Perundingan COP17 Buntu, Target Perlindungan 30 Persen Daratan dan Lautan Terancam

Selasa, 27 Okt 2026, 06:30 WIB

Yerevan – Perundingan krusial untuk menyelamatkan kesepakatan bersejarah tentang perlindungan alam memasuki tahap akhir di Armenia pada Senin (26/10), di tengah kebuntuan pembicaraan dan masih lebarnya perbedaan antarnegara menjelang tenggat waktu.

Hampir 200 negara berkumpul di Yerevan untuk memperbaiki arah pelaksanaan komitmen global menghentikan dan membalikkan kerusakan alam pada 2030, yang hingga kini masih tertinggal dari target.

Ket. Foto: KTT keanekaragaman hayati PBB di Armenia mengevaluasi kemajuan pelaksanaan komitmen global untuk melindungi alam yang disepakati pada 2022. — Sumber: AFP

Sebagian besar target dalam kesepakatan yang disebut sebagai “Perjanjian Paris untuk Alam” itu belum berada di jalur yang tepat. Target tersebut mencakup perlindungan 30 persen wilayah daratan dan lautan Bumi serta pengurangan belanja pemerintah yang merusak lingkungan.

Setelah sepekan menjalani perundingan alot, negara-negara peserta belum juga mendekati kesepakatan untuk menyelesaikan sejumlah persoalan utama, termasuk cara menutup kesenjangan pendanaan yang sangat besar guna memenuhi komitmen global perlindungan alam.

Para menteri pemerintah dijadwalkan tiba pada Selasa dalam pertemuan puncak keanekaragaman hayati COP untuk berupaya mencairkan kebuntuan. Tekanan semakin meningkat agar negara-negara mencapai kesepakatan yang kuat dan mengikat saat pertemuan tersebut berakhir pada Jumat.

Menteri Lingkungan Hidup Kanada Julie Dabrusin mengatakan terdapat “banyak niat baik” dalam pertemuan itu, tetapi “masih banyak kemajuan yang harus dicapai”.

“Dunia sedang mengawasi dan membutuhkan kita untuk bersatu serta melakukan kerja keras demi melindungi alam... Dan kita bisa melakukannya jika bekerja sama,” kata Dabrusin kepada AFP di Yerevan.

Presiden COP17 Hambardzum Matevosyan mengatakan dirinya berupaya “menjembatani perbedaan” dan memuji para perunding yang bekerja hingga larut malam dalam pertemuan tertutup.

“Sebagai politikus, saya harus mengatakan bahwa perundingan tidak pernah berjalan mulus... Selalu diperlukan dorongan,” kata Matevosyan, yang juga menjabat Menteri Lingkungan Hidup Armenia.

Dia mengatakan sejumlah kemajuan awal telah dicapai, dengan menunjuk pada pengesahan keputusan awal dan komitmen pendanaan ratusan juta dolar AS untuk perlindungan alam.

Merusak Bumi

Perundingan berlangsung “sedikit datar”, tetapi pemerintah dinilai mulai mencapai kemajuan di luar ruang perundingan, kata Anna Ducros dari International Institute for Environment and Development (IIED) kepada AFP di Yerevan.

Pada Senin, koalisi negara yang mencakup Prancis, Kolombia, dan Fiji berkomitmen melakukan reformasi besar terhadap berbagai insentif yang merusak alam. Persoalan tersebut menjadi salah satu isu paling sulit dalam agenda pertemuan.

Pemerintah di seluruh dunia masih menghabiskan sekitar 2,4 triliun dolar AS per tahun untuk menyubsidi industri, seperti bahan bakar fosil. Namun, kemajuan untuk memangkas dukungan terhadap sektor-sektor kuat tersebut masih minim.

Sementara itu, negara-negara Eropa memimpin upaya sulit untuk mendorong negara-negara berkembang berpendapatan tinggi, seperti Tiongkok, agar turut berkontribusi dalam pendanaan keanekaragaman hayati global.

Pertemuan puncak ini berlangsung dalam situasi yang penuh tantangan, ketika keuangan publik berada di bawah tekanan, anggaran bantuan dipangkas, dan perhatian politik terpusat pada perang serta krisis ekonomi.

Kepala Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) Inger Andersen mendesak para delegasi agar tetap “berfokus penuh, memprioritaskan upaya, dan menggunakan waktu yang tersisa secara efisien”.

Menteri Lingkungan Hidup Panama Juan Carlos Navarro mengatakan kepada AFP bahwa dirinya meragukan pertemuan tersebut akan menghasilkan banyak kemajuan.

“Iklim. Keanekaragaman hayati. Hilangnya habitat. Kita jelas tidak berada di jalur yang tepat... manusia sedang merusak Bumi, dan upaya kita masih jauh dari memadai,” katanya.

  • Kerusakan Alam
  • COP17

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.