Dosen USU Teliti Daun Bosi-bosi untuk Antikanker Payudara, Tanaman Ini Banyak di Tapanuli Utara
Senin, 26 Okt 2026, 15:53 WIB | Oleh: Sriyono
Doc: antara foto
MEDAN - Dosen Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Fauzan Lubis dan tim melakukan penelitian terhadap tanaman bosi-bosi yang kemungkinan memiliki khasiat antikanker payudara dari ekstrak tanaman tersebut.
Bosi-bosi (Timonius flavescens), adalah tanaman dari famili Rubiaceae yang tumbuh di perbukitan Tapanuli Utara, dimana daunnya secara turun-temurun direbus untuk diambil airnya, kemudian diminum untuk meredakan nyeri hingga membantu mengatasi penyakit yang dikenal masyarakat sebagai sakit gula atau diabetes mellitus.
"Berdasarkan studi literatur, para peneliti yang mengeksplorasi tanaman ini rata-rata berasal dari Sumatera Utara. Kebetulan saya di fakultas berfokus pada biologi farmasi dan tanaman obat, jadi ada keinginan kuat untuk mengeksplorasi tanaman khas ini. Dari situ kami mencoba mencari tahu apa khasiat lainnya, salah satunya eksplorasi terhadap kanker," kata Fauzan di Medan, Senin (26/10).
Penelitian dimulai pada 2023 dan didanai melalui skema Equity Project LPDP yang dikelola Universitas Sumatera Utara, bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Melalui riset tersebut, pengetahuan tradisional tentang bosi-bosi dipertemukan dengan teknologi laboratorium untuk mengidentifikasi, mengoptimalkan, dan menguji potensi senyawa yang terkandung di dalamnya. Tahap ini menentukan seberapa optimal senyawa yang diinginkan dapat dipisahkan dari bahan tumbuhan. Metode yang digunakan juga dapat mempengaruhi karakteristik ekstrak dan potensi pemanfaatannya.
Masyarakat umumnya mengenal bosi-bosi melalui cara sederhana: merebus daunnya dengan air. Tim peneliti USU mengambil pendekatan berbeda. Mereka menggunakan metode ekstraksi yang dirancang secara ilmiah dengan mempertimbangkan efektivitas proses sekaligus prinsip ramah lingkungan.
Salah satu pendekatan yang digunakan adalah Natural Deep Eutectic Solvent (Nades), yakni sistem pelarut yang dikembangkan dari kombinasi komponen tertentu. Nades dibuat dengan menggabungkan kolin klorida sebagai penerima ikatan hidrogen (hydrogen bond acceptor) dan D-glukosa sebagai pendonor ikatan hidrogen (hydrogen bond donor), kemudian dilarutkan bersama air.
Pendekatan itu sejalan dengan prinsip green chemistry atau kimia hijau, yang mendorong pengembangan proses kimia dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan.
Penggunaan Nades menjadi alternatif yang diteliti untuk menggantikan ketergantungan pada pelarut organik konvensional, seperti etanol atau metanol, yang memiliki pertimbangan tersendiri dari sisi keamanan dan lingkungan.
Untuk memperoleh komposisi pelarut yang optimal, tim menerapkan metode statistik Central Composite Design (CCD) berbasis Response Surface Methodology (RSM). Proses ekstraksi juga dipadukan dengan teknologi gelombang ultrasonik atau Ultrasound-Assisted Extraction (UAE).
“Kami tidak menggunakan metode rebusan seperti yang dilakukan masyarakat. Kami mencoba menggunakan pendekatan sains untuk mengoptimalkan potensi daun bosi-bosi. Melalui formulasi pelarut Nades yang tepat, senyawa polifenol dan flavonoid di dalam daun dapat ditarik secara jauh lebih optimal," katanya.
Keberhasilan formulasi ekstraksi kemudian ditelaah melalui karakterisasi menggunakan instrumen Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan Transmission Electron Microscope (TEM).
Hasil pengujian memperlihatkan interaksi ikatan hidrogen antara kolin klorida dan glukosa serta struktur sferis yang dilaporkan terbentuk dalam sistem ekstrak tersebut.
Tahap ini menjadi bagian penting sebelum ekstrak diuji lebih lanjut. Sebab, untuk memahami potensi tanaman obat, peneliti tidak cukup hanya mengetahui bahwa suatu tanaman mengandung senyawa tertentu. Karakteristik ekstrak, kandungan kimia, dan aktivitas biologisnya juga perlu diperiksa secara sistematis.
Setelah memperoleh ekstrak teroptimasi, tim melanjutkan penelitian untuk mengidentifikasi senyawa bioaktif yang terkandung di dalamnya. Analisis dilakukan menggunakan Liquid Chromatography-High Resolution Mass Spectrometry (LC-HRMS), dengan fasilitasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Melalui analisis tersebut, tim berhasil mengidentifikasi 13 senyawa bioaktif utama. Ekstrak yang dihasilkan juga menunjukkan aktivitas antioksidan yang tinggi. Pada konsentrasi 500 μg/mL, aktivitas penghambatan radikal bebas DPPH mencapai 89,32 persen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!