Tak Cukup Publikasi, Riset Indonesia Didorong Jadi Solusi Nyata
Rabu, 28 Okt 2026, 03:00 WIBJakarta â Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Fauzan Adziman mendorong penguatan hilirisasi riset genomik dan bioteknologi agar menghasilkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi.
Fauzan menekankan pengembangan riset perlu dimulai dengan mengidentifikasi persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, industri, maupun pemerintah. Pendekatan berbasis masalah tersebut diharapkan membantu peneliti merancang solusi yang relevan dan berpotensi dikembangkan menjadi produk atau usaha berbasis teknologi.
âRiset tidak dapat berhenti pada publikasi ilmiah atau pengembangan prototipe. Diperlukan proses berkelanjutan yang menghubungkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pengembangan produk, pemenuhan regulasi, akses pasar, hingga komersialisasi,â katanya dalam keterangan di Jakarta, Selasa (27/10).
Menurut Fauzan, proses hilirisasi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar hasil penelitian dapat diadopsi dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia menyoroti potensi genomik, bioteknologi, dan bioinformatika untuk mendukung pengembangan inovasi di Indonesia. Dengan kekayaan biodiversitas yang dimiliki, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk mengembangkan solusi di bidang kesehatan, pangan, dan industri.
âPenguatan kapasitas sumber daya manusia serta pemanfaatan teknologi komputasi menjadi bagian penting untuk mempercepat pengembangan riset di bidang tersebut,â ujarnya.
Fauzan juga menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah dalam membangun ekosistem hilirisasi. Perguruan tinggi perlu memperkuat keterhubungan antara pendidikan, penelitian, dan pengembangan, sedangkan industri dan pemerintah dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan serta tantangan yang perlu dijawab melalui riset dan inovasi.
Selain itu, kolaborasi lintas disiplin diperlukan dalam proses komersialisasi. Pengembangan inovasi tidak hanya membutuhkan penguasaan sains dan teknologi, tetapi juga pemahaman mengenai regulasi, pemasaran, komunikasi, serta kebutuhan pengguna.
Dengan pendekatan tersebut, hasil penelitian diharapkan memiliki jalur pengembangan yang lebih jelas dan peluang pemanfaatan yang lebih luas.
Ekosistem Infrastruktur
Sejalan dengan upaya mendorong riset agar menghasilkan manfaat nyata, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan bahwa Indonesia tengah membangun kapabilitas teknologi nasional secara menyeluruh, bukan sekadar menghasilkan beragam produk penelitian.
âPesan yang kami ingin sampaikan bahwa BRIN bukan hanya memiliki banyak produk, pesannya adalah bahwa Indonesia sedang membangun kapabilitas teknologi nasional untuk pangan, energi, kesehatan, air, pertahanan dan keamanan, lingkungan, industri, dan kualitas sumber daya manusia,â kata Arif.
Untuk memperkuat fondasi tersebut, Arif mengatakan BRIN telah menyiapkan ekosistem infrastruktur riset strategis yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
âBapak Presiden, BRIN membangun jaringan fasilitas riset strategis yang tersebar di seluruh Indonesia,â ujarnya.
Jaringan tersebut mencakup reaktor nuklir, observatorium yang disebut sebagai terbesar di Asia Tenggara, laboratorium genomik yang disebut terbaik di kawasan, serta pusat komputasi berkinerja tinggi yang masuk dalam daftar 500 teratas dunia.
Kapasitas riset itu juga didukung berbagai sarana pengujian tingkat lanjut yang mencakup teknologi pesawat, kereta api, roket, hingga rekayasa kemaritiman.
âInfrastruktur inilah yang menjadi fondasi agar Indonesia tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga mampu mengembangkan teknologinya sendiri,â kata Arif.
Sebagai salah satu contoh pemanfaatan kapabilitas teknologi nasional, Arif menyebut BRIN telah mengembangkan teknologi Metal Organic Framework (MOF) di sektor energi yang berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor gas alam.
âBerdasarkan perhitungan awal, teknologi ini mampu berpotensi menghemat hingga sekitar Rp26 triliun per tahun terhadap beban subsidi LPG,â ujarnya.
Penguatan hilirisasi riset dan pembangunan infrastruktur teknologi tersebut diharapkan dapat memperbesar kemampuan Indonesia dalam mengembangkan solusi berbasis ilmu pengetahuan, meningkatkan nilai tambah hasil penelitian, serta memperluas pemanfaatan inovasi untuk kebutuhan masyarakat dan industri.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.