Macron Prihatin atas Terjadinya Kekerasan dalam Aksi Unjuk Rasa

Selasa, 27 Okt 2026, 02:30 WIB

MARSEILLE - Pemerintah Prancis pada Senin (26/10) berusaha untuk meredakan keadaan menyusul terjadinya aksi protes selama sepekan yang telah dirusak oleh kekerasan, dengan Presiden Emmanuel Macron pergi ke Kota Marseille dan perdana menteri untuk bertemu dengan para siswa yang menuntut kondisi sekolah yang lebih baik.

Prancis telah diguncang oleh kemarahan yang meluas atas meningkatnya biaya hidup, dengan aksi demonstrasi nasional pada 17 Oktober lalu yang kemudian memburuk dengan terjadinya beberapa kerusuhan.

Ket. Foto: Presiden Prancis, Emmanuel Macron (tengah), menjumpai pasukan polisi saat ia mengunjungi Kota Marseille pada Senin (26/10). Kunjungan Macron ke Marseille dimaksudkan untuk meredakan keadaan menyusul terjadinya aksi protes selama sepekan yang telah dirusak oleh kekerasan. — Sumber: AFP/AURELIEN MORISSARD

Demonstrasi telah terjadi pada saat yang kritis bagi Prancis, enam bulan menjelang pemilihan presiden untuk menggantikan Macron.

“Sosial media telah merusak demokrasi kita saat Prancis berupaya untuk mencegah terjadi aksi protes yang dikotori oleh aksi kekerasan di jalanan dan penjarahan,” ucap Presiden Macron pada Senin.

Macron menjelaskan bahwa saat aksi protes pada 17 Oktober lalu, sosial media telah disalahgunakan untuk mengajak kaum muda dan juga kaum tak muda untuk melakukan ski kriminal, penyerangan dan penjarahan. “Media sosial telah digunakan sebagai alat untuk menggerakkan aksi terburuk,” ucap Macron seraya menegaskan bahwa aksi protes yang terjadi pada 17 Oktober lalu tak akan terulang lagi mengingat dalam enam bulan mendatang akan digelar pilpres.

“Kami akan tetap menjaga keadaan. Jika kita semua bisa menjaga hal tersebut, maka aksi protes bisa dihindari dan tata tertib akan terus ditegakkan,” imbuh dia.

Pihak berwenang Prancis sebelumnya telah mengakui kegagalan dalam menjaga keamanan dan intelijen yang membuka jalan bagi terjadinya bentrokan, penjarahan besar-besaran dan vandalisme properti publik yang meletus pada 17 Oktober, dan berjanji untuk meningkatkan keamanan bagi rencana aksi protes pada hari Sabtu (31/10) mendatang.

Istana Kepresidenan Elysee mengatakan bahwa Presiden Macron mengunjungi balai kota di Marseille yang rusak dalam aksi protes yang diwarnai kekerasan pada 17 Oktober lalu.

“Ia juga dijadwalkan bertemu dengan pemilik toko yang menjadi korban penjarahan dan vandalisme,” kata Istana Elysee. “Presiden Macron juga akan memberikan penghormatan dan terima kasih kepada pasukan keamanan dalam negeri yang membantu memulihkan ketertiban republik," imbuh pihak kepresidenan.

Setelah aksi protes akhir pekan ini, banyak etalase toko di pusat kota itu masih ditutup pada Senin pagi, hanya beberapa jam sebelum kedatangan Macron.

“Kunjungan Macron dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa negara hadir, berdiri teguh dan memenuhi misinya untuk melindungi,” kata seorang ajudan presiden.

Protes Susulan

Menanggapi rencana aksi protes susulan pada akhir pekan mendatang, Presiden Macron memperingatkan bahwa gelombang aksi protes berikutnya akan sangat berisiko dan oleh karena itu ia menegaskan bahwa aksi protes akan digiring ke luar perkotaan untuk melindungi keamanan publik.

“(Aksi protes) Sabtu depan dipastikan bakal jadi hari berisiko lainnya,” ucap Presiden Macron.

Sementara itu menurut laporan dari Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez pada Senin, tercatat sebanyak 1.435 orang ditangkap dalam aksi protes akhir pekan lalu. "Hari ini situasi dapat dikendalikan dan tidak ada insiden serius," kata Nunez kepada penyiar BFMTV.

Kerusuhan terjadi menyusul aksi demonstrasi selama beberapa pekan oleh para siswa yang berkampanye untuk menyuarakan tuntutan kondisi belajar yang lebih baik. Tanggapan polisi terhadap demonstrasi mereka, termasuk blokade sekolah, telah dikritik sebagai tindakan keras dan memicu gerakan yang lebih luas menentang biaya hidup dan kekerasan polisi.

Sementara itu di Paris pada Senin, PM Sebastien Lecornu, bertemu dengan para pemimpin mahasiswa, dengan Menteri Pendidikan Nasional, Edouard Geffray, dan Menteri Pendidikan Tinggi, Philippe Baptiste, bergabung dengannya dalam pembicaraan tersebut. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.