Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tak Cukup Publikasi, Riset Indonesia Didorong Jadi Solusi Nyata

28 Rabu, 28 Okt 2026, 03:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Tak Cukup Publikasi, Riset Indonesia Didorong Jadi Solusi Nyata Tak Cukup Publikasi, Riset Indonesia Didorong Jadi Solusi Nyata Doc: Antara
Ket. Penutupan kegiatan Aptisi Executive Rector Leadership Academy (AERLA) Angkatan I yang digelar oleh Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) di Jakarta, Jumat (23/10).

Jakarta – Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Fauzan Adziman mendorong penguatan hilirisasi riset genomik dan bioteknologi agar menghasilkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi.

Fauzan menekankan pengembangan riset perlu dimulai dengan mengidentifikasi persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, industri, maupun pemerintah. Pendekatan berbasis masalah tersebut diharapkan membantu peneliti merancang solusi yang relevan dan berpotensi dikembangkan menjadi produk atau usaha berbasis teknologi.

“Riset tidak dapat berhenti pada publikasi ilmiah atau pengembangan prototipe. Diperlukan proses berkelanjutan yang menghubungkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pengembangan produk, pemenuhan regulasi, akses pasar, hingga komersialisasi,” katanya dalam keterangan di Jakarta, Selasa (27/10).

Menurut Fauzan, proses hilirisasi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar hasil penelitian dapat diadopsi dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Ia menyoroti potensi genomik, bioteknologi, dan bioinformatika untuk mendukung pengembangan inovasi di Indonesia. Dengan kekayaan biodiversitas yang dimiliki, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk mengembangkan solusi di bidang kesehatan, pangan, dan industri.

“Penguatan kapasitas sumber daya manusia serta pemanfaatan teknologi komputasi menjadi bagian penting untuk mempercepat pengembangan riset di bidang tersebut,” ujarnya.

Fauzan juga menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah dalam membangun ekosistem hilirisasi. Perguruan tinggi perlu memperkuat keterhubungan antara pendidikan, penelitian, dan pengembangan, sedangkan industri dan pemerintah dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan serta tantangan yang perlu dijawab melalui riset dan inovasi.

Selain itu, kolaborasi lintas disiplin diperlukan dalam proses komersialisasi. Pengembangan inovasi tidak hanya membutuhkan penguasaan sains dan teknologi, tetapi juga pemahaman mengenai regulasi, pemasaran, komunikasi, serta kebutuhan pengguna.

Dengan pendekatan tersebut, hasil penelitian diharapkan memiliki jalur pengembangan yang lebih jelas dan peluang pemanfaatan yang lebih luas.

Ekosistem Infrastruktur

Sejalan dengan upaya mendorong riset agar menghasilkan manfaat nyata, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan bahwa Indonesia tengah membangun kapabilitas teknologi nasional secara menyeluruh, bukan sekadar menghasilkan beragam produk penelitian.

“Pesan yang kami ingin sampaikan bahwa BRIN bukan hanya memiliki banyak produk, pesannya adalah bahwa Indonesia sedang membangun kapabilitas teknologi nasional untuk pangan, energi, kesehatan, air, pertahanan dan keamanan, lingkungan, industri, dan kualitas sumber daya manusia,” kata Arif.

Untuk memperkuat fondasi tersebut, Arif mengatakan BRIN telah menyiapkan ekosistem infrastruktur riset strategis yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

“Bapak Presiden, BRIN membangun jaringan fasilitas riset strategis yang tersebar di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Jaringan tersebut mencakup reaktor nuklir, observatorium yang disebut sebagai terbesar di Asia Tenggara, laboratorium genomik yang disebut terbaik di kawasan, serta pusat komputasi berkinerja tinggi yang masuk dalam daftar 500 teratas dunia.

Kapasitas riset itu juga didukung berbagai sarana pengujian tingkat lanjut yang mencakup teknologi pesawat, kereta api, roket, hingga rekayasa kemaritiman.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
Nasional
Tak Cukup Publikasi, Riset ...
Luar Negeri
Russia-Ukraina Berlakukan G...
Luar Negeri
Utusan Asean Kunjungi Myanm...
Rona
Warisan Leluhur Terancam ka...
Megapolitan
Pemprov Antisipasi Kegagala...
Megapolitan
Jaminan Kesehatan, Pengelol...
Advertisement
Ubah Sampah Jadi Berkah, Mahasiswa UNEJ Raih Penghargaan Nasional Berkat Inovasi Desa Nol Sampah

Ubah Sampah Jadi Berkah, Mahasiswa UNEJ Raih Penghargaan Nasional Berkat Inovasi Desa Nol Sampah

27 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.