Status Pasar Modal RI Dipertanyakan, IHSG Hari Ini Terkoreksi

Jumat, 16 Okt 2026, 18:30 WIB

JAKARTA – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor menyusul langkah MSCI membuka konsultasi terkait perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia.

Kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi persepsi investor global terhadap pasar saham domestik, terutama terkait aksesibilitas, transparansi, dan aliran dana asing.

Ket. Foto: Ilustrasi - Petugas melintasi layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ Asprilla Dwi Adhaam

Ketidakpastian ini dapat mendorong investor mengurangi eksposur sambil menunggu kejelasan keputusan MSCI.

Jika tidak diantisipasi melalui pembenahan tata kelola dan peningkatan kredibilitas pasar, tekanan jual berisiko berlanjut serta menghambat upaya memulihkan kepercayaan investor.

IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (16/10) sore ditutup melemah 678,67 poin atau 11,57 persen ke posisi 5.185,11, disebabkan oleh sentimen pengumuman MSCI yang membuka konsultasi ke pelaku pasar terkait potensi menurunkan klasifikasi pasar modal Indonesia ke Standalone Market.

Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 81,53 poin atau 13,82 persen ke posisi 508,56.

“Pasar keuangan mengalami tekanan setelah potensi penurunan klasifikasi dari Emerging Market ke Standalone Market oleh MSCI. IHSG mengalami trading halt di sesi pembukaan perdagangan hari ini yang turun di atas 8 persen," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta.

Nico mengatakan, langkah tersebut diambil oleh MSCI menyusul kekhawatiran pelaku pasar global atas kelayakan investasi di pasar modal Indonesia, khususnya terkait isu transparansi kepemilikan saham dan indikasi praktik perdagangan yang terkoordinasi.

Pelaku pasar menilai bahwa hingga saat ini belum ada kemajuan yang cukup secara konsisten di seluruh pasar ekuitas Indonesia, termasuk dugaan masih adanya perilaku perdagangan yang terkoordinasi dan kurangnya bukti penegakan yang berarti.

Apabila diturunkan menjadi Standalone Market, Indonesia akan dikeluarkan dari indeks utama MSCI karena dinilai memiliki hambatan besar bagi investor asing.

MSCI menerima masukan dari pelaku pasar mengenai reklasifikasi pasar Indonesia tersebut sampai 30 April 2027, dan akan mengumumkan keputusannya pada atau sebelum 30 Juni 2027.

Sementara itu, bursa kawasan Asia bergerak menguat menyusul sesi positif di Wall Street, Amerika Serikat (AS) semalam karena aksi jual saham teknologi mereda dan juga imbal hasil obligasi treasury AS tenor 10 tahun turun meskipun imbal hasil masih di level tinggi namun di bawah 5,1 persen.

Di sisi lain, pelaku pasar terus mengevaluasi prospek kebijakan moneter The Fed, dengan data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Pelaku pasar saat ini memperkirakan sekitar 72 persen kemungkinan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan tidak berubah pada Oktober 2026. Selanjutnya, dalam Beige Book yang terbit bulan Oktober 2026 memberikan beragam gambaran mengenai perekonomian.

Di sisi lain, harga minyak yang masih tinggi kekhawatiran tentang inflasi dan kenaikan suku bunga. Pelaku pasar juga menantikan rilis sejumlah data ekonomi China, termasuk pertumbuhan PDB, yang akan dirilis minggu depan.

Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah bergerak di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, semua atau sebelas sektor terkoreksi dimana sektor barang baku turun paling dalam yaitu minus 13,26 persen, diikuti oleh sektor kesehatan dan sektor infrastruktur yang masing-masing minus 12,84 persen dan minus 12,87 persen.

Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu BSWD, ABDA, TRUK, CBPE, dan PTSP. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni APIC, BBKP, BELI, BFIN, dan BHIT.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2,11 juta kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 66,78 miliar lembar saham senilai Rp31,73 triliun. Sebanyak 11 saham naik, 812 saham menurun, dan 140 tidak bergerak nilainya

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 1,66 persen ke 65.496,00, indeks Hang Seng menguat 0,52 persen ke 24.186,83, indeks Shanghai menguat 0,24 persen ke 3.716,28, indeks Kospi naik 2,05 persen ke 5.668,05, dan indeks Strait Times naik 0,23 persen ke 5.416,07.

  • ihsg hari ini

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.