Riset Canggih, Unikorn Ditunggu: Siapkah Ekosistem RI?

Rabu, 28 Okt 2026, 22:15 WIB

JAKARTA – Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Mohammad Fauzan Adziman menilai pengembangan teknologi berbasis riset membuka peluang lahirnya perusahaan rintisan berstatus unikorn di Indonesia.

Ia menyampaikan pandangan tersebut dalam diskusi panel Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Rabu (28/10), dengan mencontohkan perkembangan perusahaan rintisan teknologi mendalam di Eropa.

Ket. Foto: Ilustrasi - Pelajar mencoba fitur pembelajaran baru di program kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) Gemini Google, di Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ Fauzan.

"Di Eropa, perusahaan teknologi mendalam mencapai valuasi lebih dari satu miliar dolar AS (unikorn) dalam lima tahun tujuh bulan, atau dua tahun empat bulan lebih cepat," kata Fauzan.

Berdasarkan data PitchBook yang dirujuk McKinsey dan ditampilkan dalam paparannya, perusahaan rintisan teknologi mendalam di Eropa rata-rata membutuhkan lima tahun tujuh bulan untuk mencapai status unikorn, dibandingkan tujuh tahun 11 bulan bagi perusahaan rintisan teknologi konvensional.

Status unikorn merujuk pada perusahaan rintisan dengan valuasi sedikitnya satu miliar dolar AS atau sekitar Rp18,14 triliun.

Fauzan menjelaskan teknologi mendalam atau deep tech merupakan inovasi yang bertumpu pada penelitian ilmiah, memiliki keunggulan teknologi yang sulit ditiru, serta berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan usaha berskala besar.

"Teknologi mendalam memanfaatkan penelitian, sesuatu yang tidak mudah ditiru oleh industri lain, dan memiliki potensi untuk dikembangkan dalam skala besar," ujarnya.

Dalam paparannya, Fauzan menjelaskan keunggulan perusahaan teknologi mendalam antara lain berasal dari penguasaan kekayaan intelektual, teknologi yang sulit direplikasi, serta kemampuan menjawab kebutuhan jangka panjang.

Bidang yang berpotensi memanfaatkan pengembangan teknologi tersebut mencakup energi, pangan, dan kesehatan, yang membutuhkan inovasi untuk menjawab berbagai persoalan serta meningkatkan kemampuan industri.

Menurut Fauzan, peluang tersebut perlu diikuti penguatan kemampuan riset di Indonesia agar perusahaan tidak hanya bergantung pada teknologi yang sudah tersedia, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi sendiri.

"Di sinilah inovasi produk secara mandiri dan penelitian serta pengembangan bersama mulai berperan," ujar dia.

Ia menjelaskan pengembangan kemampuan industri perlu dilakukan secara bertahap, dari kegiatan produksi rutin dan penyesuaian teknologi menuju inovasi produk secara mandiri serta kerja sama penelitian dengan berbagai pihak.

Berdasarkan data pada 2022 dalam paparannya, porsi belanja penelitian dan pengembangan yang dilaksanakan sektor usaha di Indonesia tercatat sebesar 16,7 persen dari total belanja penelitian dan pengembangan nasional.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Taiwan sebesar 85,5 persen, Korea Selatan 79,4 persen, China 77,6 persen, dan Jepang 73,1 persen.

Fauzan menilai penguatan kegiatan riset di dunia usaha perlu disertai pengembangan sumber daya manusia, dukungan pembiayaan, dan kepercayaan investor agar hasil inovasi dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi.

"Kita perlu membangun dua hal dengan kuat, yaitu talenta, kemudian kepercayaan," katanya.

Menurut dia, kepercayaan menjadi faktor penting bagi perusahaan berbasis penelitian untuk memperoleh dukungan investasi, terutama ketika pengembangan teknologi membutuhkan waktu dan pembiayaan sebelum dapat dimanfaatkan secara komersial.

"Investor tidak takut pada risiko, tetapi mereka takut pada ketidakpastian," tutur Fauzan.

Dari sisi dukungan pemerintah, Kemdiktisaintek pada 8 Juli 2026 melaporkan telah mengucurkan pendanaan sekitar Rp454 miliar untuk lebih dari 1.070 judul penelitian aplikatif yang melibatkan kerja sama perguruan tinggi dan industri.

Kementerian tersebut juga membuka skema Hackathon Deeptech dengan fasilitas pendanaan hingga Rp1,5 miliar bagi perguruan tinggi penyelenggara untuk menjaring solusi teknologi atas persoalan nyata, antara lain di bidang semikonduktor, pangan, dan energi.

Sementara itu, melalui Program Katalisator Kemitraan Berdikari 2026, pemerintah mengembangkan tiga skema, yakni Mandala, SKALA+, dan Saintek Nusantara, untuk memperluas penerapan hasil penelitian sesuai kebutuhan masyarakat dan daerah.

Pada 27 Oktober 2026, Fauzan juga menekankan pentingnya hilirisasi riset genomik dan bioteknologi agar hasil penelitian dapat dikembangkan menjadi produk atau usaha berbasis teknologi di bidang kesehatan, pangan, dan industri.

Ia menilai kerja sama antara peneliti, perguruan tinggi, pelaku industri, dan investor diperlukan agar inovasi dapat menjawab kebutuhan pasar sekaligus memiliki peluang untuk dikembangkan secara lebih luas.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.