• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Novel Kelu Angkat Konflik ...

Novel Kelu Angkat Konflik Bahasa dan Identitas Masyarakat Hong Kong

Senin, 26 Okt 2026, 19:07 WIB

JAKARTA — Penulis asal Hong Kong, Lau Yee-Wa, menyapa pembaca Indonesia melalui peluncuran novel Kelu, karya yang mengangkat persoalan bahasa, identitas budaya, dan tekanan sosial di Hong Kong. Novel yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) ini mulai tersedia di Indonesia pada 24 Oktober 2026.

Kehadiran Lau di Indonesia ditandai dengan dua agenda diskusi publik. Acara pertama berlangsung di Auditorium 1, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), pada 22 Oktober 2026. Diskusi kedua digelar di Creative Space Gramedia Jalma Melawai, Jakarta, pada 24 Oktober 2026.

Ket. Foto: Penulis Lau Yee-Wa saat memperkenalkan novel terbarunya yang berjudul Kelu dalam diskusi publik di Creative Space Gramedia Jalma Melawai, Jakarta, pada Sabtu (24/10/2026). Novel ini mengangkat konflik bahasa, identitas budaya, dan tekanan sosial di Hong Kong. — Sumber: Gramedia

Kedua acara tersebut membahas isu sastra, bahasa, dan identitas budaya yang menjadi tema utama novel Kelu. Melalui bedah buku dan dialog bersama akademisi serta penerjemah, diskusi menelusuri bagaimana bahasa dapat memengaruhi kehidupan sosial dan membentuk identitas seseorang.

Diskusi pertama bertajuk “Bedah Buku Kelu: Sastra, Bahasa, dan Isu Sosial Hong Kong” menghadirkan akademisi FIB UI, Dr. Rahadjeng Pulungsari, M.Hum., sebagai pemantik diskusi. Acara yang dimoderatori Dr. Minah Febriani Budianto, S.Hum., M.A., tersebut mengulas cara karya sastra merepresentasikan ketegangan sosial, kebijakan pendidikan, dan perubahan masyarakat Hong Kong melalui kisah para tokohnya.

Sementara itu, diskusi kedua mengangkat tema “Bahasa dan Identitas sebagai Persekusi”. Dalam sesi yang berlangsung di Gramedia Jalma Melawai, Lau Yee-Wa berdialog dengan Naomi Midori, penerjemah Kelu ke bahasa Indonesia, dengan Patricia Wulandari sebagai moderator.

Diskusi tersebut membahas bagaimana bahasa dapat menjadi alat penyeragaman sekaligus sumber tekanan bagi kelompok yang identitasnya terpinggirkan. Persoalan ini menjadi salah satu pokok cerita dalam novel Kelu, yang menggambarkan ketegangan antara kebijakan institusional dan identitas masyarakat Hong Kong.

Perubahan Bahasa Pengantar dan Identitas Hong Kong

Kelu merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari novel berjudul asli 失語, yang dalam bahasa Kanton dilafalkan sat jyu dan dalam bahasa Mandarin shīyǔ. Judul edisi bahasa Inggrisnya adalah Tongueless.

Novel debut Lau Yee-Wa ini mengisahkan dua guru bahasa, Wai dan Ling, yang menghadapi perubahan kebijakan bahasa pengantar di sekolah, dari bahasa Kanton ke bahasa Mandarin. Perubahan tersebut memicu konflik terkait identitas sebagai orang Hong Kong, hierarki bahasa, dan tekanan psikologis di lingkungan kerja.

Melalui pengalaman kedua tokohnya, novel ini memperlihatkan bahwa bahasa tidak sekadar menjadi alat komunikasi. Bahasa juga berkaitan dengan kekuasaan, standar sosial, dan cara seseorang memandang dirinya sendiri di tengah perubahan kebijakan dan tuntutan institusi.

Ketegangan itu tergambar dalam salah satu dialog di novel Kelu: “Kalau bicara tidak sesuai standar saja disebut cacat, maka sebagian besar orang Hong Kong cacat.” Kutipan tersebut menyoroti persoalan standar bahasa dan dampaknya terhadap masyarakat yang menggunakan bahasa sehari-hari berbeda dari bahasa yang dianggap lebih sesuai dengan tuntutan institusi. Selain persoalan bahasa dan identitas, novel ini juga menyinggung kondisi ekonomi serta dinamika sosial-politik Hong Kong.

Raih Penghargaan Internasional

Lau Yee-Wa merupakan penulis sekaligus pengajar penulisan kreatif bagi anak-anak dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Ia merupakan lulusan Chinese University of Hong Kong.

Salah satu cerpennya, The Shark, meraih Hong Kong Champion Award for Creative Writing in Chinese pada 2016. Novel debutnya, Kelu atau Tongueless, kemudian memperoleh sejumlah penghargaan internasional, termasuk English PEN Award 2024 dan Chommanard International Women’s Literary Award 2025.

Penerbitan Kelu dalam bahasa Indonesia memperkenalkan karya Lau kepada pembaca di Indonesia sekaligus membuka ruang pembahasan mengenai pengalaman masyarakat Hong Kong melalui sastra. Isu yang diangkat dalam novel tersebut juga menjadi bahan diskusi mengenai hubungan bahasa, identitas, dan perubahan sosial-budaya.

Melalui peluncuran buku dan rangkaian diskusi bersama penulis, penerjemah, serta akademisi, KPG berharap Kelu dapat mendorong dialog kritis di kalangan pencinta sastra dan masyarakat luas tentang peran bahasa dalam membentuk identitas serta merespons dinamika sosial kontemporer.

  • Universitas Indonesia
  • Novel
  • literasi
  • Identitas Budaya
  • Kelu
  • Lau Yee-Wa
  • Sastra Hong Kong
  • Novel Terjemahan
  • Kepustakaan Populer Gramedia
  • KPG
  • Bahasa dan Sastra
  • Buku Sastra
  • Naomi Midori

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.