Mourinho Beri Jawaban atas Tantangan Barcelona, Real Madrid Menangi El Clasico

Selasa, 27 Okt 2026, 00:03 WIB

BARCELONA — Real Madrid meraih kemenangan yang baru kedua kalinya dalam delapan pertemuan terakhir melawan Barcelona setelah menaklukkan rival abadinya itu dengan skor 2-1 dalam El Clasico, Senin (26/10) dini hari WIB. Kembalinya Jose Mourinho ke panggung rivalitas terbesar sepak bola Spanyol menjadi sorotan, sekaligus menghadirkan sinyal bahwa Los Blancos mampu menantang dominasi Barcelona di La Liga.

Hasil tersebut menjadi kontras dengan El Clasico pertama Mourinho pada periode pertamanya melatih Real Madrid. Saat itu, Barcelona menghancurkan tim asuhan Mourinho dengan skor telak 5-0 di Camp Nou.

Ket. Foto: Jose Mourinho. — Sumber: Goal

Kini, pada laga El Clasico pertama dalam periode keduanya bersama Madrid, Mourinho justru membawa timnya menang 2-1. Hasil ini menjadi indikasi awal bahwa pelatih asal Portugal tersebut memiliki pendekatan taktis untuk mengakhiri dominasi Barcelona di kompetisi domestik pada musim pertamanya kembali ke Spanyol.

Secara statistik, Barcelona memang unggul dalam sejumlah aspek. Tim tuan rumah mencatat lebih banyak tembakan ke gawang, penguasaan bola, serta jumlah operan. Namun, angka-angka tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan jalannya pertandingan.

Real Madrid tampil terorganisasi dan mampu menjawab tekanan Barcelona melalui permainan yang disiplin, efektif, serta penuh perhitungan.

“Para pemain menampilkan pertandingan yang luar biasa,” kata Mourinho dalam konferensi pers seusai laga.

“Mereka sangat terorganisasi, fokus, dan menunjukkan keberanian untuk memainkan bola dari belakang ketika menghadapi lawan yang memberikan tekanan sangat tinggi.”

Salah satu aspek yang menonjol dari penampilan Real Madrid adalah kemampuan mereka keluar dari tekanan Barcelona. Berkali-kali, para pemain Madrid mengalirkan bola dengan cepat dan akurat di area pertahanan sendiri untuk membongkar pressing lawan.

Federico Valverde menjadi salah satu pemain yang mendapat perhatian khusus dari Mourinho. Pelatih tersebut memuji sang gelandang Uruguay karena tetap tampil meski mengalami cedera.

Lebih dari itu, Valverde menunjukkan kecerdasan membaca permainan, terutama dalam mengidentifikasi ruang kosong ketika penguasaan bola berpindah tangan.

Menariknya, Valverde menjalankan peran tersebut dari posisi bek kanan. Padahal, pada September 2025, ia pernah menyatakan bahwa dirinya tidak dilahirkan untuk bermain sebagai bek sayap.

Valverde kemudian membantah bahwa dirinya enggan dimainkan di lini pertahanan. Meski demikian, sejumlah media Spanyol sempat menafsirkan pernyataannya sebagai indikasi ketidaknyamanan terhadap posisi tersebut, bahkan kemungkinan adanya perbedaan pandangan dengan pelatih Real Madrid saat itu, Xabi Alonso.

Dalam tiga pertandingan beruntun, Valverde dipercaya mengisi posisi bek kanan dan kembali menunjukkan performa impresif. Penampilannya dalam posisi yang bukan favoritnya memperlihatkan kemampuan Mourinho menemukan solusi taktis sekaligus membangun kepercayaan di ruang ganti.

Sebagai kapten, Valverde juga menunjukkan kepemimpinan yang dibutuhkan Madrid untuk menghadapi pertandingan dengan tekanan sebesar El Clasico.

Kemenangan di Camp Nou membawa Real Madrid meninggalkan markas Barcelona dengan selisih hanya tiga poin dari rivalnya tersebut. Mourinho menilai hasil itu memberikan ketenangan sekaligus menjadi ganjaran yang pantas atas kerja keras timnya.

“Saya pikir meninggalkan Camp Nou dengan selisih tiga poin dari Barcelona memberikan ketenangan pikiran kepada kami, dan itu memang pantas kami dapatkan,” ujarnya.

Kemenangan ini juga berpotensi meningkatkan kepercayaan diri serta memperkuat kebersamaan di dalam skuad Madrid. Lebih penting lagi, Mourinho kini memiliki bukti bahwa pendekatan taktisnya dapat membantu Los Blancos kembali bersaing di puncak sepak bola Spanyol.

Namun, Mourinho mengingatkan bahwa kemenangan dalam El Clasico tidak akan berarti banyak jika timnya gagal mempertahankan konsistensi pada pertandingan berikutnya.

“Jika kami menang hari ini, tetapi kalah di El Sardinero, semuanya tidak berarti apa-apa. Madrid tidak bermain hanya untuk menang di Camp Nou,” kata Mourinho.

“Mereka bermain untuk memenangi kejuaraan.”

Pernyataan tersebut menegaskan sasaran utama Mourinho: bukan sekadar mengalahkan Barcelona, melainkan membawa Real Madrid merebut gelar juara.

Dua kekalahan pada September sempat memunculkan keraguan terhadap rencananya. Namun, kemenangan dalam El Clasico memberikan jawaban awal bahwa Madrid di bawah Mourinho memiliki fondasi taktis dan mental untuk kembali menantang dominasi Barcelona di La Liga.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.