Resmi! Wawrinka Gantung Raket, Ini Perjalanan 2 Dekade sang Raja Backhand Satu Tangan di Dunia Tenis
Rabu, 28 Okt 2026, 19:35 WIB | Oleh: Opik
Doc: X/atptour
JAKARTA - Petenis Swiss Stan Wawrinka mengakhiri karir profesionalnya dengan meninggalkan tiga gelar Grand Slam, 16 gelar turnamen level tur, serta warisan semangat juang dan kerendahan hati yang menginspirasi generasi berikutnya.
Petenis berusia 41 tahun itu menutup perjalanan karirnya di Swiss Indoors Basel setelah membukukan 590 kemenangan pada level tur dan pernah menduduki peringkat ketiga dunia.
"Sepanjang karir, yang saya inginkan hanyalah memberikan segalanya, tidak memiliki penyesalan, selalu berjuang, dan memberikan 100 persen dalam setiap pertandingan sebagai bentuk penghormatan kepada diri sendiri, lawan, turnamen, penggemar, dan semua orang," kata Wawrinka dikutip dari ATP, Rabu.
Wawrinka dikenal melalui pukulan backhand satu tangan yang khas serta kegigihannya menghadapi lawan-lawan terbaik dunia.
Menurut Wawrinka, hal terpenting dalam perjalanan lebih dari dua dekade di dunia tenis bukanlah bagaimana orang lain mengenangnya, melainkan usaha maksimal yang selalu diberikan dalam setiap pertandingan.
Salah satu pencapaian terbesar Wawrinka terjadi pada US Open 2016 ketika dia mengalahkan petenis Serbia Novak Djokovic dalam empat set pada final. Kemenangan itu menjadi gelar Grand Slam ketiganya sekaligus mempertegas kemampuannya menaklukkan pemain terbaik dunia dalam pertandingan besar.
Ketiga gelar Grand Slam Wawrinka, Australian Open 2014, French Open 2015, dan US Open 2016, seluruhnya diperoleh setelah mengalahkan petenis berstatus peringkat satu dunia pada partai final.
Wawrinka mengakui tekanan menjelang final US Open 2016 cukup besar. Namun, dukungan pelatihnya, Magnus Norman, membantunya menjaga konsentrasi dan tidak terlalu memikirkan hasil akhir pertandingan.
"Saya sangat gugup menjelang final. Magnus membantu saya melewati momen tersebut, tetap fokus pada pertandingan, dan tidak terlalu memikirkan hasil akhirnya," ujar Wawrinka.
Norman menilai Wawrinka bukan hanya petenis dengan kemampuan teknis luar biasa, tetapi juga sosok yang menghormati semua orang tanpa memandang kedudukan mereka.
Menurut Norman, sikap tersebut membuat Wawrinka disukai oleh rekan-rekannya di berbagai turnamen.
Pengaruh Wawrinka juga dirasakan petenis Italia Matteo Berrettini yang memperoleh dukungan saat menghadapi masa sulit akibat cedera dan performa yang tidak konsisten. Berrettini mengatakan pengalaman Wawrinka memberinya keyakinan bahwa petenis tetap dapat mencapai hasil baik meski memasuki usia 30-an.
Selain prestasi, Wawrinka juga meninggalkan pengaruh melalui pukulan backhand satu tangan yang semakin jarang digunakan pada level tertinggi.
Petenis Italia Lorenzo Musetti menganggap Wawrinka sebagai salah satu idolanya, sementara petenis muda Swiss Henry Bernet menyebut kesempatan berlatih bersama sang juara sebagai pengalaman berharga.
Bernet, juara tunggal putra junior Australian Open 2025, menilai Wawrinka memiliki kepedulian besar terhadap perkembangan pemain muda.
Wawrinka mencatatkan 12 kemenangan pada level tur setelah berusia 40 tahun sepanjang 2025-2026. Catatan tersebut menjadi bukti kegigihannya bertahan di tengah persaingan dengan petenis yang lebih muda. Ant
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!