut, ia membuat di luar Kudus dengan bekerja sama dengan keluarganya di Solo untuk memproduksi batik tersebut.
âJadi untuk mempertahankan tradisi itu, walaupun kita membuat dalam jumlah sedikit, saya masih ingat satu bulan itu dulu cuma bisa menghasilkan empat kain sarung, tapi yang bisa kita mendapatkan banyak itu kita mengorder dari keluarga kita yang ada di Solo, ini sampai tahun awal 2000,â kata Fadloli.
Fadloli mengatakan tradisi mengenakan sarung batik di Kudus terus berkembang, terutama di kalangan santri di daerah tersebut hampir seluruhnya menggunakannya dalam keseharian. Namun, ia menyayangkan keterbatasan kapasitas produksi perajin batik tulis yang tidak memungkinkan mereka memenuhi pesanan dalam jumlah besar.
âTapi yang saya prihatinkan memang juga kalau kita sebagai perajin batik tulis disuruh membikin banyak itu enggak sanggup. Ya yang panen itu pengusaha batik cetak ya, jadi bisa mencukupi kapasitas,â imbuh dia.
Untuk melestarikan, lanjut Fadloli, karena Batik Kudus perlu memperhatikan sumber dan warisan batik kuno yang memiliki motif serta isen-isen atau ornamen pengisi sangat rumit.
Menurut dia, orang yang bisa membatik membuat isen-isennya tersebut biasanya pembatik yang mulai umur 15 tahun yang sudah terjun menjadi seorang pembatik dan baru mumpuni sekitar berusia 40 sampai 50 tahun.
âJadi enggak bisa instan. Kalau saya mempunyai pembatik yang usianya 20 ke 30 dia bisa membuat isen, tapi tidak bisa sehalus para pembatik Pekalongan. Karena untuk mendatangkan pegawai ke Kudus seperti para perajin terdahulu, itu sekarang kita banyak menghadapi tantangan,â kata dia.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.