- Home
-
- Luar Negeri
-
- Ilmuwan: Kebakaran Hutan B...
Ilmuwan: Kebakaran Hutan Bisa Picu Lonjakan Kanker Kepala dan Leher, Risiko Meningkat hingga 41 Persen
Minggu, 25 Okt 2026, 15:31 WIBCAMBRIDGE â Kebakaran hutan bukan hanya melahap pepohonan dan menghanguskan permukiman. Asap yang mengepul dari kobaran api juga menyimpan ancaman kesehatan yang dapat bertahan jauh setelah api padam. Sebuah penelitian terbaru memperingatkan, paparan polusi akibat kebakaran hutan berpotensi meningkatkan risiko kanker kepala dan leher.
Temuan para peneliti dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, ini menjadi perhatian di tengah meningkatnya kebakaran hutan yang berkaitan dengan suhu musim panas ekstrem di Inggris dan sejumlah wilayah Eropa sepanjang 2026.
Dikutip dari Daily Mail, Minggu (25/10), penelitian tersebut menemukan bahwa paparan polusi asap kebakaran hutan berkaitan dengan peningkatan risiko kanker kepala dan leher sebesar 6 persen. Pada kelompok yang terpapar polusi tersebut setiap tahun, peningkatan risiko yang dilaporkan mencapai 41 persen.
Partikel mikroskopis dalam asap menjadi sorotan
Ancaman tersebut berkaitan dengan PM2.5, yakni partikel polusi udara berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Asap kebakaran hutan mengandung campuran partikel dan senyawa berbahaya yang komposisinya bergantung pada material yang terbakar.
Partikel PM2.5 menjadi perhatian karena paparan polusi partikel halus telah dikaitkan dengan berbagai dampak kesehatan serius. Ketika kebakaran meluas, asapnya dapat terbawa angin dan menjangkau wilayah yang jauh dari titik api.
Artinya, ancaman kebakaran hutan tidak selalu berhenti pada kawasan yang terbakar. Penduduk di wilayah sekitar maupun daerah yang dilewati asap juga berpotensi mengalami paparan polusi.
Dalam konteks kanker kepala dan leher, penelitian tersebut menyoroti hubungan antara paparan asap kebakaran hutan dan peningkatan risiko penyakit. Meski demikian, temuan itu tidak berarti setiap orang yang menghirup asap akan terkena kanker.
Penelitian menggunakan data selama 16 tahun
Para peneliti Harvard menganalisis data selama 16 tahun mengenai kebakaran hutan dan kejadian kanker kepala dan leher.
Hasil penelitian itu diterbitkan dalam jurnal The Laryngoscope. Para peneliti menilai temuan tersebut memperkuat bukti yang terus berkembang mengenai dampak buruk polusi udara akibat kebakaran hutan terhadap kesehatan manusia.
Dalam artikel tersebut, mereka menyatakan, "Hasil ini memperkuat bukti yang semakin banyak yang menghubungkan polusi udara akibat kebakaran hutan dengan dampak buruk terhadap kesehatan dan menggarisbawahi perlunya penguatan regulasi untuk mengurangi dampak perubahan iklim."
Meski demikian, angka peningkatan risiko dalam penelitian perlu dipahami secara tepat. Kenaikan 6 persen maupun 41 persen merupakan peningkatan risiko yang dilaporkan, bukan berarti 6 atau 41 dari setiap 100 orang yang terpapar pasti akan menderita kanker. Besarnya risiko absolut seseorang juga dipengaruhi faktor lain, termasuk usia, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, serta kondisi kesehatan.
Ancaman yang melampaui musim kebakaran
Temuan ini menambah alasan untuk memperhatikan dampak kesehatan jangka panjang dari kebakaran hutan. Ketika suhu meningkat dan kondisi cuaca mendukung penyebaran api, kebakaran dapat menghasilkan polusi dalam jumlah besar yang menyebar melampaui batas geografis lokasi kejadian.
Upaya mengurangi risiko tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api, tetapi juga pencegahan kebakaran, pengendalian sumber polusi, pemantauan kualitas udara, dan perlindungan masyarakat saat asap menyebar.
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak dapat mengurangi paparan dengan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menutup celah masuknya asap, serta menggunakan penyaring udara atau masker yang sesuai jika diperlukan.
Pada akhirnya, kebakaran hutan menyisakan persoalan yang lebih panjang daripada kerusakan lingkungan yang terlihat. Ketika bara telah padam dan lanskap mulai pulih, partikel berbahaya yang terlepas ke udara masih dapat menjadi ancaman bagi kesehatan.
Penelitian Harvard tersebut menjadi pengingat bahwa dampak kebakaran hutan perlu dilihat bukan hanya dari luas lahan yang hangus, melainkan juga dari risiko kesehatan yang mungkin mengikuti masyarakat dalam jangka panjang.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.