Bebaskan Indonesia dari Kebutaan, Kemenkes Patok Target Operasi Katarak Massal
Senin, 26 Okt 2026, 18:25 WIBJAKARTA -Â Kementerian Kesehatan menargetkan Cataract Surgical Rate (CSR) yakni rasio atau jumlah tindakan operasi katarak per satu juta penduduk dalam satu tahun mencapai minimal 3.000 tindakan secara nasional per 1.000.000 peserta BPJS Kesehatan.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan di Jakarta, Senin (26/10), bahwa penanggulangan gangguan penglihatan merupakan investasi krusial dalam meningkatkan Angka Harapan Hidup Sehat (Health-Adjusted Life Expectancy/HALE), yakni indikator lamanya seseorang dapat hidup tanpa kondisi kesehatan yang buruk atau disabilitas.
"Gangguan penglihatan, termasuk katarak, memang tidak memicu kematian secara langsung, tetapi sangat menentukan kualitas hidup seseorang. Pemerintah bersama Perdami berkomitmen mengurai antrean operasi katarak dan mengakselerasi pemerataan dokter spesialis mata hingga wilayah terpencil," ujar Dante.
Di Indonesia, katanya, seperlima kasus penyakit penyebab disabilitas bersumber dari gangguan penglihatan. Dalam era penuaan penduduk (aging population), gangguan penglihatan berdampak langsung pada produktivitas harian individu. Untuk mengatasinya, Kemenkes mendorong percepatan Peta Jalan Kesehatan Penglihatan Nasional melalui sejumlah sasaran strategis.
Pemerintah menargetkan minimal satu juta individu berisiko gangguan penglihatan dapat mendeteksi dini kesehatan matanya di fasilitas pelayanan kesehatan primer. Selain itu, cakupan operasi ditargetkan menjangkau 80 persen penderita katarak tingkat sedang hingga berat, dengan kepastian minimal 80 persen pasien pascaperoperasi memperoleh pemulihan tajam penglihatan yang baik.
Langkah ini diimbangi dengan perluasan layanan medis di tingkat dasar, termasuk pemanfaatan funduskopi atau oftalmoskopi, yaitu metode pemeriksaan bagian dalam mata (seperti retina dan pembuluh darah) untuk mendeteksi secara dini penyakit mata berat.
"Kalau semua dokter umum melakukan pemeriksaan funduskopi, kelainan mata akan makin banyak terlihat. Begitu pula jika semua dokter endokrin seperti saya melakukan funduskopi, retinopati diabetik (kerusakan pembuluh darah retina akibat komplikasi diabetes) akan makin banyak terdeteksi secara dini," katanya.
Senada, Ketua Pengurus Pusat Perdami, Prof Budu melaporkan bahwa selain katarak, kasus kebutaan di Indonesia kini makin kompleks. Di antaranya akibat meningkatnya gangguan refraksi seperti minus atau silinder, retinopati diabetik, degenerasi makula terkait usia yaitu kerusakan bagian tengah retina, hingga glaukoma atau kerusakan saraf mata akibat tekanan bola mata tinggi.
Menurut dia, perubahan pola hidup dan transisi Indonesia ke arah negara berkembang turut memicu pergeseran tren penyakit mata tersebut.
"Tentu katarak menjadi penyebab kebutaan tertinggi di dunia, dan bahkan Indonesia sudah mulai merangkak masuk ke level kedua kebutaan di dunia. Ini betul-betul harus kita antisipasi dengan baik," tandas Prof Budu.
Dia pun menyambut baik penguatan sinergi dengan Kementerian Kesehatan dalam mengatasi beban berat kesehatan mata nasional.
- kemenkes
- bpjs kesehatan
- operasi katarak
- perdami
- kebutaan di indonesia
Redaktur: alfred
Penulis: Alfred, Antara
Berita Terkait:
-
Timnas Indonesia Jalani FIFA Match Day di Luar Negeri
-
Festival Kontribusi Negeri Digagas Mata Garuda LPDP Melbourne, Ini Tujuannya
-
Hujan Lebat dan Banjir Melanda Nagoya Jepang, Satu Orang Tewas
-
Bandara Kualanamu Beroperasi Normal, meski 49 Penerbangan Dibatalkan akibat Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau
-
Polisi Selidiki Guru Sekolah Internasional Lecehkan Siswi di Tangsel
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.