Restoran-restoran di Sardinia Italia Larang Pengunjung Main HP saat Makan

Rabu, 28 Okt 2026, 04:42 WIB

SARDINIA – Pemandangan keluarga duduk bersama di restoran, tetapi masing-masing sibuk menatap layar ponsel, membuat sejumlah pelaku usaha kuliner di Sardinia, Italia, mengambil langkah berbeda. Sebanyak 15 restoran sepakat melarang penggunaan ponsel dan perangkat elektronik lainnya di meja makan untuk menghidupkan kembali percakapan antara orang tua dan anak.

Program bertajuk A tavola senza schermi, yang berarti “Di meja tanpa layar”, ini menjadi upaya untuk mengurangi paparan layar berlebihan pada anak-anak sekaligus mengembalikan fungsi waktu makan sebagai momen kebersamaan keluarga.

Ket. Foto: Setelah menyerahkan perangkat elektronik, setiap keluarga akan menerima reunion kit atau “paket reuni”. Paket ini berisi permainan dan gambar yang dirancang untuk membantu anak-anak memulai percakapan dengan orang tua mereka. — Sumber: Istimewa

Dari The Guardian, inisiatif tersebut dipelopori Anna Cau, ombudsman anak untuk Sardinia. Uji coba selama satu bulan dijadwalkan dimulai pekan depan, dengan melibatkan 15 restoran yang secara sukarela bergabung.

Selama mengikuti program ini, orang tua dan anak-anak mereka diwajibkan menyimpan ponsel ketika bersantap di restoran peserta. Sebagai gantinya, pengelola menyediakan aktivitas yang dirancang untuk membuat anggota keluarga kembali berinteraksi tanpa bantuan layar.

Bukan sekadar meminta pengunjung mematikan ponsel, restoran-restoran tersebut juga menyiapkan cara alternatif agar anak-anak tidak merasa bosan selama menunggu makanan atau menemani orang tua berbincang.

Ponsel Ditukar “Paket Reuni”

Setelah menyerahkan perangkat elektronik, setiap keluarga akan menerima reunion kit atau “paket reuni”. Paket ini berisi permainan dan gambar yang dirancang untuk membantu anak-anak memulai percakapan dengan orang tua mereka.

Perangkat aktivitas tersebut disusun oleh federasi dokter anak Italia. Salah satu tujuannya adalah mendorong anak menceritakan pengalaman sehari-hari, termasuk berbagai hal yang mereka alami sepanjang hari.

Paket itu juga dilengkapi brosur mengenai risiko paparan digital berlebihan serta sejumlah kiat untuk mengelola penggunaan media sosial di lingkungan keluarga.

Anna Cau, mantan hakim pengadilan anak, mengatakan inisiatif tersebut tidak semata-mata dimaksudkan untuk memberlakukan larangan terhadap penggunaan perangkat digital.

“Ide ini bukan hanya mengandalkan larangan atau membebankan seluruh tanggung jawab kepada orang tua, tetapi juga memastikan lingkungan yang lebih luas mendukung peran mereka dan membantu anak-anak berintegrasi dengan orang lain,” ujarnya.

Menurut Cau, anak-anak dan orang tua membutuhkan lingkungan nyata yang memungkinkan mereka membangun hubungan sosial secara langsung. Karena itu, restoran dapat ikut berperan dalam menciptakan suasana yang mendukung interaksi keluarga.

“Inisiatif ini merupakan langkah kecil dalam filosofi yang lebih luas untuk menangani persoalan yang sangat kompleks ini,” katanya.

Permainan yang disediakan restoran pun dirancang agar tetap sesuai dengan suasana makan siang atau makan malam. Aktivitas tersebut memiliki batasan waktu sehingga tidak mengganggu pengalaman bersantap pengunjung.

Restoran Tak Ingin Meja Makan Jadi Tempat Sunyi

Program ini dikembangkan Cau bersama cabang Sardinia dari Fipe-Confcommercio, asosiasi yang menaungi sektor katering, pariwisata, dan hiburan di Italia.

Presiden Fipe-Confcommercio Sardinia, Emanuele Frongia, mengatakan 15 restoran yang diajak bergabung menerima gagasan tersebut dengan mudah. Ke depan, program ini berpeluang diperluas kepada lebih banyak tempat usaha yang bersedia berpartisipasi secara sukarela.

Frongia menilai restoran memiliki peran penting dalam menghidupkan kembali keakraban keluarga ketika mereka makan di luar rumah.

Namun, menurut dia, suasana makan bersama kini semakin sering diwarnai keheningan karena anggota keluarga lebih tertarik melihat layar perangkat masing-masing.

“Restoran memainkan peran penting dalam memupuk keintiman yang ditemukan kembali oleh keluarga saat mereka makan di luar,” kata Frongia.

Ia mengamati bahwa percakapan yang semestinya mewarnai waktu makan sering kali berganti menjadi keheningan berkepanjangan ketika pengunjung sibuk dengan perangkat elektronik.

“Sering kali seorang anak diberi perangkat tersebut agar tetap tenang,” ujarnya.

Kebiasaan memberikan ponsel kepada anak agar mereka tidak rewel memang dapat membuat orang tua lebih leluasa menikmati makanan. Namun, dalam jangka panjang, kebiasaan itu berisiko mengurangi kesempatan anak untuk berbicara, mendengarkan, dan belajar berinteraksi secara langsung dengan orang-orang di sekitarnya.

Melalui uji coba ini, Sardinia ingin menunjukkan bahwa mengurangi penggunaan ponsel tidak harus berhenti pada aturan di rumah. Lingkungan publik, termasuk restoran, juga dapat membantu keluarga membangun kebiasaan digital yang lebih sehat.

Jika program tersebut berjalan sesuai harapan, penyelenggara berencana memperluas penerapannya secara sukarela ke restoran-restoran lain di pulau tersebut.

Bagi keluarga yang berpartisipasi, tantangannya sederhana, tetapi tidak selalu mudah: menyimpan ponsel selama makan dan kembali melakukan sesuatu yang dahulu terasa biasa, yakni berbincang dengan orang-orang yang duduk semeja.

  • Italia

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.